Tuesday, February 22, 2011

Perbedaan Hard News dan Soft News

   
             Ada dua tipe dalam penulisan jurnalistik, yaitu hard news dan soft news. Kedua tipe tersebut memiliki ciri khas masing-masing. Berikut adalah ciri-ciri dari masing-masing jenis penulisan yang membedakan keduanya.

             Hard news, adalah berita penting yang harus disampaikan langsung ke publik. Berita jenis ini tidak bisa ditunda pemberitaanya karena akan cepat basi. Kadang penulisan berita macam ini juga disebut breaking news, spot news, atau straight news.

              Ada beberapa ciri-ciri khas dari Hard news. Pertama, mementingkan aktualitas. Definisi dari aktual adalah sedang menjadi pembicaraan orang banyak atau peristiwa yang baru saja terjadi. Kita ambil contoh, misalnya judul berita: Intelijen Korea Bantah Curi Data Delegasi RI, merupakan berita tanggal 21 Februari 2011, apakah berita macam ini masih punya nilai berita jika tidak disajikan pada hari itu juga? Tentu saja tidak. Berita seperti ini akan cepat kehilangan nilai jualnya. Karenanya, berita hard news sangat mementingkan aktualitas.

         Ciri yang kedua adalah memakai sistem piramida terbalik dalam penulisan berita. Artikel berbentuk berita ini memiliki struktur unik, yaitu inti informasi ditulis pada alinea awal (disebut sebagai "lead”) dan data-data penting menyusul pada alinea-alinea selanjutnya, lalu penjelasan tambahan, dan diakhiri dengan informasi lain yang bukan bersifat informasi utama. Inilah yang disebut sebagai piramida terbalik.

          Bagi pembaca sebuah artikel, piramida terbalik memudahkannya menangkap inti cerita, sebab informasi yang paling pokok langsung dibeberkan sejak alinea-alinea awal. Sementara bagi redaktur di meja redaksi, piramida terbalik juga memberi keuntungan. Yaitu ketika sebuah artikel harus diperpendek karena kolom terbatas sementara waktu sudah mepet, maka redaktur tinggal memotong bagian bawah. Kalimat-kalimat yang dibuang itu tidak akan mengurangi makna artikel, asalkan ditulis dalam bentuk piramida terbalik.

               Agar tercipta hard news yang baik maka lead harus baik pula. Lead yang baik harus memenuhi satu syarat, yaitu pemakaian 5W + 1H, Singkatan dari “what, who, when, where, why, how,” yang dalam bahasa Indonesia menjadi “apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, bagaimana.” Semua unsur inilah yang harus terkandung dalam sebuah hard news. Contoh lead yang diambil dari vivanews.com :  Intelijen Korea Bantah Curi Data Delegasi RI -- Kamar VIP di Lotte Hotel, tempat delegasi Indonesia menginap selama di Seoul, Korea Selatan, disantroni penyusup. Tiga orang mencurigakan -- dua laki-laki dan seorang perempuan mencuri data dari laptop menggunakan USB. Para pelaku kabur saat kepergok salah satu staf dari Indonesia. 


        Ciri yang ketiga adalah kelengakapan dari isi beritanya. Lengkapnya sebuah hard news, bisa dipenuhi apabila pemakaian 5W + 1H sudah diterapkan. 5W+1H adalah unsur berita dan harus ada. Bayangkan, jika salah satu unsur dari enam unsur tersebut tidak ada. Pasti berita tersebut sarat akan informasinya sehingga tidak ada kelengkapan.


        Ciri yang keempat adalah untuk memberi informasi. Sebagai jendela, agar para pembaca yang tidak tahu menjadi tahu. jika mengambil contoh berita dari vivanews.com, kita tidak akan tahu apakah ada data rahasia yang dicuri oleh intelejen korea? Lewat hard news, fungsi memberi info sangat diprioritaskan.
      
  Ciri yang kelima adalah panjang dari hard news 100-200 kata. Tidak perlu panjang-panjang karena fungsinya memberi info yang aktual dan memenuhi unsur 5W+1H.



Beralih ke soft news. Berita soft news adalah berita yang dari segi struktur penulisan relatif lebih luwes, dan dari segi isi tidak terlalu berat. Soft news umumnya tidak terlalu lugas, tidak kaku, atau ketat, khususnya dalam soal waktunya. Misalnya: tulisan untuk menggambarkan kesulitan yang dihadapi rakyat kecil akibat krisis ekonomi akhir-akhir ini. Selama krisis ekonomi ini masih berlanjut, berita itu bisa diturunkan kapan saja. Atau tulisan tentang artis Meriam Bellina, yang punya hobi baru mengkoleksi pot bunga antik. Biasanya lebih banyak mengangkat aspek kemanusiaan (human interest).

Dari segi bentuknya, soft news masih bisa kita perinci lagi menjadi dua: news feature dan feature. Feature adalah sejenis tulisan khas yang berbentuk luwes, tahan waktu, menarik, strukturnya tidak kaku, dan biasanya mengangkat aspek kemanusiaan. Panjang tulisan feature bervariasi dan boleh ditulis seberapa panjang pun, sejauh masih menarik. Misalnya, feature tentang kehidupan sehari-hari nelayan di Marunda. Sedangkan news feature adalah feature yang mengandung unsur berita. Misalnya, tulisan yang menggambarkan peristiwa penangkapan seorang pencuri oleh polisi, yang diawali dengan kejar-kejaran, tertangkap, lepas lagi, dan semua liku-liku proses penangkapan itu disajikan secara seru, menarik, dan dramatis, seperti kita menonton film saja. 




 source : jejak-berita.blogspot.com/2009/03/perbedaan-hard-news-dan-softnews.html





Silvanus Alvin, Jurnalistik 2009

Kupu-Kupu Malam


Angin memang tak terkalahkan saat berlari
Namun batu dapat terkalahkan saat diam
Salah dan benar menjadi satu adukan kebulatan dunia.
Mungkin ada yang tertawa menjalankannya, tapi ada yang malu mengakuinya.
Cinta atau nista?
Senyummu bukan tawamu
Tangismu bukan sedihmu..
Memang indah dunia ini saat siang, tapi suram dunia ini saat malam.
Kau bercermin, tampak sesosok penzinah
Kau berlari, tampak segerombol orang mengikuti
Zinahmu adalah hidupmu..
Entah bangga atau malu, untuk mengakui bahwa kau adalah ‘pahlawan hina’



-Antonius Hermanto-

Kunjungan Kelas Jurnalistik 2008 ke SCTV

oleh : Putra Ananda







Nama Besar Untuk Kemajuan, atau Sekedar Daya Tarik ?

Sebuah institusi baru membutuhkan daya tarik untuk menaikkan namanya ke permukaan. Hal ini lumrah dilakukan sebagai  batu loncatan awal dalam pembentukan corporate sustainability. Seperti halnya Universitas Multimedia Nusantara, sebuah universitas baru yang dibentuk oleh salah satu raksasa media di Indonesia, yang menarik calon mahasiswa melalui banyak promosi seperti pembangunan gedung universitas dengan luas lahan 8 ha, teknologi yang berbasis ICT, hingga mengangkat Yohanes Surya sebagai rektor.
Yang ingin dibahas di sini adalah apakah Prof. Yohanes Surya yang ditunjuk sebagai rektor pertama di UMN murni untuk memajukan sebuah lembaga pendidikan atau hanya sekadar kepentingan entitas bisnis semata? 

                Reputasi Prof. Yohanes Surya tidak perlu dipertanyakan lagi. Dia adalah guru besar bidang ilmu pengetahuan, khususnya ilmu fisika dan matematika. Berbagai prestasinya sudah diakui bahkan sampai ke taraf internasional. Bisa dibayangkan betapa besar daya tarik universitas yang dipimpin oleh beliau. Menurut data yang didapat, UMN mengalami peningkatan yang signifikan dilihat dari jumlah mahasiswa yang diterima dari tahun ke tahun. Tahun pertama yang hanya sekitar 200 orang, dibandingkan di tahun 2010 yang mencapai 1200 orang.  Kemajuan yang luar biasa bagi sebuah universitas yang baru berdiri sejak tahun 2005.

                Wafi, salah satu mahasiswa angkatan 2009 mengatakan tertarik masuk ke UMN salah satunya karena dipimpin oleh Yohanes Surya. ” Gue tertarik daftar di UMN karena rektornya. Kan Yohanes Surya terkenal tuh,” ujar Wafi. Namun ia pun turut mempertanyakan keberadaan sang rektor. ” Terakhir kali ngeliat pas seminar fisika emosi, itu semester dua. Kalo Yohanes Prayitno (pelaksana harian rektor-red) lumayan sering ngeliat,” ujarnya sambil berkelakar.

                Hira Meidiana, pembantu rektor tiga UMN tidak menyalahkan fakta tersebut. Ia memberikan jawaban bahwa kesibukan Pak Yo menjadi alasan utama kejarang hadirannya di kampus. Selain menjabat sebagai  Ketua Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI), ia pun mendirikan Surya Institute. Organisasi ini berkonsentrasi dalam pelatihan untuk guru dan siswa dalam mata pelajaran fisika dan matematika.  ” Karena yang bersangkutan sibuk, dan akan selalu sibuk karena pekerjaannya banyak sekali,” ujar Hira.

                Menurut salah satu satpam UMN, sang rektor jarang sekali datang ke kampus karena lahan parkir yang dikhususkan untuk parkir mobilnya  selalu terlihat kosong melompong. Papan penanda parkir ’KHUSUS REKTOR’ tampak terbengkalai. ” Oh, dia mah sebulan bisa dihitung pake jari datang ke sini, malahan seminggu pernah full ngga kelihatan,” ujar satpam itu.

                Hal ini kembali menimbulkan pertanyaan baru. Mengapa UMN tetap memilih Yohanes Surya untuk menduduki posisi sebagai rektor di tengah kesibukannya? Rektor menjadi tonggak utama suatu universitas di mana seluruh aspek untuk kemajuan seluruhnya terpusat pada kebijakannya. Bayangkan saja jika seorang rektor tidak memiliki waktu bagi universitasnya. Bagai anak ayam yang kehilangan induknya, tidak tahu arah kemana akan berjalan.

                Jawaban dari sisi marketing banyak terlontar dari mantan kepala staf BAAK UMN. Ia berpendapat bahwa nama UMN itu harus terdengar dulu, salah satunya dengan meminta tolong pada Pak Yo. Malahan rentetan pertanyaan retoris ditujukan pada kami. ” Kamu anak ilmu komunikasi kalo memasarkan sesuatu gimana? Kalo bisa semuanya bagus kan? Biar pemasarannya gampang kan?” Apalagi kembali ia membahas soal sustainability kampus. ” Dia ingin membantu UMN, ya pengen nama UMN terdengar. Kalo ngga dikenal, sustainability nya ngga akan langgeng, ngga panjang,” lanjut Hira.    

                Tabir sedikit terkuak setelah sebuah pernyataan terlontar. ” Awalnya, ketika Pak Yo ingin, bukan ingin sih, tapi diminta menjadi rektor karena mungkin Pak Jakob ingin seseorang yang bisa membawa nama UMN ke permukaan”, papar Hira. Sebuah alasan yang mungkin bisa menjadi jawaban akan minimnya eksistensi rektor di kampus. Ia menambahkan bahwa visi Prof. Yohanes Surya adalah ingin memajukan pendidikan di Indonesia dengan cara memberikan beasiswa bagi anak-anak di luar daerah sehingga perkembangan pendidikan lebih merata. Berbeda dengan visi UMN yang lebih condong untuk memajukan universitas dan anak didiknya. ” Misalkan visi UMN kan majuin UMN. Fokus di UMN. Sedangkan Pak Yo lebih melihat Indonesia,” ujarnya demikian.       

                Nama Prof. Yohanes Surya menjadi dongkrak supaya nama UMN ikut melejit ke permukaan, baik dari sisi sustainability maupun dari sisi bisnis. Implisit memang, namun terlihat jelas dari pemaparan Hira Meidiana menanggapi pergunjingan soal rektor ini. Tetapi perlu diperhatikan bahwa sebagian mahasiswa menganggap kampus hanya concern di sisi bisnis saja. Misalnya Roswell, mahasiswa UMN tahun ketiga mengatakan nama Yohanes Surya digunakan untuk mendongkrak nama UMN. ” UMN cuma pake namanya doang. UMN mau cari untung dulu,” katanya. (ASN/AIM)
               

Tipuan Elite


Kilau matahari tak seterang engkau.
Bunyi lonceng tak sebising engkau.

NAJIS !!

Mungkin kau lah Tuhan kedua bagi mereka
Tapi kau lah Penghancur bagi kami

Sadar…
Kami menetek dan berak di tempat yang sama
Namun tak sadar kami memilih mereka…
Mereka pembuai dan pujangga yang menuhankan  nominal kertas

Kami tersenyum, menangisi keberhasilan kalian
Tertipu dengan  muka wibawa dan dasi tegak.

Uangmu adalah uang kami !



-Antonius Hermanto-

Cerita Dari Langit


                Ini adalah sebuah kisah dari langit dimana 4 sekawan bernama hujan, awan, petir, dan angin yang jarang sekali akur dan bersatu.
"Hei awan, sudah donk jangan terus-terusan!" Kata hujan pada awan agar awan berhenti memberikan dirinya agar hujan yang turun tidak terlalu lebat di bumi sana.

"Memang kenapa?Ga masalah donk." Kata Awan.

"Jangan, kasian makhluk hidup di sana, banyak banjir dimana-mana dan banyak makhluk hidup yang mati gara-gara aku." Kata hujan sambil memohon-mohon.

"Lho, kalo kita ga bersatu seperti ini nanti yang dibawah sana bisa kekeringan lho, kamu mau makhluk hidup di bawah sana mati kekeringan?" Tanya awan untuk membela dirinya.

"Iya sih, tapi sudah jangan terlalu banyak nanti mereka bisa mati karena banjir" Balas si hujan.

Memang sulit menjadi awan, kalau tidak diberikan awan maka tidak akan turun hujan dan makhluk hidup di bumi bisa mati kekeringan tetapi kalau diberikan terlalu banyak nanti makhluk hidup mati karena kebanjiran.

"Woi awan dan hujan, kenapa kalian bertengkar terus sih dari tadi?" Tanya si angin yang tiba-tiba muncul.

"Ini si hujan tidak mau kalau aku kasi diriku terus, katanya nanti yang dibawah akan mati kebanjiran" Jawab si awan

"Ouwh, kamu tu gimana sih hujan? Di bawah sana tu juga ada yang memohon-mohon agar turun hujan tapi kenapa malah kamu ga mau kasi dirimu?" Tanya si angin yang ingin membela awan.

"Iya, tapi kalau terlalu banyak nanti mereka bisa mati karena banjir."Jawab si hujan.

"Kamu kenapa kesini angin?"Tanya awan pada angin.

"Aku mau memberi diriku juga kebawah."Jawab si angin.

"Aduh, jangan angin nanti dibawah sana bisa terjadi badai dan itu bisa membuat makhluk hidup di bawah mati." kata si awan yang tidak ingin terjadi badai di bawah sana.

"Sudah tidak apa-apa angin, kasi aja dirimu ke bawah sana, itu lebih baik dari pada banjir." Tiba-tiba si hujan menyelan pembicaraan mereka.

"Jangan angin, eh hujan kamu jangan ikut-ikut donk, kamu dikasi awan ga mau tapi sekarang malah menyuruh angin agar terjadi badai, gimana sih kamu?" Kata si awan yang mulai marah.

Mereka bertiga pun akhirnya bertengkar terus menerus, di satu sisi si hujan tidak ingin awan memberikan awannya pada hujan agar tidak terjadi hujan sangat lebat tetapi si awan tidak ingin angin ikut-ikut yang anntinya bisa menyebabkan badai.

Tiba-tiba datang si petir, "Hei kalian semua, bertengkar terus saja dari tadi!" Kata si petir pada mereka bertiga.

"Sudah tidak usah bertengkar, gimana kalau kita bersatu saja biar makhluk hidup yang dibawah sana merasakan kehebatan kita yang berasal dari langit." Kata petir lagi yang berniat untuk menjadikan cuaca di bawah sana menjadi sangat ekstrim.

Jika mereka berempat bersatu maka hujan lebat tidak akan ada habisnya yang disertai dengan badai dan petir yang bisa menghancurkan kehidupan di bawah sana.

"Kamu lagi petir malah ingin yang di bawah sana menjadi hancur" Marah si hujan pada petir.

Kali ini si hujan tidak setuju dan awan lah yang setuju untuk melakukan itu. Mereka terus saja bertengkar dan tidak pernah akur dan bersatu. Tetapi itu justru hal yang baik karena itu tidak akan menimbulkan bencana yang besar.

Tiba-tiba datang sang matahari, "Hei kalian semua, tidak usah bertengkar terus, aku akan memberi kalian nasehat" Sang matahari muncul untuk memberi nasehat kepada mereka berempat.

"Tidak perlu kalian selalu bertengkar, coba lah untuk memberikan apa yang kalian miliki tidak berlebihan, berikan secukupnya saja." Kata sang Matahari.

"Maksudnya?' tanya si awan pada sang matahari.

"Maksudnya misalnya saja kamu awan berikanlah dirimu secukupnya saja agar hujan yang turun tidak terlalu lebat dan juga jangan tidak memberikan sama sekali karena itu akan menyebabkan kekeringan. Lalu kamu angin berikan dirimu sedikit saja agar tidak terjadi angin kencang yang bisa menghancurkan bumi dan juga jangan tidak memberikan sama sekali karena itu akan menyebabkan cuaca yang panas. Lalu kamu petir jangan terlalu banyak memberikan karena itu akan bisa menyebabkan banyak yang mati karena sambaranmu." Kata sang matahari.

"Jika makhluk hidup di bawah sana baik pada kita maka kalian berikan saja secukupnya diri kalian  aku akan memberikan sinarku agar tercipta pelangi yang begitu indah sebagai hadiah pada mereka."

"Tetapi jika makhluk hidup di bawah sana tidak menghormati kita yang di langit silahkan saja kalian berikan balasan agar mereka bisa belajar dari langit" Kata sang matahari lagi.

"Kalian bisa bersatu menciptakan badai yang besar dengan angin yang kencang, petir yang menyambar terus menerus dan dengan hujan yang sangat lebat." Kata sang matahari.

"Kalian semua harus sadar bahwa tidak selamanya bersatu itu indah, ada saat-saat dimana kalian bersatu dan ada saat-saat dimana tidak diperlukan persatuan dan yang lebih penting lagi dalam memberikan sesuatu jangan terlalu berlebihan dan jangan terlalu sedikir karena itu tidak baik, berikan saja yang secukupnya" Kata sang matahari yang menyudahi memberikan nasehatnya.

Keempat sekawan pun itu hanya diam dan menerima nasehat dari sang Matahari.


oleh : Rindy Agassi

Saturday, February 19, 2011

Organisasi dan Media Kampus, Senjata Penting Demokrasi



Penulis adalah insinyur jiwa manusia

                Kutipan di atas saya ambil dari buku yang ditulis oleh Hong Liu tentang kehidupan Pramoedya A. Toer, dalam buku yang berjudul Pram dan Cina. Saya mencoba untuk memahami apa yang sebenarnya hendak disampaikan oleh Pram melalui kutipan sederhana itu. Melalui metafora itu, Pram hendak menyadarkan para kaum terpelajar untuk bertanggung jawab pada masyarakat dan bangsa. Lantas tanggung jawab apa yang dimaksud? Tanggung jawab yang dimaksudkan adalah bagaimana seorang yang terpelajar bersikap kritis terhadap sesuatu yang dianggapnya melenceng dari nilai moral, kebenaran serta demokrasi yang bertanggung jawab.

                Menurut Pram, penulis dan tulisannya adalah hal penting yang tidak dapat dipisahkan. Melalui buah pemikiran kritis dan dinamis yang dimiliki oleh seorang penulis maka akan menelurkan karya tulis yang menggugah, yang memiliki dasar kekuatan untuk menggerakan. Dari tulisan, jiwa manusia akan terbakar dan menyala-nyala. Dari sebuah tulisan, rasa empati dapat tumbuh. Dari sebuah tulisan, negara perlu waspada! Saat semua orang terinspirasi oleh tulisan yang lahir dari buah pemikiran yang kritis, saat itu pula jiwa kita bergolak dan tergerak. Tulisan menjadi wadah penulis untuk berekspresi, mencurahkan segala isi hati dan pikirannya.

                Tulisan sederhana ini terinspirasi oleh 140 karakter yang  ditulis oleh teman-teman mahasiswa  Universitas Multimedia Nusantara (UMN) di situs jejaring twitter. Saya membaca timeline dan mem-follow sejmulah akun yang notabene adalah wujud dari organisasi kampus. Tweet yang disampaikan dalam akun tersebut secara garis besar bertujuan untuk membuat sebuah pergerakan. Mengajak semua elemen akademisi, terutama mahasiswa, untuk menyampaikan aspirasinya. Organisasi menjadi fasilitator untuk menampung  aspirasi dan tulisan yang nantinya diteruskan pada rektorat. Menurut saya, hal seperti ini adalah keren, menarik dan perlu diapresiasi positif. Seperti pada umumnya di universitas lain, UMN akhirnya juga punya wadah sebagai corong mahasiswa, agar komunikasi antara mahasiswa dengan pihak kampus dapat terjalin secara seimbang.

                Kita semua sadar, UMN adalah universitas yang belum lama berdiri. Usianya saja kurang lebih baru empat tahun. Ibarat anak kecil atau remaja, kampus ini masih dalam tahap mencari jati diri yang utuh. Tentu masih banyak kekurangan yang perlu dibenahi. Inti permasalahannya terletak pada kurangnya transparansi dan kurang idealnya komunikasi yang terjalin antara mahasiswa dengan kampus. Tapi, semua itu bukan halangan. Hal ini terbukti dengan adanya semangat untuk menyeimbangkan peta kekuatan antara mahasiswa dengan otoritas kampus. Kehidupan intra kampus adalah arena kebebasan mimbar akademik yang demokratis. Dimana aspirasi dan suara tidak seharusnya ditutup-tutupi. 

Berorganisasi dan berpendapat adalah wahana pembelajaran mahasiswa untuk belajar berpolitik di dalam kampus. Dengan instrumen sistem organisasi kemahasiswaan yang egaliter yang merupakan wujud dari simulasi pemerintahan kecil yang ditandai dengan adanya student government. Lengkap menyerupai kelembagaan formal seperti layaknya sistem pemerintahan negara. Mulai dari badan legislatif mahasiswa dan badan eksekutif mahasiswa baik di tingkat universitas maupun jurusan. Selain itu masih dilengkapi oleh badan-badan kegiatan otonom mahasiswa seperti pers mahasiswa yang menerbitkan koran atau majalah kampus sebagai media tulisan.  Tentunya dari organisasi-organisasi ini diharapkan akan memunculkan pemikiran-pemikiran yang berani, muktahir, kritis dan relevan dengan keadaan yang berlaku saat ini.

                Saya melihat, sudah ada jiwa dari teman-teman mahasiswa UMN yang tergerak untuk sebuah perubahan. Semua mahasiswa, semua angkatan bersinergi untuk menyumbang aspirasi untuk mewujudkan cita-cita demokrasi yang sehat. Bukan memaki tetapi berjuang untuk mencapai tujuan bersama. Berharap, semangat itu tidak luntur dan terus berkobar sampai apa yang diperjuangkan tercapai.

                Sedikit hal yang bisa saya bagi sebagai gambaran usaha perjuangan mahasiswa dalam kancah perubahan Indonesia. Sejarah pernah mencatat pada tahun 1979-1980, muncul sebuah kelompok yang dikenal dengan sebutan Petisi 50 yang menuntut kebebasan berpendapat dan berpolitik yang lebih luas pada era orde baru. Kelompok ini terdiri dari politisi, aktivis mahasiswa, akademisi dan tokoh sipil yang bergabung untuk mengkritisi pemerintahan Soeharto melalui media cetak dan selebaran yang berisi kasian politik pemerintahan orba.

                Lahirnya Petisi 50 membuat Soeharto geram. Sebagai balasannya, Soeharto mencekal para penandatangan Petisi 50 yang terdiri dari 50 orang tokoh nasional termasuk mahasiswa. Tujuan dari kelompok ini adalah sebagai pressure group yang senantiasa hadir menekan pemerintah, sehingga membuat pemerintahan Soeharto sering direpotkan oleh pernyataan-pernyataannya yang tajam. 

                Pada tahun 1984, kelompok ini menuduh Soeharto telah menciptakan negara dalam satu partai. Memunculkan banyak penentang, hingga meletus peristiwa Tanjungpriok yang menewaskan sejumlah orang. Soeharto bereaksi keras, dan pencekalan pun tak terhindari. Semua anggota Petisi 50 dihilangkan hak perdatanya dan dimasukan kedalam penjara.

                Namun, apa yang sudah terjadi pada Petisi 50 tidak menyurutkan niat masyarakat terutama mahasiswa untuk membuat perubahan. Usaha terus dilakukan oleh setiap kampus melalui media kampus masing-masing. Berawal dari organisasi yang menjadi mimbar kebebasan berekspresi, menciptakan sebuah tatanan demokrasi yang didambakan, kemudian memunculkan aspirasi melalui tulisan yang tertuang di dalam media kampus. Mahasiswa menjadi pers yang tajam, mengingat media masa saat orba sangat dikekang dan dilarang untuk menyinggung pemerintah. Pers mahasiswa menjadi kendaraan untuk melemparkan suara kemerdekaan berpendapat.

                Setidaknya dapat dicatat di UGM pada tahun 1986, terdapat 47 penerbitan fakultas dan jurusan. Para penerbitan dari masing-masing fakultas itu kemudian mengadakan Seminar Pers Mahasiswa se-UGM yang sepakat untuk menerbitkan media tingkat universitas, berbentuk majalah yang berorientasi intelektualisme, bukan politik. Majalah yang terbit pertama kali Balairung, pada 8 Januari 1986. Sampai dicabut ijinnya, Juli 1990, Balairung terbit sekitar 14 kali dengan tiras sebesar 2500-5000 eksemplar.

                Dari sejarah di atas, saya ingin menggaris bawahi, bahwa organisasi kampus dan media kampus merupakan senjata terpenting untuk melahirkan demokrasi yang diidam-idamkan. Di sinilah semua aspirasi ditampung dan disiarkan. Di sinilah kebebasan berpendapat dijunjung tinggi. Dari sebuah pemikiran yang kritis, lalu kemudian dituangkan dalam tulisan maka sebuah pergerakan akan lahir.

                Mari, secara bersama-sama kita ciptakan nuansa demokrasi yang bebas, sehat dan bertanggung jawab. Belajar dari pengalaman yang sudah pernah terjadi, bahwa sebuah rezim dapat tumbang hanya karena pemikiran yang kritis dan cita-cita reformasi yang menjunjung moral serta etika. Mari kita tumbuhkan suasana demokrasi di lingkungan kampus untuk menciptakan arus komunikasi dua arah yang seimbang. Organisasi kampus dan media kampus, sekali lagi, memiliki peran penting untuk terciptanya sebuah pergerakan dan perubahan. Semoga api semangat dalam diri kita tidak pernah padam hingga perubahan yang kita cita-citakan tercapai. 





Albertus Magnus Prestianta

Mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara,
Jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik 2007


S.W.A.T dan Jurnalistik

S.W.A.T. berarti Special Weapons and Tactics. Jurnalistik, menurut Ensiklopedi Indonesia adalah bidang profesi yang mengusahakan penyajian informasi tentang kejadian dan atau kehidupan sehari-hari secara berkala, dengan menggunakan sarana-sarana penerbitan yang ada.

        Nah, mungkin pembaca bingung mengapa dua hal yang berbeda ini, saya sajikan dalam tulisan di kesempatan kali ini. Tulisan ini terinspirasi setelah saya menonton ulang film S.W.A.T. Filmnya bagus, alur cerita menarik dan banyak adegan tembak-tembakkan. Namun, bukan persoalan film action-nya yang akan saya kupas. Tapi saya akan coba membuktikan betapa penting jurnalistik dalam penerapannya di kehidupan sehari-hari.

         Sebelum saya masuk ke penjabaran yang lebih dalam, film ini diawali dari aksi perampokan di bank. Anggota S.W.A.T., Brian Gamble (Jeremy Renner) terpaksa menembak sandera untuk melumpuhkan penyanderanya. Sesuai dengan aturan S.W.A.T. Gamble dianggap bersalah dan dikeluarkan dari S.W.A.T., dan kepolisian LA. Sementara partnernya, Jim Street (Colin Farrell) hanya dipindahkan ke bagian gudang. 
        
         Konflik antarpartner menjadi salah satu yang ditawarkan S.W.A.T. Wajar kalau penonton bisa menebak kehadiran kembali Gamble untuk balas dendam. Selanjutnya, muncul "Hondo" Harrelson (Samuel L. Jackson), anggota SWAT senior yang ditugasi membentuk tim baru. Ada Jim Street yang pernah di-blacklist. Lalu Chris Sanchez (Michelle Rodriguez), polisi wanita yang sudah tiga kali ditolak masuk S.W.A.T. Pilihan anggota wanita ini memang agak mengada-ada. Sebab, di sepanjang sejarahnya S.W.A.T. tak pernah mencatat satu pun anggota perempuan. Selanjutnya, ada Deacon "Deke" Kay (rapper LL Cool J), polisi hitam yang lebih sering membuat kekacauan. Hanya TJ McCabe (Josh Charles) dan Michael Boxer (Brian van Holt) yang berkenan di hati Fuller.

           Pembuat film berusaha menaikkan tempo ketegangan. Tim S.W.A.T. Hondo ditugasi mengawal Alex Montel (Oliver Martinez). Si penjahat internasional ini melontarkan tawaran US$ 100 juta bagi siapa pun yang bisa membebaskannya dari kawalan S.W.A.T. Sekali lagi, bisa ditebak. Para penjahat geger karena tergiur. Tim S.W.A.T. kelimpungan menghadapi berbagai upaya membebaskan Montel.”

        Bagian yang saya beri warna merah, merupakan kunci untuk menghubungkan S.W.A.T dan jurnalistik. Jika para pembaca pernah menonton film ini, maka selesainya si penjahat melontarkan tawaran US$ 100 juta untuk kebebasan dirinya, media massa langsung serentak memberitakan kejadian ini. Inilah poin penting yang akan saya jelaskan. Hemat saya, media massa tidak boleh menyiarkan begitu saja. Karena, seperti yang kita semua ketahui, penciptaan opini publik didukung oleh salah satu faktor, yaitu pemberitaan oleh jurnalis / media massa. 

          Akibatnya, fatal. Tidak hanya memberi informasi bahwa si penjahat, Alex Montel, sudah tertangkap tapi juga memberi informasi bagi para penjahat lain untuk membebaskan dirinya.
Memang kejadian ini, saya ambil dari film. Tapi, kesalahan yang mirip seperti ini mungkin terjadi di dunia nyata. Menurut Bill Kovaach, Committee of Concerned Journalist, “Makin bermutu jurnalisme di dalam masyarakat, maka makin bermutu juga informasi yang didapat masyarakat bersangkutan. Terusannya, makin bermutu pula keputusan yang dibuat.”

Jadi, poin yang ingin saya sampaikan adalah bahwa media massa dalam praktik jurnalistik harus hati-hati. Apa yang disampaikkan ke masyarakat belum tentu memiliki respon serupa yang diinginkan oleh si penulis. Pada kasus di film ini, bukannya menjadi info yang berguna tapi malah memperkeruh situasi. Contoh lain, namun nyata dan yang pernah terjadi di Indonesia, mungkin saat terjadinya letusan Gunung Merapi. TvOne, sepengetahuan saya, dilarang untuk meliput karena pemberitaan ke publik sangat berlebihan. Pelarangan itu datang karena mereka dianggap menciptakan ketakutan.

Dari buku “A9ama Saya Adalah Jurnalisme”, karangan Andreas Harsono, dalam bisnis media ada sebuah segitiga yang mewakili tiga siku. Siku pertama adalah pembaca atau pendengar. Siku kedua adalah pemasang iklan. Dan, siku terakhir adalah masyarakat. Mungkin terdengar klise antara pembaca atau pendengar dengan masyarakat. Sekilas sama, tapi berbeda. Perbedaanya terletak pada kepentingan. Dalam media massa, jika lebih mengarah pada siku pertama, maka pemberitaan akan lebih pada apa yang ingin mereka dengar. Tapi dalam siku ketiga, pemberitaan akan lebih berat dalam apa yang penting bagi masyarakat.

Ingat! Salah satu dari sembilan elemen jurnalisme adalah berpihak pada masyarakat. Apabila kita kembali ke film, maka pemberitaan tertangkapnya si penjahat bukan pemihakan pada publik, melainkan pemihakkan pada pendengar atau pembaca.

Akhir kata, segala masalah yang terjadi di dunia ini merupakan masalah komunikasi dan cara menyelesaikan masalah itu juga harus melalui KOMUNIKASI.


Silvanus Alvin, Jurnalistik 2009



Daftar Pustaka:
A9ama Saya Adalah Jurnalisme. Harsono, Andrea. Kanisius. 2010

Born to Rule

Dikutip dari “ The Art of  Worldly Wisdom” 17  Februari

Lahir untuk berkuasa. Inilah rahasianya, kemampuan tinggi.

Kemampuan tinggi tidak muncul dari kelicikan, tetapi dari pembawaan yang dilahirkan untuk berkuasa. Siapapun bisa tunduk terhadap pribadi demikian tanpa tahu apa sebabnya, tanpa mengetahuinya rahasia kekuatannya dan sifat-sifat kekuatan kewibawaannya. 
Orang-orang seperti ini memiliki karakter yang agung : raja karena keagungan budinya, singa karena naluri alaminya. Mereka mendapat penghormatan , hati dan bahkan jiwa orang lain. 
Apabila ditambah  dengan bakat-bakat lain, niscaya mereka akan muncul menjadi tokoh politik yang menonjol. Mereka dapat bekerja lebih banyak dengan sikap dan gerakan isyarat daripada pidato panjang berapi-api.

Pada intinya setiap manusia dilahirkan untuk berkuasa.
 Berkuasa terhadap dirinya sendiri dan  menentukan kehendaknya, itulah hakikat manusia! 
Jika seseorang telah mampu menguasai dirinya sendiri maka dia pun dapat menarik hati orang-orang sekitarnya.



Gabrella Sabrina , Jurnalistik 2009  

Karya Fotografi

High Dead Ratio


God Creation


The World is Mine


The Path


Photo by : Silvanus Alvin, Jurnalistik 2009

Thursday, February 17, 2011

Di Saat Daku Tua: Refleksi Kita Terhadap Orangtua

oleh : Randy Hernando, Jurnalistik 2009


“Di saat daku tua, bukan lagi diriku yang dulu…”





nurinautami.multiply.com



Puisi “Disaat daku tua” adalah salah satu yang menggambarkan bagaimana seseorang baik itu perempuan ataupun laki-laki menghadapi masa tua mereka. Dengan segala keterbatasan, mereka memohon kepada yang muda untuk senantiasa memaklumi keadaan yang ada. Ini adalah sebuah puisi sarat makna dan sederhana yang seakan menyentuh sanubari siapapun yang membacanya.
Puisi ini secara tidak sengaja saya temukan di antara tumpukan buku-buku seusai kebaktian di vihara Gunasambhara, Kutabumi, Tangerang. Dalam blog nurinautami.multiply.com, disebutkan bahwa puisi ini terdapat dalam selebaran dari sepatu merk New Era. Berikut isi dari puisi tersebut


Disaat Daku Tua…
Di saat daku tua, bukan lagi diriku yang dulu.
 Maklumilah diriku, bersabarlah dalam menghadapiku.
Di saat daku menumpahkan kuah sayuran dibajuku,
Di saat daku tidak lagi mengingat cara mengikatkan tali sepatu,
Ingatlah saat-saat bagaimana daku mengajarimu, membimbingmu untuk melakukannya.
Disaat saya dengan pikunnya mengulang terus menerus ucapan yang membosankan,
Bersabarlah mendengarkanku, jangan memotong ucapanku, dimasa kecilmu, Daku harus mengulang     dan mengulang terus sebuah cerita yang telah saya ceritakan ribuan kali hingga dirimu terbuai dalam mimpi.
Disaat saya membutuhkanmu untuk memandikanku,
Janganlah menyalahkanku.
Ingatlah dimasa kecilmu, bagaimana daku dengan berbagai cara membujukmu untuk mandi?
Disaat saya kebingungan menghadapi hal-hal baru dan teknologi modern,
Janganlah menertawaiku.
Renungkanlah bagaimana daku dengan sabarnya menjawab “mengapa” yang engkau ajukan disaat itu.
Disaat kedua kakiku terlalu lemah untuk berjalan,
Ulurkanlah tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahku
Bagaikan di masa kecilmu daku menuntunmu melangkahkan kaki untuk belajar berjalan.
Disaat daku melupakan topik pembicaraan kita,
Berikanlah sedikit waktu padaku untuk mengingatnya.
Sebenarnya, topik pembicaraan bukanlah hal penting bagiku,
asalkan engkau berada di sisiku untuk mendengarkanku, daku telah bahagia.
Disaat engkau melihat diriku menua, janganlah bersedih.
Maklumilah diriku, dukunglah daku, bagaikan daku terhadapmu disaat engkau mulai belajar tentang kehidupan.
Dulu daku menuntunmu menapaki jalan kehidupan ini, kini temanilah daku hingga akhir jalan hidupku.
Berilah daku cinta kasih dan kesabaranmu, daku akan menerimanya dengan senyuman penuh syukur.
Di dalam senyumku ini, tertanam kasihku yang tak terhingga padamu.

Puisi ini mengajak semua kaum muda untuk selalu mengingat jasa-jasa orangtua yang tidak bisa terukur oleh apapun di dunia ini. Setelah membaca puisi ini, saya mulai belajar bahwa kita semua, dulu pernah membuat orangtua susah. Selalu menyalahkan, membentak, melawan, sampai menghina orangtua kita sendiri. Padahal, tanpa mereka, kita bukanlah siapa-siapa. Bahkan, bukan tidak kita tidak terlahir di dunia ini. Saya menyadari, hidup ini singkat. Segala sesuatu pasti ada awal dan akhir. Suatu saat orangtua yang kita cintai akan pergi meninggalkan dunia. Bagaimana upaya kita sebagai seorang anak?

 Pertama, yang perlu kita lakukan adalah selalu menuruti nasehat bijak orangtua. Terkadang, amanat yang mereka sampaikan terdengar kuno atau tidak penting di telinga kita. Padahal, hal tersebut dapat  menjadi sebuah bekal di kemudian hari ketika kita menghadapi kerasnya kehidupan. Kedua, selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan orangtua terhadap kita. Biasanya, banyak anak muda yang selalu meminta sesuatu dan harus segera dipenuhi. Mereka tidak peduli dengan keadaan orangtua yang siang-malam bekerja banting tulang demi menghidupi keluarga. Patutlah kita syukuri pemberian dari orangtua. Terakhir, cintailah  orangtua kita dan berikanlah yang terbaik bagi mereka. Ada banyak cara untuk mengungkapkannya. Salah satunya adalah ucapkanlah terima kasih secara tulus  atas segala yang telah mereka berikan kepada kita. Orangtua kita dengan senang hati menerima dan bersyukur.

Tulisan ini saya buat untuk menghormati jasa-jasa orangtua terutama kasih seorang ibu yang tiada taranya untuk kita.

    

Selamat Ulang Tahun, Jakarta!


Karya :Edwina Tjahja ( Ilmu Komunikasi 2010 )

SABAR

Kamu masih betah? 

Baiklah.

Selamat berdiam dalam kalbuku, wahai sabar

Jika aku ditakdirkan untuk bersanding denganmu, sabar

Kita mungkin menjadi pasangan paling bahagia dan menderita sedunia

Seketika kita berbincang dalam ruangan intim hatiku

Kamu berkata akan setia menemaniku

Meskipun kamu akan minggat sesaat kala seseorang mendesakmu

Aku mendengar kamu mengetuk perlahan

Kakiku melangkah hendak membuka pintu-pintu kecil

Mempersilahkan kamu masuk kembali seusai kegelisahan ini menimbunku

Ternyata kamu sangat mencintaiku, kamu datang lagi, lagi, dan lagi

Akibatnya pengusik itu datang lagi, lagi, dan lagi

Sabar sayang, kan kumandangkan terima kasih

Kita melakukan rutinitas yang menjadi anugerah, 

yakni bersabar.


Semoga kesetianmu menggantung di langit-langit jiwaku.



Gloria Fransisca Katharina
Ilmu Komunikasi 2010

Wednesday, February 16, 2011

Malam Tanpa Bintang

Cynthia Panda Kwesnady
(Fakultas Ilmu Komunikasi 2010)


Aku memandang lautan langit nun jauh di atas kepalaku
Merasakan betapa kecilnya aku dibandingkan dengan alam semesta
Malam ini..  malam panjang yang penuh dengan kesendirian
Tanpa sadar lamunan membawaku jauh ke awang-awang
Anganku terbang makin jauh makin tinggi terbawa oleh semilir angin
Merasakan betapa besarnya Sang Pencipta
Merasakan betapa dalam kasih-Nya bagi hidup semua anak-Nya
Mengakui keagungan-Nya
Meresapi kebaikan-Nya
Dalam suatu malam tak berbintang


Sewaktu Galau

Janganlah pernah berfikir kalau kau sendirian
Sebab Tuhan itu nyata adanya untuk menemanimu
Ketika kau merasa hampa
Ingatlah kalau setiap saat selalu terselip kesenangan untuk mengisi kekosongan
Saat kesedihan merajai hatimu
Percayalah bahwa kebahagiaan sedang menantimu
Waktu kau merasa hidup sudah tiada artinya
Kembalilah mengucap syukur karena hidup itu anugerah
Pada intinya, yakinkanlah hatimu kalau kau akan dan terus bahagia
Tersenyumlah karena itu akan menjadi tameng melawan segalanya





Jeffry Oktavianus
Ilmu Komunikasi 2010

Your Path, Your Destiny

 Oleh : Cynthia Panda Kwesnady
(Fakultas Ilmu Komunikasi 2010)


         Ini kisah tentang dua insan manusia berlainan jenis kelamin dengan segudang perkataan yang tak mampu mereka utarakan hingga akhirnya mereka dipertemukan oleh takdir.

Pria
Kamu terlalu beku untuk menyadari bahwa banyak orang lain di sekitar kamu yang perduli dengan kamu.
Kamu terlalu dingin untuk mengakui bahwa kamu membutuhkan orang lain
Kamu terlalu sombong untuk meminta bantuan dan pertolongan orang di sekitarmu
Kamu (hanya) terlalu tinggi untuk kuraih
Kalau kamu tidak menurunkan sedikit “hargamu”, aku tidak akan pernah bisa menggapaimu

Wanita
Kamu terlalu keras untuk bisa kutahklukkan
Kamu terlalu padat dikelilingi olah orang banyak untuk menyadari kehadiranku
Kamu terlalu berbeda dengan duniaku yang sempit dan sepi ini
Kamu (hanya) terlalu jauh untuk bisa kujangkau
Kalau kamu tidak mengejar dan menahanku sekarang, aku akan berbalik dan berlalu pergi

Pria
Aku seperti kura-kura
Tampak kuat dengan cangkangnya yang keras
Namun ketika musuh datang
Aku hanya bisa menyembunyikan kepalaku di balik cangkang
Aku tidak sekuat itu
Aku menyadari keberadaanmu
Seperti seorang pemburu buah yang belum masak
Menunggu seperti orang bodoh
Untuk bisa memetikmu
Duniaku kuisi hanya untuk memandangimu
Menunggumu dengan setia
Duniamu.. adalah duniaku
Tak ada jarak selebar sedalam setinggi yang kau pikirkan
Aku disini. Menahanmu. Memintamu. Mengiba padamu. Jangan pergi.

Wanita
Aku layaknya setangkai mawar di tengah bebungaan lain
Tampak terlalu asyik dengan duniaku sendiri
Namun aku bersandiwara!
Karena aku tak mempunyai cukup keberanian
Karena aku tak mau mengantungkan hidupku dengan bantuan pohon besar yang berdiri di belakangku
Karena aku selalu mencoba untuk tegar
Dan mencoba menghadapi semuanya sendirian
Sampai aku melihatmu. Mengamatimu. Mengenalmu.
Jangan memandangku ke atas
Karena aku ada di bawah
Tepat di hadapanmu

Pria
Jangan berpaling lagi
Dadaku dipenuhi kesesakan yang teramat sangat setiap melihatmu mencoba menahan air mata yang telah menggantung di pelupuk matamu
Biarkan aku memelukmu
Menghapus air matamu
Meminjamkan bahuku
Mengelus rambutmu dengan lembut
Dan membisikkan kata-kata yang sedari dulu selalu urung kuucapkan
Kata-kata yang mungkin terdengar murahan dan sering diucapkan
Namun kau harus tahu, kata-kata ini sangat bermakna di hati
“Aku disini untukmu. Menantimu. Berpalinglah. ”
Biar kita hadapi semua perkara bersama-sama
Karena telah banyak waktu kita terbuang percuma

Wanita
Kau disini
Mengajakku pergi dari zona nyamanku
Sesuatu yang sedari dulu aku impikan
Denganmu, segalanya terasa menenangkan
Seakan tak ada hambatan besar yang mampu menghadang kita di luar sana
Kuraih genggaman tanganmu
Dan kusambut sinar cerah mentari yang baru saja merekah
Kutunjukkan senyum terbaikku pada dunia
Karena sekarang pangeran berkuda putihku telah datang menjemputku
Dan aku percaya segalanya akan kami lewati bersama


Malam Tanpa Bintang

Oleh : Cynthia Panda Kwesnady
(Fakultas Ilmu Komunikasi 2010)


Aku memandang lautan langit nun jauh di atas kepalaku
Merasakan betapa kecilnya aku dibandingkan dengan alam semesta
Malam ini..  malam panjang yang penuh dengan kesendirian
Tanpa sadar lamunan membawaku jauh ke awang-awang
Anganku terbang makin jauh makin tinggi terbawa oleh semilir angin
Merasakan betapa besarnya Sang Pencipta
Merasakan betapa dalam kasih-Nya bagi hidup semua anak-Nya
Mengakui keagungan-Nya
Meresapi kebaikan-Nya
Dalam suatu malam tak berbintang

Karya Fotografi Trias Prayogi

Aku Binatang atau Setan?



                                                    Lemon dan Kembarannya




                                                    Sudut Rumah Tua



Karya-karya Trias (Jurnalistik 2009) yang lain dapat dilihat di http://www.flickr.com/yogi2506