Friday, September 21, 2012

Cerpen


Aturan
Oleh Silvanus Alvin

Aturan,  tidak lain dan tidak bukan, bertujuan untuk menciptakan ketertiban. Bila mereka, para petinggi dan yang dituakan melahirkan aturan itu sendiri tapi tidak mematuhi sekaligus menjalankannya, bagaimana mungkin manusia-manusia lain juga mau mematuhi sekaligus menjalankannya. Niscaya, ketertiban itu, tidak lain dan tidak bukan, hanya omong kosong belaka.


David keluar dari sebuah ruangan, berjalanlah ia menuju tembok di salah satu sudut gedung megah itu. Di sudut itu, tertempel beberapa kertas-kertas. Dengan muka geram dan penuh emosi, pemuda yang memakai kaos berwarna hitam itu merobeknya. Di seberang tembok di mana ia berdiri, terdapat kertas serupa yang tertempel pula di tembok.

David berlari ke arah tembok tersebut. Terlihat garis urat nadi di tangannya, yang menunjukkan betapa emosi dirinya. Hal yang sama pun dilakukan, ia menarik kertas yang tertempel dan merobek-robeknya tidak beraturan. Jelas, apa yang dilakukannya menjadi pusat perhatian orang-orang yang berjalan di sekitarnya.

Pemuda yang sedari kecil diajarkan dengan baik oleh orangtuanya untuk mentaati aturan-aturan yang ada, kini seperti orang lepas kendali. Mungkin terjadi korsleting di otaknya akibat tidak mampu menerima kenyataan bahwa banyak aturan yang dilanggar oleh orang-orang di gedung mewah itu.

“Persetan dengan semua ini! Untuk apa ada aturan kalau tidak dijalankan,” teriaknya, tanpa memerdulikan orang di sekitarnya yang sedang melihatnya dengan tatapan aneh.

“Seeeeetan!” raungnya.

Aksi yang dilakukan David ini membuat satpam bergegas untuk mengambil tindakan. Kira-kira terdapat perbedaan jarak sejauh 50 meter dari tempat satpam berdiri menuju David, pemuda yang dikira orang gila karena merobek kertas dan berteriak tiba-tiba.

Sejurus kemudian, terjadi adegan kejar-kejaran seperti di film action. Satpam itu langsung berlari mengejar David. David pun dengan reflek alaminya berlari pula, berusaha tidak tertangkap. Kala mengejar David, satpam menggunakan walkie-talkie untuk memanggil beberapa satpam lain untuk membantunya menangkap David. Pemuda yang dianggap pengganggu di gedung kura-kura itu.

***

Ini bukan kali pertama David masuk ke gedung mewah yang berbentuk seperti kura-kura itu. Di tempat itulah, para orang-orang pintar dan yang dituakan berkumpul, untuk membuat aturan. Pemuda dengan kulit sawo matang itu berada di salah satu ruang sidang. Di ruang sidang itu, David berada di baris yang paling belakang dan mendaratkan pantatnya di bangku pojok kanan.

Tidak ada yang memperhatikan dirinya, karena selama tiga jam, jalannya persidangan penentu aturan itu, tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. David hanya diam dan mendengarkan.

Sebuah kalimat yang juga diikuti dengan ketukan palu dari pemimpin sidang pun menutup jalannya persidangan.

“Tidak ada pertanyaan lagi kan? Baiklah, semua sepakat ya? Dengan ini sidang saya tutup. Dok-dok.”

Setelah keluar dari ruang sidang itu, Johan dari kejauhan datang menghampiri David. Tepukan hangat di pundak kanan David, membuatnya menoleh ke arah datangnya tepukan itu. Tak perlu waktu yang cukup lama, Johan langsung memulai topik pembicaraan. Topik yang diajukan pun tidak jauh berbeda dengan yang dibahas di sidang tadi.

Meski sudah keluar dari ruang sidang, tidak ada yang berubah dari apa yang dilakukan David. Ia masih terdiam dan mendengarkan kata-kata yang diucapkan Johan dengan seksama. Johan adalah pemimpin sidang tadi. Dia memiliki jabatan yang sangat kuat, tidak hanya itu, ia juga punya koneksi yang sangat kuat dengan orang nomor satu alias presiden. Apapun yang keputusan sidang yang diketok palu oleh Johan pasti akan disetujui pula presiden.

Sebagai orang yang memiliki jabatan tinggi, Johan berpakaian rapi dan penuh gaya. Jas hitam, kemeja putih, dasi warna biru, celana hitam, jam tangan yang harganya puluhan juta, dan sepatu hitam mengkilap. Sangat jauh berbeda dengan David yang memakai kemeja lengan panjang hitam, celana panjang hitam yang terlihat kusam, dan sepatu butut tapi masih layak pakai.

Hari ini, Johan bersama dengan orang-orang pintar dan yang dituakan membuat peraturan yang cukup sederhana, yaitu jangan merokok di dalam gedung atau ruangan ber-AC. Aturan itu disambut baik oleh David, hal itu terlihat dari senyumannya. David memang bukan orang yang banyak bicara. Baginya, ekspresi wajah dapat menggantikan rangkaian kata-kata. Bila kita setuju atau suka dengan seseorang, cukup menjawab dengan senyuman, itu sudah lebih dari cukup.

***

Di ruang kantornya, Johan merasa puas. Aturan yang bulan lalu diketuk palu olehnya, disetujui oleh presiden. Mulai hari ini, aturan itu berlaku. Tidak hanya itu, ia merasa sudah satu langkah berjuang untuk melawan polusi udara yang ditimbulkan oleh asap rokok. Merasa bangga atas yang sudah dilakukannya, Johan merogoh saku jasnya. Kemudian ia mengeluarkan pematik api dan satu batang cerutu.

Menurutnnya, adalah hal yang pantas bila ia melakukan selebrasi kecil dengang menghisap cerutu. Cerutu berwarna coklat itupun dipotongnya lalu dibakarnya dengan api. Dihisapnya perlahan, dinikmatinya asap cerutu di mulutnya layaknya taipan, dan dihembuskannya perlahan dengan gaya sedikit sombong.

Selebrasi kecil itu diakhiri dengan keinginan untuk menlakukan sidak di beberapa area gedung kura-kura, tempat ia berkantor. Di taruhnya cerutu di asbak.

***

Berjalan-jalanlah Johan, ditemani ajudan setianya. Sudah 15 menit, ia berjalan, dan tidak ditemukan satu pun orang yang merokok. Kembalilah rasa puas Johan. Hal ini membuatnya berjalan sambil membusungkan dada, seakan mengisyaratkan kalau dirinya orang penting yang membawa perubahan revolusioner.

Tapi beberapa langkah kemudian, ia memergoki salah seorang bawahannya merokok di bawah tangga darurat. Malang si bawahan, pintu darurat tidak ditutup dengan rapat sehingga ia tertangkap tangan oleh bosnya, Johan, sedang merokok. Lebih parahnya lagi, saat ketahuan merokok, si bawahan sedang menghembuskan asap rokok. Asap yang keluar dari mulutnya membuat dirinya tidak bisa beralasan apa-apa lagi.

Melihat hal itu, Johan menindak tegas bawahannya. Johan memecat bawahannya itu. Sebelum bawahannya meninggalkan ruangan, bawahannya sempat ditanya perihal tahu tidaknya aturan baru yang berlaku.

"Hei... Kau kenapa merokok? Padahal ada aturan baru yang melarang itu. Kau tahu tidak sih aturannya?" tanya Johan dengan nada membentak.

"Tidak, Pak..." jawab si bawahan sambil tertunduk, pasrah dengan keadaan.

Mendengar bahwa bawahannya sendiri tidak tahu akan aturan baru yang ia ciptakan, dengan segera ia memanggil ajudannya. 

"Tolong kau atur supaya di setiap sudut ruangan, bahkan setiap tembok di gedung ini ditempel aturan baru. Cepat laksanakan! Kalau sampai ada lagi yang tidak patuh, akan kupecat, " perintahnya.

Ajudannya pun mengangguk dan dengan cepat ia melaksanakan apa yang ditugaskan. 

***

Esok hari, Johan sudah mendapati setiap ruangan dan setiap tembok di gedung tertempel aturan baru, yang bertuliskan 'Dilarang merokok dalam ruangan'. Dia pun lantas berkeliling, mencari-cari apakah masih ada bawahannya yang merokok sembunyi-sembunyi. 

Namun, Johan tidak mendapati ada yang yang melanggar. Ia pun kembali puas hati. Seperti biasa, ia merasa perlu melakukan selebrasi kecil. Diambilnya cerutu yang kemarin tidak dihabiskannya dan dinyalakan cerutu itu dengan api. Dihisapnya perlahan, dimainkan asapnya di mulut, kemudian dihembuskan perlahan. 

Tiba-tiba saja, David masuk ke ruang kantornya tanpa mengetuk pintu. Saat ia membuka pintu, David melihat Johan memegang cerutu di tangan kanannya. David yang tidak suka bicara, mengernyitkan dahinya. Seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kedatangannya untuk mempertanyakan mengapa temannya harus dipecat karena merokok, dikejutkan dengan apa yang dilihatnya. 

"Jo, kau merokok di ruanganmu sendiri? Kau gila... Padahal kau sendiri yang membuat aturan tidak boleh merokok," ujarnya dengan nada setengah tidak percaya atas apa yang dilihatnya.

Johan pun menjawab dengan terbata-bata.

"Ini... ini... ini bukan rokok, ini cerutu. Beda cerutu dengan rokok."

"Aku tidak peduli. Di mataku, kau sudah merokok di dalam ruangan. Kau melanggar aturan yang kau ciptakan sendiri. Aku mau kau juga menerapkan hukuman yang sama bagi orang yang melanggar hal serupa. Aku mau kau juga dipecat,"

"Aku petinggi. Aku punya jabatan di sini. Bagaimana bisa aku memecat diriku sendiri? Sudahlah... anggap hal ini tidak terjadi,"

David pun menggelengkan kepalanya. Saat menggelengkan itu, dia melihat kertas yang berisi aturan dilarang merokok. Geram dengan tindakan yang dilakukan Johan, ia pun merobek kertas itu tanpa mengucap satu kata pun. Setelah merobek kertas aturan itu, dia menatap tajam Johan. Seakan tatapan itu ingin berkata, "Kau merokok padahal kertas aturan dilarang merokok ada di depan matamu. Gila kau."

***

Dan itulah awal David merobek aturan yang tertuang di dalam kertas dan tertempel di tembok gedung kura-kura.

Dan itulah awal David merobek aturan yang tertuang di dalam kertas dan tertempel di tembok gedung kura-kura.

No comments:

Post a Comment