Tuesday, February 22, 2011

Nama Besar Untuk Kemajuan, atau Sekedar Daya Tarik ?

Sebuah institusi baru membutuhkan daya tarik untuk menaikkan namanya ke permukaan. Hal ini lumrah dilakukan sebagai  batu loncatan awal dalam pembentukan corporate sustainability. Seperti halnya Universitas Multimedia Nusantara, sebuah universitas baru yang dibentuk oleh salah satu raksasa media di Indonesia, yang menarik calon mahasiswa melalui banyak promosi seperti pembangunan gedung universitas dengan luas lahan 8 ha, teknologi yang berbasis ICT, hingga mengangkat Yohanes Surya sebagai rektor.
Yang ingin dibahas di sini adalah apakah Prof. Yohanes Surya yang ditunjuk sebagai rektor pertama di UMN murni untuk memajukan sebuah lembaga pendidikan atau hanya sekadar kepentingan entitas bisnis semata? 

                Reputasi Prof. Yohanes Surya tidak perlu dipertanyakan lagi. Dia adalah guru besar bidang ilmu pengetahuan, khususnya ilmu fisika dan matematika. Berbagai prestasinya sudah diakui bahkan sampai ke taraf internasional. Bisa dibayangkan betapa besar daya tarik universitas yang dipimpin oleh beliau. Menurut data yang didapat, UMN mengalami peningkatan yang signifikan dilihat dari jumlah mahasiswa yang diterima dari tahun ke tahun. Tahun pertama yang hanya sekitar 200 orang, dibandingkan di tahun 2010 yang mencapai 1200 orang.  Kemajuan yang luar biasa bagi sebuah universitas yang baru berdiri sejak tahun 2005.

                Wafi, salah satu mahasiswa angkatan 2009 mengatakan tertarik masuk ke UMN salah satunya karena dipimpin oleh Yohanes Surya. ” Gue tertarik daftar di UMN karena rektornya. Kan Yohanes Surya terkenal tuh,” ujar Wafi. Namun ia pun turut mempertanyakan keberadaan sang rektor. ” Terakhir kali ngeliat pas seminar fisika emosi, itu semester dua. Kalo Yohanes Prayitno (pelaksana harian rektor-red) lumayan sering ngeliat,” ujarnya sambil berkelakar.

                Hira Meidiana, pembantu rektor tiga UMN tidak menyalahkan fakta tersebut. Ia memberikan jawaban bahwa kesibukan Pak Yo menjadi alasan utama kejarang hadirannya di kampus. Selain menjabat sebagai  Ketua Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI), ia pun mendirikan Surya Institute. Organisasi ini berkonsentrasi dalam pelatihan untuk guru dan siswa dalam mata pelajaran fisika dan matematika.  ” Karena yang bersangkutan sibuk, dan akan selalu sibuk karena pekerjaannya banyak sekali,” ujar Hira.

                Menurut salah satu satpam UMN, sang rektor jarang sekali datang ke kampus karena lahan parkir yang dikhususkan untuk parkir mobilnya  selalu terlihat kosong melompong. Papan penanda parkir ’KHUSUS REKTOR’ tampak terbengkalai. ” Oh, dia mah sebulan bisa dihitung pake jari datang ke sini, malahan seminggu pernah full ngga kelihatan,” ujar satpam itu.

                Hal ini kembali menimbulkan pertanyaan baru. Mengapa UMN tetap memilih Yohanes Surya untuk menduduki posisi sebagai rektor di tengah kesibukannya? Rektor menjadi tonggak utama suatu universitas di mana seluruh aspek untuk kemajuan seluruhnya terpusat pada kebijakannya. Bayangkan saja jika seorang rektor tidak memiliki waktu bagi universitasnya. Bagai anak ayam yang kehilangan induknya, tidak tahu arah kemana akan berjalan.

                Jawaban dari sisi marketing banyak terlontar dari mantan kepala staf BAAK UMN. Ia berpendapat bahwa nama UMN itu harus terdengar dulu, salah satunya dengan meminta tolong pada Pak Yo. Malahan rentetan pertanyaan retoris ditujukan pada kami. ” Kamu anak ilmu komunikasi kalo memasarkan sesuatu gimana? Kalo bisa semuanya bagus kan? Biar pemasarannya gampang kan?” Apalagi kembali ia membahas soal sustainability kampus. ” Dia ingin membantu UMN, ya pengen nama UMN terdengar. Kalo ngga dikenal, sustainability nya ngga akan langgeng, ngga panjang,” lanjut Hira.    

                Tabir sedikit terkuak setelah sebuah pernyataan terlontar. ” Awalnya, ketika Pak Yo ingin, bukan ingin sih, tapi diminta menjadi rektor karena mungkin Pak Jakob ingin seseorang yang bisa membawa nama UMN ke permukaan”, papar Hira. Sebuah alasan yang mungkin bisa menjadi jawaban akan minimnya eksistensi rektor di kampus. Ia menambahkan bahwa visi Prof. Yohanes Surya adalah ingin memajukan pendidikan di Indonesia dengan cara memberikan beasiswa bagi anak-anak di luar daerah sehingga perkembangan pendidikan lebih merata. Berbeda dengan visi UMN yang lebih condong untuk memajukan universitas dan anak didiknya. ” Misalkan visi UMN kan majuin UMN. Fokus di UMN. Sedangkan Pak Yo lebih melihat Indonesia,” ujarnya demikian.       

                Nama Prof. Yohanes Surya menjadi dongkrak supaya nama UMN ikut melejit ke permukaan, baik dari sisi sustainability maupun dari sisi bisnis. Implisit memang, namun terlihat jelas dari pemaparan Hira Meidiana menanggapi pergunjingan soal rektor ini. Tetapi perlu diperhatikan bahwa sebagian mahasiswa menganggap kampus hanya concern di sisi bisnis saja. Misalnya Roswell, mahasiswa UMN tahun ketiga mengatakan nama Yohanes Surya digunakan untuk mendongkrak nama UMN. ” UMN cuma pake namanya doang. UMN mau cari untung dulu,” katanya. (ASN/AIM)
               

No comments:

Post a Comment