Thursday, December 2, 2010

Di Balik Kesempurnaan Orang No.1 Indonesia


Review Buku Pak Beye dan Istananya
oleh
Silvanus Alvin (Jurnalistik 2009)


Judul Buku      : Pak Beye dan Istananya
Penulis             : Wisnu Nugroho
Penerbit           : Kompas
Harga             : Rp 40.800
Tebal               : 256 halaman

Tak ada manusia yang sempurna. Presiden pun manusia juga, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Wisnu Nugroho, penulis berbakat yang aktif menulis di kompasiana ini menceritakan kejadian-kejadian yang remeh-temeh dan di luar dari mainstream media yang ada. Pak Beye adalah sapaan yang dibuat oleh penulis agar kita memiliki kedekatan dengannya. Keseharian Pak Beye melakukan aktifitasnya di istana negara yang sering muncul di televisi, koran, atau majalah merupakan berita serius. Berita serius ini penting untuk disebarluaskan kepada publik. Namun, tidak hanya berita serius saja yang diliput oleh Wisnu tapi kejadian yang tidak menarik mata juga diliputnya dan di beri bumbu foto-foto yang memberi rasa agar menarik.
Dari tulisannya, hal ini membuktikan bahwa wartawan kadang-kadang bisa iseng juga. Dari masalah sepatu yang dipakai para petinggi negeri kita sampai mobil yang diperbolehkan masuk ke istana negara.
Cesare Paciotti, merupakan salah satu dari judul tulisan Wisnu yang sangat remeh-temeh dan kritis untuk dicermati. Judulnya diambil dari salah satu merek alas kaki yang terkenal, mahal dan pastinya bukan produk dalam negeri. Bermula dari acara buka puasa bersama para petinggi negara kita. Mereka membungkus alas kaki mereka dan menomorinya agar tidak tertukar. Hal ini guna menutupi merek alas kaki mereka yang ajaib. Seperti yang para masyarakat ketahui, para petinggi negara kita selalu meneriaki slogan “Cintailah Produk Dalam Negeri”. Pada kenyataannya, yang memberitahu pun tidak menjalankannya.
Tulisan lainnya, menceritakan mobil apa saja yang boleh masuk ke istana. Pernah mobil Kijang Inova yang dipakai oleh ketua KPK (saat itu) Taufiequrracman Ruki, kerap dicegat petugas Paspampres dan diperiksa cukup lama di pintu gerbang istana.. Selektif. Itulah kata yang tepat untuk menunjukan mobil apa yang diperbolehkan masuk ke istana negara. Karena parkiran istana negara sudah tidak ada beda dengan showroom-showroom mobil.
Suasana saat Pak Beye dan keluarga pindahan dari Istana Merdeka ke Istana Negara juga diceritakan dengan unik oleh penulis. Meski dua istana itu hanya berjarak sekitar seratus meter, tetap saja heboh. Sebagai gambaran, kasur Pak Beye yang superjumbo sampai harus digotong beramai-ramai.
Buku ini sangat menarik untuk dibaca. Cocok untuk kalangan mahasiswa. Bahasa yang digunakannya pun gampang untuk dimengerti. Hingga saat ini, hasil ratusan catatan ringan Wisnu di Kompasiana sudah dibaca  oleh sekitar 750.000 pengguna internet. Maka dari itu, tidak mengherankan bila bukunya pun diminati oleh banyak orang.

No comments:

Post a Comment