Thursday, December 8, 2011

Carnivaland: Charity for Kids


Carnivaland merupakan sebuah festival yang diadakan Ikatan Mahasiswa Komunikasi (I’M KOM) Universitas Multimedia Nusantara (UMN) untuk menyambut Fikom Night, yakni gathering Fakultas Ilmu Komunikasi UMN. Festival yang dimulai sejak tanggal 5 Desember 2011 ini bertujuan untuk menghimpun mahasiswa dari berbagai angkatan untuk saling mengenal dan merasakan suasana seperti berada di karnaval. Carnivaland meriahkan oleh atraksi sulap dari Magic Mania, dan diisi dengan berbagai permainan serta makanan khas karnaval.
Ajang tahunan Fikom Night ini telah memasuki tahun ketiga dan kali ini, Fikom Night 2011 berinovasi untuk berbagi keceriaan dengan anak-anak di Yayasan Cinta Rama Rama milik Andy F. Noya dan istri. Untuk diketahui, sebagian dari hasil penjualan tiket Carnival Night  telah disumbangkan ke taman bacaan yang berlokasi di BSD Serpong tersebut.
Sesuai tema acara, Carnival : Charity for Kids, Carnival menggambarkan sebuah festival dengan suasana penuh suka cita, beragam, berwarna, yang identik dengan masa kecil anak-anak yang sangat ceria dan berwarna. Sementara itu, Charity for Kids, diperuntukkan bagi anak-anak yang kurang beruntung dalam mengecap pendidikan. I’M KOM menjembatani aksi sosial ini dan mengajak seluruh mahasiswa, dosen, dan sponsorship ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini.
“Acara ini diselenggarakan untuk mengumpulkan dan mengakrabkan semua mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi dari seluruh angkatan,” ujar Ciseh Putera, Ketua Panitia Carnival Night. Ia berharap pada Carnival Night nanti, semua mahasiswa saling mengenal dan menjaga budaya kekeluargaan, dengan melepas perbedaan antar angkatan.
Carnival Night yang diselenggarakan pada 9 Desember 2011 ini akan dimeriahkan oleh grup band Boyz II Boys, kelompok musik perkusi Kandank Jurank Doank, sekaligus memperkenalkan I’M KOM Generasi II yang telah dilantik pada 1 Desember lalu.
Vicky Shidarta, Ketua I’M KOM Generasi I, berharap pada I’M KOM generasi selanjutnya dapat melanjutkan “tradisi” Fikom Night dengan lebih variatif. “Fikom Night bisa dilakukan di luar kampus agar tak hanya sekedar gathering, tapi juga sebagai malam keakraban antar mahasiswa. Kalau bisa free of charge agar makin banyak (mahasiswa) yang ikut,” tambahnya. (ris)

Thursday, October 6, 2011

Wartawan Foto

     Apa yang ada dibenak kalian ketika mendengar kata-kata di atas? Apakah seseorang dengan kamera DLSR ditangan, dan ransel besar dipunggungnya? Apakah tugasnya hanya memotret ?

    Pertanyaan mendasar itulah yang kerap difikirkan orang-orang awam. Memang ada benarnya, pewarta foto memang selalu berhubungan kamera dan kadang menggendong ransel besar berisi lensa dan peralatan pendukung lainnya. Namun ada yang tidak kalah penting dari itu, seperti kondisi fisik, wawasan, relasi dan konsep.

     Bulan Juli lalu, gue magang di Harian Kompas, tepatnya di Desk Metropolitan. Desk metropolitan adalah desk yang paling tidak bisa ditebak. Contoh saat liputan suatu acara di JCC, ternyata dapet info ada kebakaran di Tambora,  lantas gw langsung ke TKP dan motret di Tambora. Hal seperti itu yang menjadi “makanan” fotografer desk metro di media apapun.

     Setelah menyelesaikan magang di Kompas, gue melanjutkan di Harian WartaKota. Minggu awal gw magang disana, Redaktur Foto WartaKota, Alex Suban, sering memberikan masukan untuk teks foto dan sudut pemotretan. Masukan dan kritikan memang berguna, alhasil foto pertama gue dimuat dan berlanjut hingga hampir setiap hari foto jepretan gue dimuat di Wartakota atau Berita Kota. 

      Ada satu pengalaman yang pantas dibagi, waktu motret kedatangan Nazaruddin di Indonesia, gue nunggu doi dari jam 10 pagi sampai jam 1 pagi di KPK, itupun untuk 3 frame gambar yg disetor pada malam itu juga. So, dedikasi memang harus dimiliki seorang wartawan, kerja dengan tidak banyak mengeluh dan sesuai dengan deadline, adalah hal yang sangat dihargai.


       Kembali soal motret Nazar, waktu pemeriksaan awal di KPK, doi selalu nunduk, dan praktis gambar jadi jelek, karena ga keliatan sosoknya (mata). Ditambah kelopak mata atas sama bawah emang agak rapet jadi nunduk sedikit aja pasti keliatan merem, gimana menyiasatinya? Gw berinisiatif untuk motret dari low angle jadi matanya bisa keliatan.

DIPERIKSA KPK- Tersangka kasus dugaan suap wisma atlet, Muhammad Nazaruddin, tiba di Gedung KPK, Jakarta, Senin (22/8). Nazaruddin dimintai keterangan oleh Komite Etik KPK seputar tudingannya terhadap Wakil Pimpinan KPK, Chandra M Hamzah dan M Jasin.

       Intuisi, naluri, itu juga hal yang penting, gw punya satu pengalaman soal itu. Hari Selasa (27/9) siang, gw memutuskan untuk hunting buat desk metro, karena KPK dan Tipikor tidak ada ierita yang menarik (Kalah sama isu Bom Solo). Di Perjalanan gw lihat ada asap hitam mebumbung tinggi, gw kira orang bakar sampah, tapi kok gede banget, berhenti sebentar di daerah Setia Budi, gw celingak celinguk penasaran karena feeling gw ada kebakaran. Ga lama, terdengar sayup2 ada suara Branwir (Mobil Pemadam Kebakaran) ternyata benar, tuh mobil lewat, ga mikir lama gw langsung tancap gas dan ikutin Mobil Pemadam dari belakang. Ternyata kebakaran melanda daerah Benhil, Jakarta Pusat, alhasil gw juga jadi wartawan foto yang pertama dateng. 

RUMAH TERBAKAR- Sedikitnya 7 rumah dilahap si jago merah di Kelurahan Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (27/9). Kebakaran yang  diduga karena korsleting listrik ini, mendatangkan 26 mobil pemadam.

        Satu hal lagi yang harus digarisbawahi, bahwa caption(teks foto) menjadi kesatuan yang utuh dari fotojurnalistik, jangan segan bertanya walaupun jadi seorang wartawan foto. Kalo di Kompas, foto yang ga ada caption, langsung masuk “tong sampah”.  Jadi jangan lupa hakekat seorang waratawan, yaitu memberikan  informasi penting kepada masyarakat yang memerlukan.

       So bagi temen2 yang memang pengen jadi wartawan foto, semoga sedikit pengalaman gw tadi berguna bagi kalian. Salam.
RUMAH TERBAKAR- Sejumlah Petugas Pemadam Kebakaran Jakarta Pusat, dibantu warga, mencoba memadamkan api di Kelurahan Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (27/9). Dalam peristiwa ini, 7 rumah terbakar dan mendatangkan 26 mobil pemadam.




Paskalis Ludovicus
Jurnalistik 2008

Tak Kenal Maka Tak Sayang

    Kayaknya kita sering banget ga sih denger kalimat kayak gitu? Nah, saya mau share pengalaman saya saat berinteraksi dengan salah satu staff di UMN yang berhubungan sama kalimat tadi nih!

       Oiyaaa sebelumnya, ini semua semata hanyalah keinginan saya untuk berbagi, tanpa ada dorongan atau paksaan dari pihak-pihak tertentu (azeeeek!!)Jadi, seperti yang kita ketahui bersama, bahwa seseorang di kampus kita yang menjabat sebagai ketua BAAK, yaaah sebut sajalah nama nya Ibu Viani (saya kurang tahu bagaimana penulisan nama nya yang benar) adalah orang yang cukup tidak diminati oleh sebagian besar mahasiswa di kampus kita.  Banyaklah alasannya, yaa salah satu nya adalah Beliau kadang mempersulit kita dalam urusan absensi.  Saya juga sering denger dari teman-teman saya yang berbeda angkatan betapa Beliau sangat menyebalkan dan sangat menyulitkan dalam urusan absensi. 

     Hal tersebut membuat saya patah arang, mengingat selain menjadi mahasiswa, saya juga adalah seorang ibu rumah tangga, yang saat itu tengah hamil tua pula, sudah pasti saya akan berurusan dengan Beliau. Dan benar saja, setelah beberapa hari saya mengajukan surat ijin tidak masuk, Kaprodi saya meminta saya untuk datang ke kampus untuk menghadapi Bu Viani. Aaaaah beneraaan deh, malesss banget rasanya buat ke kampus lagi utk bertemu dengan Beliau. Saya sudah keburu parno dan pesimis mengingat pengalaman2 teman saya. Beberapa teman saya pun menyemangati saya.

        Singkat ceritaaaa *drum roll*

        Beliau sama sekali tidak mempersulit saya saudara-saudara. Justru sebaliknya. Beliau sangat membantu saya, dengan berusaha menghubungi dosen-dosen pengajar saya untuk memberikan tugas dan ujian susulan, bahkan Beliau juga mengatur jadwal ujian susulan. Beliau juga bilang kalau urusan surat-surat bisa menyusul dan bisa dikirim via fax. WOW!!!!


       Kemana Bu Viani yang katanya suka mempersulit mahasiswa ituu? Hahahahahas. Tapi beneran deh Beliau tuh sebenarnya baik, yaaa asal jelas aja kenapa ga masuk nya. Setelah saya melahirkan dan cukup beristirahat, saya kembali lagi ke kampus untuk ujian susulan, dan ketika bertemu Beliau, Beliau malah menyapa saya dengan ramah dan bertanya mengenai kabar saya dan anak saya. Hahahahs Sunggung saya sangat amazing saat itu. Karena saya sempat bolakbalik berurusan di kantor BAAK, jadi saya juga sempat melihat Beliau yg beberapa kali berurusan dengan mahasiswa lain yang terkena masalah yang kebanyakan adalah masalah absen, dan memang saya akui Beliau memang menyebalkan, karena menurut saya Beliau benar2 strict pada peraturan yang ada. Misalnya saat itu saya melihat ada mahasiswa yang protes kenapa dia tidak bisa mengikuti ujian, padahal menurut dia, dia selalu masuk kelas, bahkan sampai bawa dosen nya segala, tapi tetep aja loh ga dikasih, usut punya usut ternyata si anak itu, tanda tangan nya sempat berbeda, makanya Beliau menganggap si anak bolos dan nitip absen.

          Ada lagiii, si anak saat itu baru saja memberikan surat ijin sakit nya, padahal sakit nya udah dari kapan tau, dan Bu Viani ngotot pula harus jelas tanggal serta bulannya, yaaa gemana si anak ga jadi keki kan digituin. Tapi siiih yaaa kalau di liat2 terkadang tuh memang salah di anak juga sih. Yaaa nama nya kan juga kuliah yaaah, udah jadi mahasiswa jadi ya klo emang berniat ga masuk tapi tetep pengen dapet absen yaaa buru2 deh di urus, dan klo emang mau nitip tandatangan ya sadar diri aja jangan punya tandatangan yg susah ditiru.

    Oiya beberapa mahasiswa juga sempet protes mengenai kelengkapan surat2 dari rumah sakit, bahkan surat keterangan rawat inap aja gak cukup buat BAAK, mereka butuh sampai kwitansi rumah sakit, kwitansi obat, yaaah pokoknya seolah kayak mau di rembers gitu sama kampus, padahal sih enggak,buat bukti doang. Emang terkesan berlebihan sih, apalagi kalau si anak memang sudah terkapar lemah tak berdaya di brankar rumah sakit, sekaliii lagii hal itu dilakukan, karena mereka ga mau kecolongan aja, soalnya kan surat keterangan rawat inap, surat dokter sekarang udah bisa dibuat dimana saja dengan harga yang murah juga. 


         Yah buat teman2 yang masih berada disana dan akan sering berusan dengan Beliau ya sabar2 aja, sebenarnya Beliau itu baik kok asal kita nya emang bener. Dan yang paling bener adalah rajin masuk kuliah, jaga badan biar ga perlu sakit dan punya tanda tangan yang mudah ditiru. Belakangan Beliau juga sangat membantu dalam urusan transkrip nilai yang tak kunjung di tandatangani karena masalah yang sedikit lucu.

Segala sesuatu memang mesti dilihat lebih dekat sih kalau kata Sherina Munaf, dan kau akan mengerti.


Salam,


MamaSiswa











Izzy Tanasale, ILKOM 2007.

Wednesday, September 28, 2011

Belajar Menulis dengan Kerendahan Hati

             Pada tanggal 25 September 2011 kemarin, ada Workshop Jurnalistik yang bertempat di Ruang Rapat St. Petrus, Gereja Katolik Katedral, Jakarta Pusat. Semua peserta sudah berkumpul lalu menikmati santapan pagi sebelum Workshop dimulai. Workshop ini merupakan ide dari OMK atau Orang Muda Katolik Gereja Katolik Katedral. Berawal dari rapat bersama anggota Orang Muda Katolik Katedral, berbagai ide tentang kegiatan-kegiatan yang hendak mereka garap pun mencuat. 
Salah satu ide yang dianggap sangat menarik dan potensial untuk dikembangkan adalah membuat sebuah seminar tentang jurnalistik, lalu konsepnya semakin berkembang menjadi sebuah Workshop atau pelatihan menulis untuk semua orang muda Katolik, dan tidak tertutup hanya pada OMK Gereja Katedral, namun terbuka untuk umum.

                Acara dibuka dengan kata sambutan dari Ketua Panitia acara, yakni Sdr. Daniel Susanto. Dalam kata sambutannya, beliau mengaku bahwa acara workshop ini sudah disusun dan menjalani proses sejak bulan Mei 2011, dan akhirnya resmi diadakan pada bulan September 2011. “Workshop Jurnalistik ini bertujuan mengembangkan dan menambah pemahaman lebih tentang dunia tulis menulis, dunia kewartanan. Selain itu juga untuk memberikan gambaran bahwa seseorang yang menulis, atau jenis tulisan seseorang memiliki sesuatu yang bernilai yang sesuai dengan karakternya.”, ujar Daniel Susanto. Acara berikutnya adalah kata sambutan dari Romo Budi yang mengungkapkan bahwa sudah saatnya Orang Muda Katolik belajar untuk peduli terhadap segala bentuk komunikasi, tidak hanya social media seperti twitter dan facebook. Informasi penting seputar Gereja perlu ada sosialisasi dan campur tangan yang banyak dari semua pihak. “Zaman sekarang Gereja harus bias dinamis sehingga Gereja membutuhkan generasi muda untuk menjadi media bagi Gereja. Mengapa? Karena media komunikasi begitu dekat dengan hati kita, dan itulah cara terbaik untuk mendekatkan diri dengan umat.” Romo Budi pun menyatakan melalui workshop ini diharapkan dapat mempertajam insting jurnalistik Gereja.

              Pembicara pertama adalah Bapak Frans Sihol Siagian, beliau adalah mantan redaktur Majalah Hidup, dan kini menjadi pendiri Majalah Event Guide. Bapak Frans menyatakan bahwa profesi menulis adalah profesi yang sangat membanggakan. Mengapa demikian? Salah satu alasannya adalah dengan menjadi penulis, seseorang tidak akan pernah pensiun. Beliau memulai workshop dari materi dasar Jurnalistik dan Dasar-Dasar Reportase. Beliau menyatakan bahwa formula terpenting yang harus diingat bagi seorang wartawan adalah 5W+1H serta beberapa tambahan sesuai yang dinyatakan oleh wartawan senior Kompas. Maria Hartiningsih bahwa dalam sebuah Jurnalisme Investigasi memerlukan So What? Yang mengkaji dampak, S atau Solution untuk mencari solusi dan tidak hanya menjadi pengobral berita dan fakta akan masalah, serta C atau Common Ground yang digunakan dalam Jurnalisme Damai. Dua jam berlalu dengan meriah dan suasana santai bersama Pak Frans Sihol, beliau pun menutup sesi dengan sebuah tugas dimana semua peserta wajib mencari berita di sekitar Katedral.

            Sesi berikutnya sesudah makan siang adalah sesi Menulis Feature atau Soft News bersama Ayu Utami, seorang wartawan sekaligus novelis yang terkemuka dengan karya-karyanya yakni Parasit Lajang, Saman, dan Larung. Wanita cantik lulusan Sastra Rusia Universitas Indonesia ini membawakan sesi kedua dengan sangat menarik, hal ini dikarenakan antusiasme yang besar dari para peserta mengingat beliau merupakan salah satu penulis ternama di Indonesia. Ayu Utami mengakui bahwa Alkitab berperan penting dalam cara ia menulis. Wanita yang merupakan pendiri Komunitas Utan Kayu ini menyatakan bahwa Santo Paulus adalah guru menulis-nya, lalu Goenawan Muhammad. Ayu Utami menjelaskan secara runtut mengenai kriteria penulisan Feature, dan sikap sebagai seorang penulis bahwa harus selalu berada di tengah atau diantara dua konsep yang bertentangan, bukan memihak salah satunya. 
“Tidak semua hal bisa dipercaya ketika kita menjadi penulis, harus ada keraguan. Menjadi penulis harus siap berada di tengah ribuan masalah di sekitar kita, dan kita tidak bisa mengacuhkannya begitu saja,” ungkap Ayu Utami.
 Di akhir sesi, Ayu Utami berpesan agar janganlah kita menjadi penulis yang 'asik sendiri' atau 'narsis'. Penulis harus menjadikan sebuah tulisan itu bermakna, atau berdaging dan konkret, bukan sekedar konsep yang abstrak lagi. Oleh sebab itu, kita wajib menjadi penulis yang selalu mengingat kerendahan hati.


oleh : Gloria Fransiska Katharina 
Fakultas Ilmu Komunikasi 2010

Sunday, September 25, 2011

Account Executive Warta Kota, Selalu Ceria, Kompak dan Kekeluargaan Walaupun Dikejar Target Jutaan

         Pengalaman Magang/ Kerja Libur
oleh : Patricia Vicka, Public Relation 2008


          Liburan semester ini, gue kerja di Warta Kota, Kompas menjadi Account Executive(AE).  Saat pertama kali masuk menjadi AE, gue sempat takut dan grogi karena kurang mengerti apa itu AE beserta tugas-tugasnya. Tetapi berjalannya waktu, banyak senior  AE yang membantu dan membimbing gue sehingga dua minggu kemudian gue sudah mengerti dan mulai bisa menjalankan tugas-tugas AE.

        Job desk AE itu adalah mencari uang agar roda produksi Koran tetap berjalan semestinya dengan cara menawarkan space iklan kepada perusahaan-perusahaan. Tiap AE memegang bidang-bidang tertentu seperti bidang Retail, Properti, Entertain, Farmasi dll. Satu AE biasanya memegang 2 atau 3 bidang. Tak hanya menawarkan space, para AE terkadang menjadi konsultan perusahaan saat membuat iklan karena AE sendiri terkadang harus membuat iklan advertorial perusahaan.

         Tugas AE itu simple, tetapi targetnyalah yang sulit dan berat karena  tiap bulan, sang Manager menargetkan omset penjualan space iklan satu orang AE per bidang  adalah puluhan juta rupiah sampai ratusan juta rupiah. Itulah sebabnya para AE terlihat stress menjelang akhir bulan.
Tapi target gila itu tidak membuat para AE menjadi stress dan mengeluh. Mereka saling membantu dan kerjasama untuk dapat memenuhi target. Di antara para AE Warta Kota gaada kata Jaim dan senioritas. Justru mereka saling main cela-celaan dan saling ngebanyol sehingga membuat suasana menjadi ceria dan fun.
Manager gue saja kocak dan ga jaim. Kalau kekantor, pakai baju santai, Cuma kaos dan celana panjang.  Ngobrol sama anak buahnya pake gue, elo. Terus kalau ketawa, suaranya kenceng banget sampe terdengar ke seluruh ruangan.  Supervisor gw lebih gokil lagi. Dia sering membuat semua AE tertawa ngakak kerena  sering bertingkah laku “bodoh”, suka ngelawak, suka meledek Ae yang lain dan sering ngumpetin sepatu AE lainnya. AE-AE memanggil dia dengan sebutan Bangbro.

         Minggu pertama gue jadi AE, sang ibu Manager mengenalkan gue pada seisi ruangan lalu dia menyuruh gue untuk memahami dan menghafalkan  product knowledge. Minggu berikutnya gue diajak pergi meeting ke klien-klien bersama Bangbro. Ada sepuluh perusahaan dan advertising agency yang sudah gue datangi seperti XL, Nexian, Alfa Mart, bank BTN, bank DKI, JC&K, Maestro, PT KAI, Densu, Inisiatif dll. Setiap rapat dengan klien, gue pasti akan mendapat ilmu baru mengenai branding dan pemasaran karena klien-klien gue adalah PR atau Marcom dari perusahaan itu.
Dan pada minggu keempat, Bangbro memberi  gue tugas untuk mempromosikan tabloid TAMU (Warta Kota Muda). TAMU adalah Tabloid khusus untuk anak SMA. Mulailah petualangan gue menjelajahi sekolah di JABODETABEK. Ada 20 sekolah yang sudah gue datangi dan ajak kerja sama seperti sekolah Kanisius, BPK Penabur 1, SMAN 78, SMA Al Azhar, SMAN 68 dll. Di akhir bulan gue berhasil melakukan kerja sama dengan SMA Sang Timur untuk mengadakan event workshop fotografi di acara Sangtimur Cup yang diadakan pada bulan Oktober mendatang.

          Asyiknya kerja jadi AE di Warta Kota adalah suasana kerjanya yang  ga kaku, ga jaim, ceria dan fun. Tiap pagi hari sebelum berangkat ke klien, suasana kantor pasti ramai dengan celotehan dan tawa para AE. Mereka saling meledek dan ngelawak. Gue sering tertawa terbahak-bahak sampai keluar air mata mendengar banyolan mereka. Maklum, mereka masih pada muda, umur mereka kebanyakan 22 tahun sampai 30 tahun jadi becandaannya masih nyambung sama gue.

          Siang hari suasana kantor sedikit kosong karena para AE pergi meeting dengan klien. Dan sering terdengar lagu-lagu dangdut atau rock atau clubbing mengalun dari komputer para AE. Sore hari, suasana kantor menjadi ramai kembali karena para AE itu sudah balik dari klien. Mereka biasanya saling sharing dan bercerita hasil meeting ke Bangbro. Atau berkumpul sedekar ngerumpi, arisan dan isengin AE lainnya.
Kekompakkan dan kekeluargaan tidak hanya terjadi di dalam kantor, tapi juga di luar kantor. Saat makan siang, kami sering janjian makan bersama. Atau selepas pulang kantor kami suka janjian nonton bareng atau sekedar nongkrong-nongkrong melepas penat.

           Walaupun terlihat santai dan fun, tetapi target penjualan space iklan cukup tinggi, sekitar 5 M untuk satu bulan. Para AE itu harus berjuang mati-matian untuk mencapai target 5 M itu. Tak heran lewat  jam kantor, masih banyak AE yang ‘ngetem’ di dalam kantor dan lembur berhari-hari. Hampir semua AE di warta Kota adalah typical orang yang gila kerja. Di akhir bulan, kerja keras itu tidak sia-sia karena target selalu bisa tercapai.

              Itulah sedikit sharing dari gue bekerja libur di Warta Kota. Tak hanya pengalaman dan ilmu yang gue dapat, tetapi juga keluarga dan teman-teman baru yang kompak dan saling mendukung. Buat teman-teman/ adik-adik kelas yang belum merasakan kerja libur, gue amat menyarankan agar liburan tahun depan dapat kalian manfaatkan untuk mencari ilmu dengan cara kerja libur.







Thursday, August 11, 2011

AC Milan Glories vs Indonesia All Star Legends


Lisensi pertandingan ini dipegang oleh ASD


JAKARTA - Setelah kedatangan Cesc Fabregas, Giovanni van Bronckhorst, dan Rio Ferdinand, kali ini suporter Indonesia akan dimanjakan oleh kedatangan tim senior AC Milan. Bagi teman-teman penggemar klub yang berjuluk I Rossoneri atau Si Merah Hitam ini, datang dan saksikan pertandingan amal antara pemain-pemain senior Milan melawan para pemain legendaris tim nasional Indonesia. Pertandingan bertajuk Milan Glorie akan digelar pada 4 September 2011 pukul 13.30 WIB.
Tim AC Milan Glories akan diisi oleh eks bintang-bintang Milan seperti Alessandro Costacurta, Christian Panucci, Cafu, Serginho, Nelson Dida, Giuseppe Favalli, Franco Baresi George Weah, Daniele Massaro dan lain-lain. Sedangkan Hendro Kartiko, Ponaryo Astaman, Bima Sakti, dan Widodo C. Putro adalah nama-nama yang akan memperkuat Indonesia All Star Legends dari 19 pemain yang terpilih. Eks pemain Timnas Indonesia ini akan diarsiteki oleh Benny Dollo.
Pertandingan ini termasuk ke dalam program Asia Disaster Relief Tour 2011. Program dimulai di Osaka 31 Agustus dan dilanjutkan di Jakarta empat hari berselang. Sebagian dari hasil penjualan tiket pertandingan ini akan disumabangkan melalui organisasi Nahdlatul Ulama. Selain itu, AC Milan Foundation juga akan menyumbangkan dana tambahan sebesar 50 ribu dollar AS.
Tiket pertandingan sudah tersedia mulai Rabu (3/8) dan dijual secara on-line melalui tiku.co.id, rajakarcis.com, ibudibjo.com, dan plasa.com, serta melayani pula penjualan langsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK). Tiket mulai Kategori III dijual seharga Rp 50.000 rupiah, sedangkan termahal VVIP seharga Rp 2.000.000 rupiah.
Untuk teman-teman yang ingin bergabung dalam membuat koreo dan tarian khusus di tribun stadion bersama Milanisti Indonesia (MI), official supporter AC Milan, dapat membeli tiket untuk kategori I seharga Rp 150.000 rupiah. Tiket ini bisa didapatkan di IBM Hanggar Futsal, Pancoran, homebase Milanisti Indonesia. Sedangkan bagi teman-teman yang sudah menjadi member MI, dapat menikmati harga khusus yakni Rp 120.000 rupiah untuk tiket kategori ini.
Teman-teman yang berdomisili di Tangerang tak perlu khawatir, karena Milanisti Indonesia Basis Tangerang (MILITAN) akan membantu mengakomodir penjualan tiket dan transportasi penonton dari Tangerang. Follow twitter MILITAN @MI_Tangerang untuk informasi contact person-nya dan ikuti perkembangan berita kedatangan tim kesayangan kalian di @MilanistiOrId.
Pastikan liburan kalian kali ini menjadi liburan yang menyenangkan. Bagi yang merayakan Idul Fitri, bisa memanfaatkan momen ini untuk berkumpul bersama keluarga dalam suasana yang tak biasa. Happy holiday guys! (risa/persma)