Friday, September 21, 2012

Cerpen


Aturan
Oleh Silvanus Alvin

Aturan,  tidak lain dan tidak bukan, bertujuan untuk menciptakan ketertiban. Bila mereka, para petinggi dan yang dituakan melahirkan aturan itu sendiri tapi tidak mematuhi sekaligus menjalankannya, bagaimana mungkin manusia-manusia lain juga mau mematuhi sekaligus menjalankannya. Niscaya, ketertiban itu, tidak lain dan tidak bukan, hanya omong kosong belaka.


David keluar dari sebuah ruangan, berjalanlah ia menuju tembok di salah satu sudut gedung megah itu. Di sudut itu, tertempel beberapa kertas-kertas. Dengan muka geram dan penuh emosi, pemuda yang memakai kaos berwarna hitam itu merobeknya. Di seberang tembok di mana ia berdiri, terdapat kertas serupa yang tertempel pula di tembok.

David berlari ke arah tembok tersebut. Terlihat garis urat nadi di tangannya, yang menunjukkan betapa emosi dirinya. Hal yang sama pun dilakukan, ia menarik kertas yang tertempel dan merobek-robeknya tidak beraturan. Jelas, apa yang dilakukannya menjadi pusat perhatian orang-orang yang berjalan di sekitarnya.

Pemuda yang sedari kecil diajarkan dengan baik oleh orangtuanya untuk mentaati aturan-aturan yang ada, kini seperti orang lepas kendali. Mungkin terjadi korsleting di otaknya akibat tidak mampu menerima kenyataan bahwa banyak aturan yang dilanggar oleh orang-orang di gedung mewah itu.

“Persetan dengan semua ini! Untuk apa ada aturan kalau tidak dijalankan,” teriaknya, tanpa memerdulikan orang di sekitarnya yang sedang melihatnya dengan tatapan aneh.

“Seeeeetan!” raungnya.

Aksi yang dilakukan David ini membuat satpam bergegas untuk mengambil tindakan. Kira-kira terdapat perbedaan jarak sejauh 50 meter dari tempat satpam berdiri menuju David, pemuda yang dikira orang gila karena merobek kertas dan berteriak tiba-tiba.

Sejurus kemudian, terjadi adegan kejar-kejaran seperti di film action. Satpam itu langsung berlari mengejar David. David pun dengan reflek alaminya berlari pula, berusaha tidak tertangkap. Kala mengejar David, satpam menggunakan walkie-talkie untuk memanggil beberapa satpam lain untuk membantunya menangkap David. Pemuda yang dianggap pengganggu di gedung kura-kura itu.

***

Ini bukan kali pertama David masuk ke gedung mewah yang berbentuk seperti kura-kura itu. Di tempat itulah, para orang-orang pintar dan yang dituakan berkumpul, untuk membuat aturan. Pemuda dengan kulit sawo matang itu berada di salah satu ruang sidang. Di ruang sidang itu, David berada di baris yang paling belakang dan mendaratkan pantatnya di bangku pojok kanan.

Tidak ada yang memperhatikan dirinya, karena selama tiga jam, jalannya persidangan penentu aturan itu, tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. David hanya diam dan mendengarkan.

Sebuah kalimat yang juga diikuti dengan ketukan palu dari pemimpin sidang pun menutup jalannya persidangan.

“Tidak ada pertanyaan lagi kan? Baiklah, semua sepakat ya? Dengan ini sidang saya tutup. Dok-dok.”

Setelah keluar dari ruang sidang itu, Johan dari kejauhan datang menghampiri David. Tepukan hangat di pundak kanan David, membuatnya menoleh ke arah datangnya tepukan itu. Tak perlu waktu yang cukup lama, Johan langsung memulai topik pembicaraan. Topik yang diajukan pun tidak jauh berbeda dengan yang dibahas di sidang tadi.

Meski sudah keluar dari ruang sidang, tidak ada yang berubah dari apa yang dilakukan David. Ia masih terdiam dan mendengarkan kata-kata yang diucapkan Johan dengan seksama. Johan adalah pemimpin sidang tadi. Dia memiliki jabatan yang sangat kuat, tidak hanya itu, ia juga punya koneksi yang sangat kuat dengan orang nomor satu alias presiden. Apapun yang keputusan sidang yang diketok palu oleh Johan pasti akan disetujui pula presiden.

Sebagai orang yang memiliki jabatan tinggi, Johan berpakaian rapi dan penuh gaya. Jas hitam, kemeja putih, dasi warna biru, celana hitam, jam tangan yang harganya puluhan juta, dan sepatu hitam mengkilap. Sangat jauh berbeda dengan David yang memakai kemeja lengan panjang hitam, celana panjang hitam yang terlihat kusam, dan sepatu butut tapi masih layak pakai.

Hari ini, Johan bersama dengan orang-orang pintar dan yang dituakan membuat peraturan yang cukup sederhana, yaitu jangan merokok di dalam gedung atau ruangan ber-AC. Aturan itu disambut baik oleh David, hal itu terlihat dari senyumannya. David memang bukan orang yang banyak bicara. Baginya, ekspresi wajah dapat menggantikan rangkaian kata-kata. Bila kita setuju atau suka dengan seseorang, cukup menjawab dengan senyuman, itu sudah lebih dari cukup.

***

Di ruang kantornya, Johan merasa puas. Aturan yang bulan lalu diketuk palu olehnya, disetujui oleh presiden. Mulai hari ini, aturan itu berlaku. Tidak hanya itu, ia merasa sudah satu langkah berjuang untuk melawan polusi udara yang ditimbulkan oleh asap rokok. Merasa bangga atas yang sudah dilakukannya, Johan merogoh saku jasnya. Kemudian ia mengeluarkan pematik api dan satu batang cerutu.

Menurutnnya, adalah hal yang pantas bila ia melakukan selebrasi kecil dengang menghisap cerutu. Cerutu berwarna coklat itupun dipotongnya lalu dibakarnya dengan api. Dihisapnya perlahan, dinikmatinya asap cerutu di mulutnya layaknya taipan, dan dihembuskannya perlahan dengan gaya sedikit sombong.

Selebrasi kecil itu diakhiri dengan keinginan untuk menlakukan sidak di beberapa area gedung kura-kura, tempat ia berkantor. Di taruhnya cerutu di asbak.

***

Berjalan-jalanlah Johan, ditemani ajudan setianya. Sudah 15 menit, ia berjalan, dan tidak ditemukan satu pun orang yang merokok. Kembalilah rasa puas Johan. Hal ini membuatnya berjalan sambil membusungkan dada, seakan mengisyaratkan kalau dirinya orang penting yang membawa perubahan revolusioner.

Tapi beberapa langkah kemudian, ia memergoki salah seorang bawahannya merokok di bawah tangga darurat. Malang si bawahan, pintu darurat tidak ditutup dengan rapat sehingga ia tertangkap tangan oleh bosnya, Johan, sedang merokok. Lebih parahnya lagi, saat ketahuan merokok, si bawahan sedang menghembuskan asap rokok. Asap yang keluar dari mulutnya membuat dirinya tidak bisa beralasan apa-apa lagi.

Melihat hal itu, Johan menindak tegas bawahannya. Johan memecat bawahannya itu. Sebelum bawahannya meninggalkan ruangan, bawahannya sempat ditanya perihal tahu tidaknya aturan baru yang berlaku.

"Hei... Kau kenapa merokok? Padahal ada aturan baru yang melarang itu. Kau tahu tidak sih aturannya?" tanya Johan dengan nada membentak.

"Tidak, Pak..." jawab si bawahan sambil tertunduk, pasrah dengan keadaan.

Mendengar bahwa bawahannya sendiri tidak tahu akan aturan baru yang ia ciptakan, dengan segera ia memanggil ajudannya. 

"Tolong kau atur supaya di setiap sudut ruangan, bahkan setiap tembok di gedung ini ditempel aturan baru. Cepat laksanakan! Kalau sampai ada lagi yang tidak patuh, akan kupecat, " perintahnya.

Ajudannya pun mengangguk dan dengan cepat ia melaksanakan apa yang ditugaskan. 

***

Esok hari, Johan sudah mendapati setiap ruangan dan setiap tembok di gedung tertempel aturan baru, yang bertuliskan 'Dilarang merokok dalam ruangan'. Dia pun lantas berkeliling, mencari-cari apakah masih ada bawahannya yang merokok sembunyi-sembunyi. 

Namun, Johan tidak mendapati ada yang yang melanggar. Ia pun kembali puas hati. Seperti biasa, ia merasa perlu melakukan selebrasi kecil. Diambilnya cerutu yang kemarin tidak dihabiskannya dan dinyalakan cerutu itu dengan api. Dihisapnya perlahan, dimainkan asapnya di mulut, kemudian dihembuskan perlahan. 

Tiba-tiba saja, David masuk ke ruang kantornya tanpa mengetuk pintu. Saat ia membuka pintu, David melihat Johan memegang cerutu di tangan kanannya. David yang tidak suka bicara, mengernyitkan dahinya. Seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kedatangannya untuk mempertanyakan mengapa temannya harus dipecat karena merokok, dikejutkan dengan apa yang dilihatnya. 

"Jo, kau merokok di ruanganmu sendiri? Kau gila... Padahal kau sendiri yang membuat aturan tidak boleh merokok," ujarnya dengan nada setengah tidak percaya atas apa yang dilihatnya.

Johan pun menjawab dengan terbata-bata.

"Ini... ini... ini bukan rokok, ini cerutu. Beda cerutu dengan rokok."

"Aku tidak peduli. Di mataku, kau sudah merokok di dalam ruangan. Kau melanggar aturan yang kau ciptakan sendiri. Aku mau kau juga menerapkan hukuman yang sama bagi orang yang melanggar hal serupa. Aku mau kau juga dipecat,"

"Aku petinggi. Aku punya jabatan di sini. Bagaimana bisa aku memecat diriku sendiri? Sudahlah... anggap hal ini tidak terjadi,"

David pun menggelengkan kepalanya. Saat menggelengkan itu, dia melihat kertas yang berisi aturan dilarang merokok. Geram dengan tindakan yang dilakukan Johan, ia pun merobek kertas itu tanpa mengucap satu kata pun. Setelah merobek kertas aturan itu, dia menatap tajam Johan. Seakan tatapan itu ingin berkata, "Kau merokok padahal kertas aturan dilarang merokok ada di depan matamu. Gila kau."

***

Dan itulah awal David merobek aturan yang tertuang di dalam kertas dan tertempel di tembok gedung kura-kura.

Dan itulah awal David merobek aturan yang tertuang di dalam kertas dan tertempel di tembok gedung kura-kura.

Monday, September 17, 2012

Yogyakarta di Hati



Malam bersanding malu pada biasan mentari pagi ini
Lelah terselip dalam jemari lembut yang menggelitik katup mata
Kuberkaca pada embun yang menghangatkan senyum dan mengistimewakan hati
Berjalan seirama tanpa rasa sungkan dan penuh tawa

Indah... Terlihat lekuk panoramamu yang hijau dan asri
Syahdu... Terdengar sepimu dalam bahagianya ruang dan waktu
Tergoda harum tanahmu yang melambai
Bukan karena mendungnya mega...
Bukan... Bukan karena ilu yang meniti...
Melainkan secercah kerinduan yang berlabuh di ujung hatimu...

Pantulan cahayamu membuka sebuah perjalanan klasik bersama teman sehati dan sejiwa,
Kutangkap kumpulan rona cahaya yang bias akan memori
Tersimpan setiap detiknya dalam lebar diafragma
Menilik wajah Keraton untuk pertama dari balik lensa
Kucerna sejarahmu sedari dulu hingga masa kini
Melalui alunan musik tradisional bersama jajaran potret yang mulai keriput

Menginjakkan kaki di tanah Malioboro untuk mengobati hati yang penasaran
Kusambut suguhan khas para pekerja yang bergulat dengan waktu,
saling menjajakan dagangan dan berebut pelanggan
Menapakki tiap jalan hingga kujejakkan kaki di tanah Tugu dan Taman Sari
sajian kuno berselera memanjakan mata ini
Kubercengkerama dengan senja yang mengalun pada sandiwara malam
Penat pun usang tersanding oleh keramahan lampu kota
Damai... dan rupawan....

Esok pun terpana oleh kokohnya Prambanan,
potongan-potongan jiwa yang kuat bak batu-batu megah mengilap
Hiasan langit dengan senyum dan tawa membahana dari sudut bibir
Lalu, mendinginnya hati dalam selimut Kaliurang,
terlumat indah dan senyap sang pesona
Dinginmu tak mampu meluluhlantakkan hati yang terjepit rasa candu agung-Mu 
Syukur...

Hingga pagi pun menyapa hati yang ingin terus berkelana
Ditemani rembulan dan hamparan bintang yang mengawang
Apa daya, waktu pun membisik paksa
Dan kubisikkan kata perpisahan pada kota yang penuh kenang
Sampai Jumpa Yogyakarta….”
 
 
Tangerang, 24 Maret 2012

Sintia Astarina & Sekar Rarasati

Tuesday, February 28, 2012

SINOPSIS BUKU - Marco van Basten : Era AC Milan dan Oranye

Marco van Basten adalah sebuah nama yang sudah tercatat dengan tinta emas di blantika sepakbola dunia.

Popularitas Van Basten bukan karena perangai yang kontroversial, tapi oleh keteladanan gaya hidup dan sikap elegan. Ia menghadapi berbagai cobaan tanpa mengeluh dan mengemis. Van Basten adalah pejuang, dan ternyata menang.

Kebintangan dan perjuangan itulah yang dituangkan oleh seorang Zeger van Herwaarden. Wartawan Belanda ini sudah lama mengikuti dan mencatat setiap perkembangan karir Van Basten.

Cara Van Herwaarden bertutur sungguh lincah dan menarik. Karena itu, buku ini menjadi lebih enak untuk dinikmati. Tokoh Van Basten dilukiskan sebagaimana adanya tanpa bumbu berlebihan.

Melalui buku ini semakin jelas bagaimana Van Basten menghadapi pergulatan batin dan jasmani. Talenta yang luar biasa terbungkus di dalam diri Van Basten, tapi di dalam tubuh itu sendiri terselip duri cedera akut yang setiap saat dapat mencabut prestasi yang tengah dititi.

Van Basten adalah satu dari Trio Oranye bersama Ruud Gullit dan Frank Rijkaard yang melambungkan The Dream Team, ac Milan. Hebatnya, allenatore Arrigo Sacchi maupun Fabio Capello mampu menggali potensi trio ini.

Pada akhirnya cedera tumit kanan Van Basten tak kuasa dikalahkan. Selamat tinggal gemerlap stadion. Dengan terpaksa rumput hijau ditinggalkan dengan hati pedih.

Apakah Van Basten menghilang dan menjadi juragan susu? Tidak, sepakbola tetap mengalir dalam darah. Empat tokoh: Rinus Michels, Johan Cruyff, Sacchi dan Capello menjadi sumber inspirasi mendalami ilmu kepelatihan.

Menjadi bintang lapangan dengan gelar Juara Piala Eropa 1988 sudah lewat. Apakah jabatan bondscoach Belanda dapat dijalankan lebih melebihi prestasi yang pernah disandang?

Jika ingin lebih mengenal dan menyelami pola pikir Marco van Basten, buku ini wajib dibaca.

Ian Situmorang
Pemimpin Redaksi Tabloid BOLA
 
Sumber: Bukukita.com

Saturday, February 25, 2012

Potret Keriput


Oleh: Sintia Astarina – Ilkom 2011

Berkelana mereguk malam
Di antara sekumpulan kunang-kunang yang temaram
Alkohol digenggam, nikotin di tangan
Bersama angin, ‘kan dia bawa karam

Ia tertunduk dalam kubangan sia-sia
Sakit merenggut jiwa muda
Dalam sisa nafas yang tersisa
Dalam sesak yang menganga

Ia menuju tua
Kota keramaian penuh dosa
Keriput hiasi wajahnya
Murka Tuhan hampiri hidupnya

Mudanya, nikotin sang sahabat penggoda
Obat-obatan berubah wujud dalam darah
Alkohol mengawang di kepala
Segalanya terpecah...

Ia yang kupandangi
Ia yang ratapi
Lalu! Bagaimana potretku?
Sama...

Thursday, December 8, 2011

Carnivaland: Charity for Kids


Carnivaland merupakan sebuah festival yang diadakan Ikatan Mahasiswa Komunikasi (I’M KOM) Universitas Multimedia Nusantara (UMN) untuk menyambut Fikom Night, yakni gathering Fakultas Ilmu Komunikasi UMN. Festival yang dimulai sejak tanggal 5 Desember 2011 ini bertujuan untuk menghimpun mahasiswa dari berbagai angkatan untuk saling mengenal dan merasakan suasana seperti berada di karnaval. Carnivaland meriahkan oleh atraksi sulap dari Magic Mania, dan diisi dengan berbagai permainan serta makanan khas karnaval.
Ajang tahunan Fikom Night ini telah memasuki tahun ketiga dan kali ini, Fikom Night 2011 berinovasi untuk berbagi keceriaan dengan anak-anak di Yayasan Cinta Rama Rama milik Andy F. Noya dan istri. Untuk diketahui, sebagian dari hasil penjualan tiket Carnival Night  telah disumbangkan ke taman bacaan yang berlokasi di BSD Serpong tersebut.
Sesuai tema acara, Carnival : Charity for Kids, Carnival menggambarkan sebuah festival dengan suasana penuh suka cita, beragam, berwarna, yang identik dengan masa kecil anak-anak yang sangat ceria dan berwarna. Sementara itu, Charity for Kids, diperuntukkan bagi anak-anak yang kurang beruntung dalam mengecap pendidikan. I’M KOM menjembatani aksi sosial ini dan mengajak seluruh mahasiswa, dosen, dan sponsorship ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini.
“Acara ini diselenggarakan untuk mengumpulkan dan mengakrabkan semua mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi dari seluruh angkatan,” ujar Ciseh Putera, Ketua Panitia Carnival Night. Ia berharap pada Carnival Night nanti, semua mahasiswa saling mengenal dan menjaga budaya kekeluargaan, dengan melepas perbedaan antar angkatan.
Carnival Night yang diselenggarakan pada 9 Desember 2011 ini akan dimeriahkan oleh grup band Boyz II Boys, kelompok musik perkusi Kandank Jurank Doank, sekaligus memperkenalkan I’M KOM Generasi II yang telah dilantik pada 1 Desember lalu.
Vicky Shidarta, Ketua I’M KOM Generasi I, berharap pada I’M KOM generasi selanjutnya dapat melanjutkan “tradisi” Fikom Night dengan lebih variatif. “Fikom Night bisa dilakukan di luar kampus agar tak hanya sekedar gathering, tapi juga sebagai malam keakraban antar mahasiswa. Kalau bisa free of charge agar makin banyak (mahasiswa) yang ikut,” tambahnya. (ris)

Thursday, October 6, 2011

Wartawan Foto

     Apa yang ada dibenak kalian ketika mendengar kata-kata di atas? Apakah seseorang dengan kamera DLSR ditangan, dan ransel besar dipunggungnya? Apakah tugasnya hanya memotret ?

    Pertanyaan mendasar itulah yang kerap difikirkan orang-orang awam. Memang ada benarnya, pewarta foto memang selalu berhubungan kamera dan kadang menggendong ransel besar berisi lensa dan peralatan pendukung lainnya. Namun ada yang tidak kalah penting dari itu, seperti kondisi fisik, wawasan, relasi dan konsep.

     Bulan Juli lalu, gue magang di Harian Kompas, tepatnya di Desk Metropolitan. Desk metropolitan adalah desk yang paling tidak bisa ditebak. Contoh saat liputan suatu acara di JCC, ternyata dapet info ada kebakaran di Tambora,  lantas gw langsung ke TKP dan motret di Tambora. Hal seperti itu yang menjadi “makanan” fotografer desk metro di media apapun.

     Setelah menyelesaikan magang di Kompas, gue melanjutkan di Harian WartaKota. Minggu awal gw magang disana, Redaktur Foto WartaKota, Alex Suban, sering memberikan masukan untuk teks foto dan sudut pemotretan. Masukan dan kritikan memang berguna, alhasil foto pertama gue dimuat dan berlanjut hingga hampir setiap hari foto jepretan gue dimuat di Wartakota atau Berita Kota. 

      Ada satu pengalaman yang pantas dibagi, waktu motret kedatangan Nazaruddin di Indonesia, gue nunggu doi dari jam 10 pagi sampai jam 1 pagi di KPK, itupun untuk 3 frame gambar yg disetor pada malam itu juga. So, dedikasi memang harus dimiliki seorang wartawan, kerja dengan tidak banyak mengeluh dan sesuai dengan deadline, adalah hal yang sangat dihargai.


       Kembali soal motret Nazar, waktu pemeriksaan awal di KPK, doi selalu nunduk, dan praktis gambar jadi jelek, karena ga keliatan sosoknya (mata). Ditambah kelopak mata atas sama bawah emang agak rapet jadi nunduk sedikit aja pasti keliatan merem, gimana menyiasatinya? Gw berinisiatif untuk motret dari low angle jadi matanya bisa keliatan.

DIPERIKSA KPK- Tersangka kasus dugaan suap wisma atlet, Muhammad Nazaruddin, tiba di Gedung KPK, Jakarta, Senin (22/8). Nazaruddin dimintai keterangan oleh Komite Etik KPK seputar tudingannya terhadap Wakil Pimpinan KPK, Chandra M Hamzah dan M Jasin.

       Intuisi, naluri, itu juga hal yang penting, gw punya satu pengalaman soal itu. Hari Selasa (27/9) siang, gw memutuskan untuk hunting buat desk metro, karena KPK dan Tipikor tidak ada ierita yang menarik (Kalah sama isu Bom Solo). Di Perjalanan gw lihat ada asap hitam mebumbung tinggi, gw kira orang bakar sampah, tapi kok gede banget, berhenti sebentar di daerah Setia Budi, gw celingak celinguk penasaran karena feeling gw ada kebakaran. Ga lama, terdengar sayup2 ada suara Branwir (Mobil Pemadam Kebakaran) ternyata benar, tuh mobil lewat, ga mikir lama gw langsung tancap gas dan ikutin Mobil Pemadam dari belakang. Ternyata kebakaran melanda daerah Benhil, Jakarta Pusat, alhasil gw juga jadi wartawan foto yang pertama dateng. 

RUMAH TERBAKAR- Sedikitnya 7 rumah dilahap si jago merah di Kelurahan Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (27/9). Kebakaran yang  diduga karena korsleting listrik ini, mendatangkan 26 mobil pemadam.

        Satu hal lagi yang harus digarisbawahi, bahwa caption(teks foto) menjadi kesatuan yang utuh dari fotojurnalistik, jangan segan bertanya walaupun jadi seorang wartawan foto. Kalo di Kompas, foto yang ga ada caption, langsung masuk “tong sampah”.  Jadi jangan lupa hakekat seorang waratawan, yaitu memberikan  informasi penting kepada masyarakat yang memerlukan.

       So bagi temen2 yang memang pengen jadi wartawan foto, semoga sedikit pengalaman gw tadi berguna bagi kalian. Salam.
RUMAH TERBAKAR- Sejumlah Petugas Pemadam Kebakaran Jakarta Pusat, dibantu warga, mencoba memadamkan api di Kelurahan Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (27/9). Dalam peristiwa ini, 7 rumah terbakar dan mendatangkan 26 mobil pemadam.




Paskalis Ludovicus
Jurnalistik 2008

Tak Kenal Maka Tak Sayang

    Kayaknya kita sering banget ga sih denger kalimat kayak gitu? Nah, saya mau share pengalaman saya saat berinteraksi dengan salah satu staff di UMN yang berhubungan sama kalimat tadi nih!

       Oiyaaa sebelumnya, ini semua semata hanyalah keinginan saya untuk berbagi, tanpa ada dorongan atau paksaan dari pihak-pihak tertentu (azeeeek!!)Jadi, seperti yang kita ketahui bersama, bahwa seseorang di kampus kita yang menjabat sebagai ketua BAAK, yaaah sebut sajalah nama nya Ibu Viani (saya kurang tahu bagaimana penulisan nama nya yang benar) adalah orang yang cukup tidak diminati oleh sebagian besar mahasiswa di kampus kita.  Banyaklah alasannya, yaa salah satu nya adalah Beliau kadang mempersulit kita dalam urusan absensi.  Saya juga sering denger dari teman-teman saya yang berbeda angkatan betapa Beliau sangat menyebalkan dan sangat menyulitkan dalam urusan absensi. 

     Hal tersebut membuat saya patah arang, mengingat selain menjadi mahasiswa, saya juga adalah seorang ibu rumah tangga, yang saat itu tengah hamil tua pula, sudah pasti saya akan berurusan dengan Beliau. Dan benar saja, setelah beberapa hari saya mengajukan surat ijin tidak masuk, Kaprodi saya meminta saya untuk datang ke kampus untuk menghadapi Bu Viani. Aaaaah beneraaan deh, malesss banget rasanya buat ke kampus lagi utk bertemu dengan Beliau. Saya sudah keburu parno dan pesimis mengingat pengalaman2 teman saya. Beberapa teman saya pun menyemangati saya.

        Singkat ceritaaaa *drum roll*

        Beliau sama sekali tidak mempersulit saya saudara-saudara. Justru sebaliknya. Beliau sangat membantu saya, dengan berusaha menghubungi dosen-dosen pengajar saya untuk memberikan tugas dan ujian susulan, bahkan Beliau juga mengatur jadwal ujian susulan. Beliau juga bilang kalau urusan surat-surat bisa menyusul dan bisa dikirim via fax. WOW!!!!


       Kemana Bu Viani yang katanya suka mempersulit mahasiswa ituu? Hahahahahas. Tapi beneran deh Beliau tuh sebenarnya baik, yaaa asal jelas aja kenapa ga masuk nya. Setelah saya melahirkan dan cukup beristirahat, saya kembali lagi ke kampus untuk ujian susulan, dan ketika bertemu Beliau, Beliau malah menyapa saya dengan ramah dan bertanya mengenai kabar saya dan anak saya. Hahahahs Sunggung saya sangat amazing saat itu. Karena saya sempat bolakbalik berurusan di kantor BAAK, jadi saya juga sempat melihat Beliau yg beberapa kali berurusan dengan mahasiswa lain yang terkena masalah yang kebanyakan adalah masalah absen, dan memang saya akui Beliau memang menyebalkan, karena menurut saya Beliau benar2 strict pada peraturan yang ada. Misalnya saat itu saya melihat ada mahasiswa yang protes kenapa dia tidak bisa mengikuti ujian, padahal menurut dia, dia selalu masuk kelas, bahkan sampai bawa dosen nya segala, tapi tetep aja loh ga dikasih, usut punya usut ternyata si anak itu, tanda tangan nya sempat berbeda, makanya Beliau menganggap si anak bolos dan nitip absen.

          Ada lagiii, si anak saat itu baru saja memberikan surat ijin sakit nya, padahal sakit nya udah dari kapan tau, dan Bu Viani ngotot pula harus jelas tanggal serta bulannya, yaaa gemana si anak ga jadi keki kan digituin. Tapi siiih yaaa kalau di liat2 terkadang tuh memang salah di anak juga sih. Yaaa nama nya kan juga kuliah yaaah, udah jadi mahasiswa jadi ya klo emang berniat ga masuk tapi tetep pengen dapet absen yaaa buru2 deh di urus, dan klo emang mau nitip tandatangan ya sadar diri aja jangan punya tandatangan yg susah ditiru.

    Oiya beberapa mahasiswa juga sempet protes mengenai kelengkapan surat2 dari rumah sakit, bahkan surat keterangan rawat inap aja gak cukup buat BAAK, mereka butuh sampai kwitansi rumah sakit, kwitansi obat, yaaah pokoknya seolah kayak mau di rembers gitu sama kampus, padahal sih enggak,buat bukti doang. Emang terkesan berlebihan sih, apalagi kalau si anak memang sudah terkapar lemah tak berdaya di brankar rumah sakit, sekaliii lagii hal itu dilakukan, karena mereka ga mau kecolongan aja, soalnya kan surat keterangan rawat inap, surat dokter sekarang udah bisa dibuat dimana saja dengan harga yang murah juga. 


         Yah buat teman2 yang masih berada disana dan akan sering berusan dengan Beliau ya sabar2 aja, sebenarnya Beliau itu baik kok asal kita nya emang bener. Dan yang paling bener adalah rajin masuk kuliah, jaga badan biar ga perlu sakit dan punya tanda tangan yang mudah ditiru. Belakangan Beliau juga sangat membantu dalam urusan transkrip nilai yang tak kunjung di tandatangani karena masalah yang sedikit lucu.

Segala sesuatu memang mesti dilihat lebih dekat sih kalau kata Sherina Munaf, dan kau akan mengerti.


Salam,


MamaSiswa











Izzy Tanasale, ILKOM 2007.