Showing posts with label Our Voice. Show all posts
Showing posts with label Our Voice. Show all posts

Thursday, October 6, 2011

Wartawan Foto

     Apa yang ada dibenak kalian ketika mendengar kata-kata di atas? Apakah seseorang dengan kamera DLSR ditangan, dan ransel besar dipunggungnya? Apakah tugasnya hanya memotret ?

    Pertanyaan mendasar itulah yang kerap difikirkan orang-orang awam. Memang ada benarnya, pewarta foto memang selalu berhubungan kamera dan kadang menggendong ransel besar berisi lensa dan peralatan pendukung lainnya. Namun ada yang tidak kalah penting dari itu, seperti kondisi fisik, wawasan, relasi dan konsep.

     Bulan Juli lalu, gue magang di Harian Kompas, tepatnya di Desk Metropolitan. Desk metropolitan adalah desk yang paling tidak bisa ditebak. Contoh saat liputan suatu acara di JCC, ternyata dapet info ada kebakaran di Tambora,  lantas gw langsung ke TKP dan motret di Tambora. Hal seperti itu yang menjadi “makanan” fotografer desk metro di media apapun.

     Setelah menyelesaikan magang di Kompas, gue melanjutkan di Harian WartaKota. Minggu awal gw magang disana, Redaktur Foto WartaKota, Alex Suban, sering memberikan masukan untuk teks foto dan sudut pemotretan. Masukan dan kritikan memang berguna, alhasil foto pertama gue dimuat dan berlanjut hingga hampir setiap hari foto jepretan gue dimuat di Wartakota atau Berita Kota. 

      Ada satu pengalaman yang pantas dibagi, waktu motret kedatangan Nazaruddin di Indonesia, gue nunggu doi dari jam 10 pagi sampai jam 1 pagi di KPK, itupun untuk 3 frame gambar yg disetor pada malam itu juga. So, dedikasi memang harus dimiliki seorang wartawan, kerja dengan tidak banyak mengeluh dan sesuai dengan deadline, adalah hal yang sangat dihargai.


       Kembali soal motret Nazar, waktu pemeriksaan awal di KPK, doi selalu nunduk, dan praktis gambar jadi jelek, karena ga keliatan sosoknya (mata). Ditambah kelopak mata atas sama bawah emang agak rapet jadi nunduk sedikit aja pasti keliatan merem, gimana menyiasatinya? Gw berinisiatif untuk motret dari low angle jadi matanya bisa keliatan.

DIPERIKSA KPK- Tersangka kasus dugaan suap wisma atlet, Muhammad Nazaruddin, tiba di Gedung KPK, Jakarta, Senin (22/8). Nazaruddin dimintai keterangan oleh Komite Etik KPK seputar tudingannya terhadap Wakil Pimpinan KPK, Chandra M Hamzah dan M Jasin.

       Intuisi, naluri, itu juga hal yang penting, gw punya satu pengalaman soal itu. Hari Selasa (27/9) siang, gw memutuskan untuk hunting buat desk metro, karena KPK dan Tipikor tidak ada ierita yang menarik (Kalah sama isu Bom Solo). Di Perjalanan gw lihat ada asap hitam mebumbung tinggi, gw kira orang bakar sampah, tapi kok gede banget, berhenti sebentar di daerah Setia Budi, gw celingak celinguk penasaran karena feeling gw ada kebakaran. Ga lama, terdengar sayup2 ada suara Branwir (Mobil Pemadam Kebakaran) ternyata benar, tuh mobil lewat, ga mikir lama gw langsung tancap gas dan ikutin Mobil Pemadam dari belakang. Ternyata kebakaran melanda daerah Benhil, Jakarta Pusat, alhasil gw juga jadi wartawan foto yang pertama dateng. 

RUMAH TERBAKAR- Sedikitnya 7 rumah dilahap si jago merah di Kelurahan Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (27/9). Kebakaran yang  diduga karena korsleting listrik ini, mendatangkan 26 mobil pemadam.

        Satu hal lagi yang harus digarisbawahi, bahwa caption(teks foto) menjadi kesatuan yang utuh dari fotojurnalistik, jangan segan bertanya walaupun jadi seorang wartawan foto. Kalo di Kompas, foto yang ga ada caption, langsung masuk “tong sampah”.  Jadi jangan lupa hakekat seorang waratawan, yaitu memberikan  informasi penting kepada masyarakat yang memerlukan.

       So bagi temen2 yang memang pengen jadi wartawan foto, semoga sedikit pengalaman gw tadi berguna bagi kalian. Salam.
RUMAH TERBAKAR- Sejumlah Petugas Pemadam Kebakaran Jakarta Pusat, dibantu warga, mencoba memadamkan api di Kelurahan Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (27/9). Dalam peristiwa ini, 7 rumah terbakar dan mendatangkan 26 mobil pemadam.




Paskalis Ludovicus
Jurnalistik 2008

Tak Kenal Maka Tak Sayang

    Kayaknya kita sering banget ga sih denger kalimat kayak gitu? Nah, saya mau share pengalaman saya saat berinteraksi dengan salah satu staff di UMN yang berhubungan sama kalimat tadi nih!

       Oiyaaa sebelumnya, ini semua semata hanyalah keinginan saya untuk berbagi, tanpa ada dorongan atau paksaan dari pihak-pihak tertentu (azeeeek!!)Jadi, seperti yang kita ketahui bersama, bahwa seseorang di kampus kita yang menjabat sebagai ketua BAAK, yaaah sebut sajalah nama nya Ibu Viani (saya kurang tahu bagaimana penulisan nama nya yang benar) adalah orang yang cukup tidak diminati oleh sebagian besar mahasiswa di kampus kita.  Banyaklah alasannya, yaa salah satu nya adalah Beliau kadang mempersulit kita dalam urusan absensi.  Saya juga sering denger dari teman-teman saya yang berbeda angkatan betapa Beliau sangat menyebalkan dan sangat menyulitkan dalam urusan absensi. 

     Hal tersebut membuat saya patah arang, mengingat selain menjadi mahasiswa, saya juga adalah seorang ibu rumah tangga, yang saat itu tengah hamil tua pula, sudah pasti saya akan berurusan dengan Beliau. Dan benar saja, setelah beberapa hari saya mengajukan surat ijin tidak masuk, Kaprodi saya meminta saya untuk datang ke kampus untuk menghadapi Bu Viani. Aaaaah beneraaan deh, malesss banget rasanya buat ke kampus lagi utk bertemu dengan Beliau. Saya sudah keburu parno dan pesimis mengingat pengalaman2 teman saya. Beberapa teman saya pun menyemangati saya.

        Singkat ceritaaaa *drum roll*

        Beliau sama sekali tidak mempersulit saya saudara-saudara. Justru sebaliknya. Beliau sangat membantu saya, dengan berusaha menghubungi dosen-dosen pengajar saya untuk memberikan tugas dan ujian susulan, bahkan Beliau juga mengatur jadwal ujian susulan. Beliau juga bilang kalau urusan surat-surat bisa menyusul dan bisa dikirim via fax. WOW!!!!


       Kemana Bu Viani yang katanya suka mempersulit mahasiswa ituu? Hahahahahas. Tapi beneran deh Beliau tuh sebenarnya baik, yaaa asal jelas aja kenapa ga masuk nya. Setelah saya melahirkan dan cukup beristirahat, saya kembali lagi ke kampus untuk ujian susulan, dan ketika bertemu Beliau, Beliau malah menyapa saya dengan ramah dan bertanya mengenai kabar saya dan anak saya. Hahahahs Sunggung saya sangat amazing saat itu. Karena saya sempat bolakbalik berurusan di kantor BAAK, jadi saya juga sempat melihat Beliau yg beberapa kali berurusan dengan mahasiswa lain yang terkena masalah yang kebanyakan adalah masalah absen, dan memang saya akui Beliau memang menyebalkan, karena menurut saya Beliau benar2 strict pada peraturan yang ada. Misalnya saat itu saya melihat ada mahasiswa yang protes kenapa dia tidak bisa mengikuti ujian, padahal menurut dia, dia selalu masuk kelas, bahkan sampai bawa dosen nya segala, tapi tetep aja loh ga dikasih, usut punya usut ternyata si anak itu, tanda tangan nya sempat berbeda, makanya Beliau menganggap si anak bolos dan nitip absen.

          Ada lagiii, si anak saat itu baru saja memberikan surat ijin sakit nya, padahal sakit nya udah dari kapan tau, dan Bu Viani ngotot pula harus jelas tanggal serta bulannya, yaaa gemana si anak ga jadi keki kan digituin. Tapi siiih yaaa kalau di liat2 terkadang tuh memang salah di anak juga sih. Yaaa nama nya kan juga kuliah yaaah, udah jadi mahasiswa jadi ya klo emang berniat ga masuk tapi tetep pengen dapet absen yaaa buru2 deh di urus, dan klo emang mau nitip tandatangan ya sadar diri aja jangan punya tandatangan yg susah ditiru.

    Oiya beberapa mahasiswa juga sempet protes mengenai kelengkapan surat2 dari rumah sakit, bahkan surat keterangan rawat inap aja gak cukup buat BAAK, mereka butuh sampai kwitansi rumah sakit, kwitansi obat, yaaah pokoknya seolah kayak mau di rembers gitu sama kampus, padahal sih enggak,buat bukti doang. Emang terkesan berlebihan sih, apalagi kalau si anak memang sudah terkapar lemah tak berdaya di brankar rumah sakit, sekaliii lagii hal itu dilakukan, karena mereka ga mau kecolongan aja, soalnya kan surat keterangan rawat inap, surat dokter sekarang udah bisa dibuat dimana saja dengan harga yang murah juga. 


         Yah buat teman2 yang masih berada disana dan akan sering berusan dengan Beliau ya sabar2 aja, sebenarnya Beliau itu baik kok asal kita nya emang bener. Dan yang paling bener adalah rajin masuk kuliah, jaga badan biar ga perlu sakit dan punya tanda tangan yang mudah ditiru. Belakangan Beliau juga sangat membantu dalam urusan transkrip nilai yang tak kunjung di tandatangani karena masalah yang sedikit lucu.

Segala sesuatu memang mesti dilihat lebih dekat sih kalau kata Sherina Munaf, dan kau akan mengerti.


Salam,


MamaSiswa











Izzy Tanasale, ILKOM 2007.

Sunday, September 25, 2011

Account Executive Warta Kota, Selalu Ceria, Kompak dan Kekeluargaan Walaupun Dikejar Target Jutaan

         Pengalaman Magang/ Kerja Libur
oleh : Patricia Vicka, Public Relation 2008


          Liburan semester ini, gue kerja di Warta Kota, Kompas menjadi Account Executive(AE).  Saat pertama kali masuk menjadi AE, gue sempat takut dan grogi karena kurang mengerti apa itu AE beserta tugas-tugasnya. Tetapi berjalannya waktu, banyak senior  AE yang membantu dan membimbing gue sehingga dua minggu kemudian gue sudah mengerti dan mulai bisa menjalankan tugas-tugas AE.

        Job desk AE itu adalah mencari uang agar roda produksi Koran tetap berjalan semestinya dengan cara menawarkan space iklan kepada perusahaan-perusahaan. Tiap AE memegang bidang-bidang tertentu seperti bidang Retail, Properti, Entertain, Farmasi dll. Satu AE biasanya memegang 2 atau 3 bidang. Tak hanya menawarkan space, para AE terkadang menjadi konsultan perusahaan saat membuat iklan karena AE sendiri terkadang harus membuat iklan advertorial perusahaan.

         Tugas AE itu simple, tetapi targetnyalah yang sulit dan berat karena  tiap bulan, sang Manager menargetkan omset penjualan space iklan satu orang AE per bidang  adalah puluhan juta rupiah sampai ratusan juta rupiah. Itulah sebabnya para AE terlihat stress menjelang akhir bulan.
Tapi target gila itu tidak membuat para AE menjadi stress dan mengeluh. Mereka saling membantu dan kerjasama untuk dapat memenuhi target. Di antara para AE Warta Kota gaada kata Jaim dan senioritas. Justru mereka saling main cela-celaan dan saling ngebanyol sehingga membuat suasana menjadi ceria dan fun.
Manager gue saja kocak dan ga jaim. Kalau kekantor, pakai baju santai, Cuma kaos dan celana panjang.  Ngobrol sama anak buahnya pake gue, elo. Terus kalau ketawa, suaranya kenceng banget sampe terdengar ke seluruh ruangan.  Supervisor gw lebih gokil lagi. Dia sering membuat semua AE tertawa ngakak kerena  sering bertingkah laku “bodoh”, suka ngelawak, suka meledek Ae yang lain dan sering ngumpetin sepatu AE lainnya. AE-AE memanggil dia dengan sebutan Bangbro.

         Minggu pertama gue jadi AE, sang ibu Manager mengenalkan gue pada seisi ruangan lalu dia menyuruh gue untuk memahami dan menghafalkan  product knowledge. Minggu berikutnya gue diajak pergi meeting ke klien-klien bersama Bangbro. Ada sepuluh perusahaan dan advertising agency yang sudah gue datangi seperti XL, Nexian, Alfa Mart, bank BTN, bank DKI, JC&K, Maestro, PT KAI, Densu, Inisiatif dll. Setiap rapat dengan klien, gue pasti akan mendapat ilmu baru mengenai branding dan pemasaran karena klien-klien gue adalah PR atau Marcom dari perusahaan itu.
Dan pada minggu keempat, Bangbro memberi  gue tugas untuk mempromosikan tabloid TAMU (Warta Kota Muda). TAMU adalah Tabloid khusus untuk anak SMA. Mulailah petualangan gue menjelajahi sekolah di JABODETABEK. Ada 20 sekolah yang sudah gue datangi dan ajak kerja sama seperti sekolah Kanisius, BPK Penabur 1, SMAN 78, SMA Al Azhar, SMAN 68 dll. Di akhir bulan gue berhasil melakukan kerja sama dengan SMA Sang Timur untuk mengadakan event workshop fotografi di acara Sangtimur Cup yang diadakan pada bulan Oktober mendatang.

          Asyiknya kerja jadi AE di Warta Kota adalah suasana kerjanya yang  ga kaku, ga jaim, ceria dan fun. Tiap pagi hari sebelum berangkat ke klien, suasana kantor pasti ramai dengan celotehan dan tawa para AE. Mereka saling meledek dan ngelawak. Gue sering tertawa terbahak-bahak sampai keluar air mata mendengar banyolan mereka. Maklum, mereka masih pada muda, umur mereka kebanyakan 22 tahun sampai 30 tahun jadi becandaannya masih nyambung sama gue.

          Siang hari suasana kantor sedikit kosong karena para AE pergi meeting dengan klien. Dan sering terdengar lagu-lagu dangdut atau rock atau clubbing mengalun dari komputer para AE. Sore hari, suasana kantor menjadi ramai kembali karena para AE itu sudah balik dari klien. Mereka biasanya saling sharing dan bercerita hasil meeting ke Bangbro. Atau berkumpul sedekar ngerumpi, arisan dan isengin AE lainnya.
Kekompakkan dan kekeluargaan tidak hanya terjadi di dalam kantor, tapi juga di luar kantor. Saat makan siang, kami sering janjian makan bersama. Atau selepas pulang kantor kami suka janjian nonton bareng atau sekedar nongkrong-nongkrong melepas penat.

           Walaupun terlihat santai dan fun, tetapi target penjualan space iklan cukup tinggi, sekitar 5 M untuk satu bulan. Para AE itu harus berjuang mati-matian untuk mencapai target 5 M itu. Tak heran lewat  jam kantor, masih banyak AE yang ‘ngetem’ di dalam kantor dan lembur berhari-hari. Hampir semua AE di warta Kota adalah typical orang yang gila kerja. Di akhir bulan, kerja keras itu tidak sia-sia karena target selalu bisa tercapai.

              Itulah sedikit sharing dari gue bekerja libur di Warta Kota. Tak hanya pengalaman dan ilmu yang gue dapat, tetapi juga keluarga dan teman-teman baru yang kompak dan saling mendukung. Buat teman-teman/ adik-adik kelas yang belum merasakan kerja libur, gue amat menyarankan agar liburan tahun depan dapat kalian manfaatkan untuk mencari ilmu dengan cara kerja libur.







Tuesday, February 22, 2011

Nama Besar Untuk Kemajuan, atau Sekedar Daya Tarik ?

Sebuah institusi baru membutuhkan daya tarik untuk menaikkan namanya ke permukaan. Hal ini lumrah dilakukan sebagai  batu loncatan awal dalam pembentukan corporate sustainability. Seperti halnya Universitas Multimedia Nusantara, sebuah universitas baru yang dibentuk oleh salah satu raksasa media di Indonesia, yang menarik calon mahasiswa melalui banyak promosi seperti pembangunan gedung universitas dengan luas lahan 8 ha, teknologi yang berbasis ICT, hingga mengangkat Yohanes Surya sebagai rektor.
Yang ingin dibahas di sini adalah apakah Prof. Yohanes Surya yang ditunjuk sebagai rektor pertama di UMN murni untuk memajukan sebuah lembaga pendidikan atau hanya sekadar kepentingan entitas bisnis semata? 

                Reputasi Prof. Yohanes Surya tidak perlu dipertanyakan lagi. Dia adalah guru besar bidang ilmu pengetahuan, khususnya ilmu fisika dan matematika. Berbagai prestasinya sudah diakui bahkan sampai ke taraf internasional. Bisa dibayangkan betapa besar daya tarik universitas yang dipimpin oleh beliau. Menurut data yang didapat, UMN mengalami peningkatan yang signifikan dilihat dari jumlah mahasiswa yang diterima dari tahun ke tahun. Tahun pertama yang hanya sekitar 200 orang, dibandingkan di tahun 2010 yang mencapai 1200 orang.  Kemajuan yang luar biasa bagi sebuah universitas yang baru berdiri sejak tahun 2005.

                Wafi, salah satu mahasiswa angkatan 2009 mengatakan tertarik masuk ke UMN salah satunya karena dipimpin oleh Yohanes Surya. ” Gue tertarik daftar di UMN karena rektornya. Kan Yohanes Surya terkenal tuh,” ujar Wafi. Namun ia pun turut mempertanyakan keberadaan sang rektor. ” Terakhir kali ngeliat pas seminar fisika emosi, itu semester dua. Kalo Yohanes Prayitno (pelaksana harian rektor-red) lumayan sering ngeliat,” ujarnya sambil berkelakar.

                Hira Meidiana, pembantu rektor tiga UMN tidak menyalahkan fakta tersebut. Ia memberikan jawaban bahwa kesibukan Pak Yo menjadi alasan utama kejarang hadirannya di kampus. Selain menjabat sebagai  Ketua Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI), ia pun mendirikan Surya Institute. Organisasi ini berkonsentrasi dalam pelatihan untuk guru dan siswa dalam mata pelajaran fisika dan matematika.  ” Karena yang bersangkutan sibuk, dan akan selalu sibuk karena pekerjaannya banyak sekali,” ujar Hira.

                Menurut salah satu satpam UMN, sang rektor jarang sekali datang ke kampus karena lahan parkir yang dikhususkan untuk parkir mobilnya  selalu terlihat kosong melompong. Papan penanda parkir ’KHUSUS REKTOR’ tampak terbengkalai. ” Oh, dia mah sebulan bisa dihitung pake jari datang ke sini, malahan seminggu pernah full ngga kelihatan,” ujar satpam itu.

                Hal ini kembali menimbulkan pertanyaan baru. Mengapa UMN tetap memilih Yohanes Surya untuk menduduki posisi sebagai rektor di tengah kesibukannya? Rektor menjadi tonggak utama suatu universitas di mana seluruh aspek untuk kemajuan seluruhnya terpusat pada kebijakannya. Bayangkan saja jika seorang rektor tidak memiliki waktu bagi universitasnya. Bagai anak ayam yang kehilangan induknya, tidak tahu arah kemana akan berjalan.

                Jawaban dari sisi marketing banyak terlontar dari mantan kepala staf BAAK UMN. Ia berpendapat bahwa nama UMN itu harus terdengar dulu, salah satunya dengan meminta tolong pada Pak Yo. Malahan rentetan pertanyaan retoris ditujukan pada kami. ” Kamu anak ilmu komunikasi kalo memasarkan sesuatu gimana? Kalo bisa semuanya bagus kan? Biar pemasarannya gampang kan?” Apalagi kembali ia membahas soal sustainability kampus. ” Dia ingin membantu UMN, ya pengen nama UMN terdengar. Kalo ngga dikenal, sustainability nya ngga akan langgeng, ngga panjang,” lanjut Hira.    

                Tabir sedikit terkuak setelah sebuah pernyataan terlontar. ” Awalnya, ketika Pak Yo ingin, bukan ingin sih, tapi diminta menjadi rektor karena mungkin Pak Jakob ingin seseorang yang bisa membawa nama UMN ke permukaan”, papar Hira. Sebuah alasan yang mungkin bisa menjadi jawaban akan minimnya eksistensi rektor di kampus. Ia menambahkan bahwa visi Prof. Yohanes Surya adalah ingin memajukan pendidikan di Indonesia dengan cara memberikan beasiswa bagi anak-anak di luar daerah sehingga perkembangan pendidikan lebih merata. Berbeda dengan visi UMN yang lebih condong untuk memajukan universitas dan anak didiknya. ” Misalkan visi UMN kan majuin UMN. Fokus di UMN. Sedangkan Pak Yo lebih melihat Indonesia,” ujarnya demikian.       

                Nama Prof. Yohanes Surya menjadi dongkrak supaya nama UMN ikut melejit ke permukaan, baik dari sisi sustainability maupun dari sisi bisnis. Implisit memang, namun terlihat jelas dari pemaparan Hira Meidiana menanggapi pergunjingan soal rektor ini. Tetapi perlu diperhatikan bahwa sebagian mahasiswa menganggap kampus hanya concern di sisi bisnis saja. Misalnya Roswell, mahasiswa UMN tahun ketiga mengatakan nama Yohanes Surya digunakan untuk mendongkrak nama UMN. ” UMN cuma pake namanya doang. UMN mau cari untung dulu,” katanya. (ASN/AIM)
               

Saturday, February 19, 2011

Organisasi dan Media Kampus, Senjata Penting Demokrasi



Penulis adalah insinyur jiwa manusia

                Kutipan di atas saya ambil dari buku yang ditulis oleh Hong Liu tentang kehidupan Pramoedya A. Toer, dalam buku yang berjudul Pram dan Cina. Saya mencoba untuk memahami apa yang sebenarnya hendak disampaikan oleh Pram melalui kutipan sederhana itu. Melalui metafora itu, Pram hendak menyadarkan para kaum terpelajar untuk bertanggung jawab pada masyarakat dan bangsa. Lantas tanggung jawab apa yang dimaksud? Tanggung jawab yang dimaksudkan adalah bagaimana seorang yang terpelajar bersikap kritis terhadap sesuatu yang dianggapnya melenceng dari nilai moral, kebenaran serta demokrasi yang bertanggung jawab.

                Menurut Pram, penulis dan tulisannya adalah hal penting yang tidak dapat dipisahkan. Melalui buah pemikiran kritis dan dinamis yang dimiliki oleh seorang penulis maka akan menelurkan karya tulis yang menggugah, yang memiliki dasar kekuatan untuk menggerakan. Dari tulisan, jiwa manusia akan terbakar dan menyala-nyala. Dari sebuah tulisan, rasa empati dapat tumbuh. Dari sebuah tulisan, negara perlu waspada! Saat semua orang terinspirasi oleh tulisan yang lahir dari buah pemikiran yang kritis, saat itu pula jiwa kita bergolak dan tergerak. Tulisan menjadi wadah penulis untuk berekspresi, mencurahkan segala isi hati dan pikirannya.

                Tulisan sederhana ini terinspirasi oleh 140 karakter yang  ditulis oleh teman-teman mahasiswa  Universitas Multimedia Nusantara (UMN) di situs jejaring twitter. Saya membaca timeline dan mem-follow sejmulah akun yang notabene adalah wujud dari organisasi kampus. Tweet yang disampaikan dalam akun tersebut secara garis besar bertujuan untuk membuat sebuah pergerakan. Mengajak semua elemen akademisi, terutama mahasiswa, untuk menyampaikan aspirasinya. Organisasi menjadi fasilitator untuk menampung  aspirasi dan tulisan yang nantinya diteruskan pada rektorat. Menurut saya, hal seperti ini adalah keren, menarik dan perlu diapresiasi positif. Seperti pada umumnya di universitas lain, UMN akhirnya juga punya wadah sebagai corong mahasiswa, agar komunikasi antara mahasiswa dengan pihak kampus dapat terjalin secara seimbang.

                Kita semua sadar, UMN adalah universitas yang belum lama berdiri. Usianya saja kurang lebih baru empat tahun. Ibarat anak kecil atau remaja, kampus ini masih dalam tahap mencari jati diri yang utuh. Tentu masih banyak kekurangan yang perlu dibenahi. Inti permasalahannya terletak pada kurangnya transparansi dan kurang idealnya komunikasi yang terjalin antara mahasiswa dengan kampus. Tapi, semua itu bukan halangan. Hal ini terbukti dengan adanya semangat untuk menyeimbangkan peta kekuatan antara mahasiswa dengan otoritas kampus. Kehidupan intra kampus adalah arena kebebasan mimbar akademik yang demokratis. Dimana aspirasi dan suara tidak seharusnya ditutup-tutupi. 

Berorganisasi dan berpendapat adalah wahana pembelajaran mahasiswa untuk belajar berpolitik di dalam kampus. Dengan instrumen sistem organisasi kemahasiswaan yang egaliter yang merupakan wujud dari simulasi pemerintahan kecil yang ditandai dengan adanya student government. Lengkap menyerupai kelembagaan formal seperti layaknya sistem pemerintahan negara. Mulai dari badan legislatif mahasiswa dan badan eksekutif mahasiswa baik di tingkat universitas maupun jurusan. Selain itu masih dilengkapi oleh badan-badan kegiatan otonom mahasiswa seperti pers mahasiswa yang menerbitkan koran atau majalah kampus sebagai media tulisan.  Tentunya dari organisasi-organisasi ini diharapkan akan memunculkan pemikiran-pemikiran yang berani, muktahir, kritis dan relevan dengan keadaan yang berlaku saat ini.

                Saya melihat, sudah ada jiwa dari teman-teman mahasiswa UMN yang tergerak untuk sebuah perubahan. Semua mahasiswa, semua angkatan bersinergi untuk menyumbang aspirasi untuk mewujudkan cita-cita demokrasi yang sehat. Bukan memaki tetapi berjuang untuk mencapai tujuan bersama. Berharap, semangat itu tidak luntur dan terus berkobar sampai apa yang diperjuangkan tercapai.

                Sedikit hal yang bisa saya bagi sebagai gambaran usaha perjuangan mahasiswa dalam kancah perubahan Indonesia. Sejarah pernah mencatat pada tahun 1979-1980, muncul sebuah kelompok yang dikenal dengan sebutan Petisi 50 yang menuntut kebebasan berpendapat dan berpolitik yang lebih luas pada era orde baru. Kelompok ini terdiri dari politisi, aktivis mahasiswa, akademisi dan tokoh sipil yang bergabung untuk mengkritisi pemerintahan Soeharto melalui media cetak dan selebaran yang berisi kasian politik pemerintahan orba.

                Lahirnya Petisi 50 membuat Soeharto geram. Sebagai balasannya, Soeharto mencekal para penandatangan Petisi 50 yang terdiri dari 50 orang tokoh nasional termasuk mahasiswa. Tujuan dari kelompok ini adalah sebagai pressure group yang senantiasa hadir menekan pemerintah, sehingga membuat pemerintahan Soeharto sering direpotkan oleh pernyataan-pernyataannya yang tajam. 

                Pada tahun 1984, kelompok ini menuduh Soeharto telah menciptakan negara dalam satu partai. Memunculkan banyak penentang, hingga meletus peristiwa Tanjungpriok yang menewaskan sejumlah orang. Soeharto bereaksi keras, dan pencekalan pun tak terhindari. Semua anggota Petisi 50 dihilangkan hak perdatanya dan dimasukan kedalam penjara.

                Namun, apa yang sudah terjadi pada Petisi 50 tidak menyurutkan niat masyarakat terutama mahasiswa untuk membuat perubahan. Usaha terus dilakukan oleh setiap kampus melalui media kampus masing-masing. Berawal dari organisasi yang menjadi mimbar kebebasan berekspresi, menciptakan sebuah tatanan demokrasi yang didambakan, kemudian memunculkan aspirasi melalui tulisan yang tertuang di dalam media kampus. Mahasiswa menjadi pers yang tajam, mengingat media masa saat orba sangat dikekang dan dilarang untuk menyinggung pemerintah. Pers mahasiswa menjadi kendaraan untuk melemparkan suara kemerdekaan berpendapat.

                Setidaknya dapat dicatat di UGM pada tahun 1986, terdapat 47 penerbitan fakultas dan jurusan. Para penerbitan dari masing-masing fakultas itu kemudian mengadakan Seminar Pers Mahasiswa se-UGM yang sepakat untuk menerbitkan media tingkat universitas, berbentuk majalah yang berorientasi intelektualisme, bukan politik. Majalah yang terbit pertama kali Balairung, pada 8 Januari 1986. Sampai dicabut ijinnya, Juli 1990, Balairung terbit sekitar 14 kali dengan tiras sebesar 2500-5000 eksemplar.

                Dari sejarah di atas, saya ingin menggaris bawahi, bahwa organisasi kampus dan media kampus merupakan senjata terpenting untuk melahirkan demokrasi yang diidam-idamkan. Di sinilah semua aspirasi ditampung dan disiarkan. Di sinilah kebebasan berpendapat dijunjung tinggi. Dari sebuah pemikiran yang kritis, lalu kemudian dituangkan dalam tulisan maka sebuah pergerakan akan lahir.

                Mari, secara bersama-sama kita ciptakan nuansa demokrasi yang bebas, sehat dan bertanggung jawab. Belajar dari pengalaman yang sudah pernah terjadi, bahwa sebuah rezim dapat tumbang hanya karena pemikiran yang kritis dan cita-cita reformasi yang menjunjung moral serta etika. Mari kita tumbuhkan suasana demokrasi di lingkungan kampus untuk menciptakan arus komunikasi dua arah yang seimbang. Organisasi kampus dan media kampus, sekali lagi, memiliki peran penting untuk terciptanya sebuah pergerakan dan perubahan. Semoga api semangat dalam diri kita tidak pernah padam hingga perubahan yang kita cita-citakan tercapai. 





Albertus Magnus Prestianta

Mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara,
Jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik 2007


S.W.A.T dan Jurnalistik

S.W.A.T. berarti Special Weapons and Tactics. Jurnalistik, menurut Ensiklopedi Indonesia adalah bidang profesi yang mengusahakan penyajian informasi tentang kejadian dan atau kehidupan sehari-hari secara berkala, dengan menggunakan sarana-sarana penerbitan yang ada.

        Nah, mungkin pembaca bingung mengapa dua hal yang berbeda ini, saya sajikan dalam tulisan di kesempatan kali ini. Tulisan ini terinspirasi setelah saya menonton ulang film S.W.A.T. Filmnya bagus, alur cerita menarik dan banyak adegan tembak-tembakkan. Namun, bukan persoalan film action-nya yang akan saya kupas. Tapi saya akan coba membuktikan betapa penting jurnalistik dalam penerapannya di kehidupan sehari-hari.

         Sebelum saya masuk ke penjabaran yang lebih dalam, film ini diawali dari aksi perampokan di bank. Anggota S.W.A.T., Brian Gamble (Jeremy Renner) terpaksa menembak sandera untuk melumpuhkan penyanderanya. Sesuai dengan aturan S.W.A.T. Gamble dianggap bersalah dan dikeluarkan dari S.W.A.T., dan kepolisian LA. Sementara partnernya, Jim Street (Colin Farrell) hanya dipindahkan ke bagian gudang. 
        
         Konflik antarpartner menjadi salah satu yang ditawarkan S.W.A.T. Wajar kalau penonton bisa menebak kehadiran kembali Gamble untuk balas dendam. Selanjutnya, muncul "Hondo" Harrelson (Samuel L. Jackson), anggota SWAT senior yang ditugasi membentuk tim baru. Ada Jim Street yang pernah di-blacklist. Lalu Chris Sanchez (Michelle Rodriguez), polisi wanita yang sudah tiga kali ditolak masuk S.W.A.T. Pilihan anggota wanita ini memang agak mengada-ada. Sebab, di sepanjang sejarahnya S.W.A.T. tak pernah mencatat satu pun anggota perempuan. Selanjutnya, ada Deacon "Deke" Kay (rapper LL Cool J), polisi hitam yang lebih sering membuat kekacauan. Hanya TJ McCabe (Josh Charles) dan Michael Boxer (Brian van Holt) yang berkenan di hati Fuller.

           Pembuat film berusaha menaikkan tempo ketegangan. Tim S.W.A.T. Hondo ditugasi mengawal Alex Montel (Oliver Martinez). Si penjahat internasional ini melontarkan tawaran US$ 100 juta bagi siapa pun yang bisa membebaskannya dari kawalan S.W.A.T. Sekali lagi, bisa ditebak. Para penjahat geger karena tergiur. Tim S.W.A.T. kelimpungan menghadapi berbagai upaya membebaskan Montel.”

        Bagian yang saya beri warna merah, merupakan kunci untuk menghubungkan S.W.A.T dan jurnalistik. Jika para pembaca pernah menonton film ini, maka selesainya si penjahat melontarkan tawaran US$ 100 juta untuk kebebasan dirinya, media massa langsung serentak memberitakan kejadian ini. Inilah poin penting yang akan saya jelaskan. Hemat saya, media massa tidak boleh menyiarkan begitu saja. Karena, seperti yang kita semua ketahui, penciptaan opini publik didukung oleh salah satu faktor, yaitu pemberitaan oleh jurnalis / media massa. 

          Akibatnya, fatal. Tidak hanya memberi informasi bahwa si penjahat, Alex Montel, sudah tertangkap tapi juga memberi informasi bagi para penjahat lain untuk membebaskan dirinya.
Memang kejadian ini, saya ambil dari film. Tapi, kesalahan yang mirip seperti ini mungkin terjadi di dunia nyata. Menurut Bill Kovaach, Committee of Concerned Journalist, “Makin bermutu jurnalisme di dalam masyarakat, maka makin bermutu juga informasi yang didapat masyarakat bersangkutan. Terusannya, makin bermutu pula keputusan yang dibuat.”

Jadi, poin yang ingin saya sampaikan adalah bahwa media massa dalam praktik jurnalistik harus hati-hati. Apa yang disampaikkan ke masyarakat belum tentu memiliki respon serupa yang diinginkan oleh si penulis. Pada kasus di film ini, bukannya menjadi info yang berguna tapi malah memperkeruh situasi. Contoh lain, namun nyata dan yang pernah terjadi di Indonesia, mungkin saat terjadinya letusan Gunung Merapi. TvOne, sepengetahuan saya, dilarang untuk meliput karena pemberitaan ke publik sangat berlebihan. Pelarangan itu datang karena mereka dianggap menciptakan ketakutan.

Dari buku “A9ama Saya Adalah Jurnalisme”, karangan Andreas Harsono, dalam bisnis media ada sebuah segitiga yang mewakili tiga siku. Siku pertama adalah pembaca atau pendengar. Siku kedua adalah pemasang iklan. Dan, siku terakhir adalah masyarakat. Mungkin terdengar klise antara pembaca atau pendengar dengan masyarakat. Sekilas sama, tapi berbeda. Perbedaanya terletak pada kepentingan. Dalam media massa, jika lebih mengarah pada siku pertama, maka pemberitaan akan lebih pada apa yang ingin mereka dengar. Tapi dalam siku ketiga, pemberitaan akan lebih berat dalam apa yang penting bagi masyarakat.

Ingat! Salah satu dari sembilan elemen jurnalisme adalah berpihak pada masyarakat. Apabila kita kembali ke film, maka pemberitaan tertangkapnya si penjahat bukan pemihakan pada publik, melainkan pemihakkan pada pendengar atau pembaca.

Akhir kata, segala masalah yang terjadi di dunia ini merupakan masalah komunikasi dan cara menyelesaikan masalah itu juga harus melalui KOMUNIKASI.


Silvanus Alvin, Jurnalistik 2009



Daftar Pustaka:
A9ama Saya Adalah Jurnalisme. Harsono, Andrea. Kanisius. 2010

Saturday, December 4, 2010

Suara Lirih (Ketika kebebasan beropini dan mengkritisi mulai dipertanyakan kembali)

“Beneath this mask, there is more than a flesh. Beneath this flesh, there is an idea. And ideas are bulletproof.” – V | from ‘V for Vendetta’ the movie.

Salah satu Hak Asasi Manusia yang paling fundamental adalah Hak untuk berpikir dengan bebas. Setiap manusia boleh memiliki varian opini, baik pro maupun kontra untuk menghasilkan kesimpulan yang objektif dan berimbang pada akhirnya. Lantas apa yang terjadi jika seandainya kebebasan berpikir diintervensi dengan sanksi? Masihkah layak disebut ‘asasi’? Ketika individu dilatih dan ditempa untuk bersikap skeptis dan kritis terhadap segala sesuatunya, sementara suara lirih mereka untuk menyuarakan aspirasi dibungkam semena-mena demi kepentingan salah satu pihak semata, mungkinkah mereka akan diam begitu saja?
Jawabannya adalah tidak. Mengapa?

Karena manusia adalah makhluk petarung dalam artian akan berjuang sepenuhnya demi mempertahankan idealisme berpikir mereka meskipun penuh resiko. Paling tidak untuk yang berprinsip dan berideologi baja, mereka tidak akan manggut-manggut ketika dihadapi oleh sebuah tantangan. Mereka akan melawan dengan segenap daya dan kekuatan.

Namun sebuah opini yang terlampau spekulatif dan subjektif – tanpa diimbangi data-data proporsional yang memadai – akan menghasilkan buah yang berbahaya untuk dikonsumsi penerimanya. Sebagai mahasiswa jurnalistik, rasanya sungguh bodoh jika kita mengabaikan faktor-faktor krusial tersebut. Oleh karena itu, saya yakin akan segala akurasi dan aktualisasi penulisan yang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa jurnalistik, terutama di universitas ini.

Sama halnya dengan kritik. Kritik memiliki dua orientasi : konstruktif (membangun) dan destruktif (menjatuhkan). Setiap manusia juga memiliki kebebasan untuk mengkritik. Hanya saja bentuk kritik manakah yang lebih baik? Tentu idealnya adalah bentuk kritik yang pertama karena seutuhnya terbentuk dari tujuan mulia. Terlepas dari kepentingan pribadi, dengan niat hanya untuk membuat segala sesuatunya menjadi lebih baik. Tidak ada pihak yang dirugikan dalam kritik semacam ini. Hasil akhir dari sebuah kritik konstruktif dikenal dengan istilah win-win solution, di mana tidak ada satupun pihak yang dirugikan dan tercemar reputasinya. Semua menang, semua senang.

Permasalahan timbul ketika ‘subjek yang dikritik’ (selanjutnya akan disebut ‘A’) ternyata tidak memberikan feedback positif, sementara sejumlah upaya penyaluran kritik telah disampaikan. Proses demi proses internal telah dilakukan seraya dirintangi sistematika hierarkis yang ada, dan masih belum ada juga tindak lanjut yang dilakukan oleh ‘A’. Tidak ayal lagi, langkah yang diambil olehnya justru malah menggiring ‘subjek yang mengkritik’ (selanjutnya akan disebut ‘B’) untuk mengambil cara nonformal, dengan resiko yang jauh lebih berbahaya bagi kredibilitas ‘A’.

Akan tetapi tentu saja cara nonformal bukanlah cara yang paling tepat. Banyak kelemahan jika pemberian kritik diterapkan melalui jalur ini. Selain membahayakan reputasi ‘A’, ‘B’ juga akan menerima pandangan negatif, sebagai musuh dalam selimut jika berdiri dalam satu entitas yang sama dengan ‘A’.
Lalu apa yang sebaiknya ‘B’ lakukan? Apakah kritikan ‘B’ akan selamanya diacuhkan oleh ‘A’ sehingga ‘B’ memilih untuk mencari langkah-langkah baru lagi dalam mengkritik? Sementara suara ‘B’ semakin lama semakin lirih, semakin lelah, dan semakin hilang akal mencari solusi yang lebih akomodatif bagi kedua belah pihak.

Hanya satu hal yang dapat disimpulkan oleh ‘B’, bahwa keacuhan ‘A’ akan kritik membuktikan dirinya sama sekali inkompeten dan immature dalam menjalankan tugas dan fungsi sebagaimana yang seharusnya ia lakukan. Amat sangat disayangkan jika proses interaksi dan komunikasi antar kedua belah pihak tidak dapat berjalan dengan lancar. Percuma saja ‘A’ mengusung konsep demokratis, sementara ada kritikan-kritikan (konstruktif) tertentu yang dianggap irelevan lantas diacuhkan. Percuma saja ‘A’ memberi sanksi, toh ‘B’ akan terus melawan.

.P as ‘B’

Pandji Putranda
(Jurnalistik 2009)

Friday, December 3, 2010

Punya Masalah Apa Kamu Dengan “Kami”?

Kamu merasa “kami” mempersulit?
Kamu merasa “kami” sudah memotong kekritisanmu?
Kamu merasa “kami” membuat risih dengan norma yang “kami buat”?
Kamu tidak senang?
Kamu tidak setuju?
Kamu marah?

Maaf dengan berat hati “kami” tidak bisa menerima itu
“kami” baru, belum terbiasa!


Efraim Tirto Widyanto
Jurnalistik 2008

Thursday, December 2, 2010

Kamu

                                                                    Bene Krisna
                                                                  Jurnalistik 2009

Kamu...
Ingin kudengar kamu mengucapkan itu padaku
Saat aku baru terjaga di pagi yang masih ranum
Saat sinar matahari masih centil menggoda hangat dari sekelibat di balik tirai kamarku

Ingin juga kudengar, saat nyeri dingin kesepian ini mulai dengan pelan-pelan menggerogoti sendi-sendi pertahanan hatiku

Ingin juga kuucap, saat aku merindukanmu. Saat aku menggigil, meracau, menyebut namamu sesukaku, dalam lelapku ataupun sadarku

Kamu...
adalah episentrum euforia-ku

Ya...
Hanya kamulah yang mampu membuat seluruh alam semestaku diliputi kebahagiaan

Tapi...
Siapakah kamu? Dimanakah Kamu?
Aku sih inginnya kamu yang menjadi Kamu
Bisakah kamu?

Ad Maiorem Dei Gloriam

Melihat Universitas Multimedia Nusantara dari Kacamata Minus

Bernardo Octo Elbo Brotoseno - Jurnalistik’08

Kesempatan tidak selalu datang dua kali, maka dari itu pergunakanlah kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya. Hal ini mungkin yang mendasari tulisan saya ini. Berangkat dari kegerahan saya terhadap hal-hal aneh yang terjadi di Universitas Multimedia Nusantara.
Saya sebagai pribadi sangat terganggu dengan sistem yang belum jelas dan bagaimana cara kerjanya di universitas ini. Saya sangat berharap ketidaknyamanan ini banyak juga dikeluhkan oleh mahasiswa lainnya.
Karena sistem yang seperti ini, menurut saya, sangatlah tidak mendidik bila terjadi di tempat menempa ilmu yang dapat digolongkan sebagai institusi pendidikan formal. Keresahan ini timbul karena mempunyai latar belakang, pendidikan sebelumnya yang digojlok untuk dapat melakukan segala sesuatunya dengan perencanaan yang matang. Namun bila terjadi sesuatu perubahan keputusan yang mendadak, itu merupakan hal yang dapat dikategorikan sangat mendesak dan sangat jarang terjadi.
Entah apakah terlalu seringnya perubahan mendadak atau pun keputusan yang tiba-tiba dibuat itu merupakan  suatu cermin atas masih hijaunya Universitas Multimedia Nusantara. Sehingga alasan umur itu dapat memperkuat ketidakberesan tersebut.
Selain hal mengenai kebijakan – kebijakan yang mengagetkan itu, Universitas Multimedia Nusantara juga masih belum dapat melakukan segala sesuatunya secara transparan. Hal-hal tersebut meliputi penanggung jawab tentang kegiatan–kegiatan kemahasiswaan, kepanitiaan kegiatan-kegiatan mahasiswa, dan juga mengenai cara penanganan berbagai masalah yang menyangkut kepentingan mahasiswa.
Entah mungkin karena ketidak-mau-tahuan saya terhadap hierarki yang ada dalam universitas ini atau memang hal ini kurang dipublikasikan oleh pihak universitas, mengenai siapa yang harus menuju siapa dalam usaha mahasiswa menyampaikan dan mewujudkan aspirasi kegiatan-kegiatan mahasiswa. Sehingga saya dan beberapa teman sering mengeluhkan bila tidak adanya tanggapan berarti yang dilakukan oleh pihak kampus mengenai beberapa ide yang pernah dilayangkan. Namun yang lebih parah adalah bila respon yang dicari oleh mahasiswa sering dilempar ke sana-ke mari alias dipingpong.
Hal tersebut dapat dikategorikan sebagai sesuatu hal yang mengganggu, karena tidak adanya keseriusan pihak kampus dalam menanggapi aspirasi mahasiswa. Bukan merupakan keheranan tersendiri bagi saya bila beberapa teman mahasiswa pun menjadi apatis terhadap kegiatan-kegiatan mahasiswa yang berlangsung.
Tentang menjadi seorang panitia dalam sebuah acara kampus menjadi hal yang menggelitik tersendiri bagi saya. Jujur saja hal ini berangkat dari rumor yang keluar dari mulut ke mulut mengenai kepanitiaan itu sendiri. Telinga saya pernah mendengar selentingan mengenai syarat yang harus dipenuhi oleh mahasiswa bila ingin menjadi panitia, yaitu berpenampilan rapi alias tidak boleh gondrong.
Untuk saya pribadi, alasan ini dapat dikategorikan sebagai hal yang mengada-ada. Karena, menurut saya, penampilan tidak dapat dijadikan sebagai tolok ukur untuk menentukan kinerja seseorang. Entah alasan apa yang mendasari peraturan ini. Dan bila hal tersebut tidak demikian, alangkah baiknya pihak kampus meluruskan hal ini.
Mengenai hal terakhir, ini menjadi keprihatinan tersendiri bagi saya. Walaupun saya sendiri belum pernah tersangkut masalah dengan BAAK, namun saya pun ikut geleng-geleng kepala bila mendengar cara kerja BAAK dalam menangani permasalahan mahasiswa.
Kadang hal tersebut disebabkan oleh daripada kesalahan BAAK itu sendiri. Namun bila hal itu dikejar-kejar oleh mahasiswa yang bersangkutan yang sudah mengoreksi hal tersebut. Sikap BAAK terkesan tidak mau tahu dan tidak mau repot atas urusan yang telah lalu tersebut membuat seakan-akan kesalahan tersebut disebabkan oleh mahasiswa itu sendiri. Padahal bila dikulik lebih dalam kesalahan tersebut terjadi akibat kesalahan yang dilakukan BAAK.

Media Massa Modern dan Propaganda

oleh : Gloria Samantha (Jurnalistik 2008)

“It plays upon perplexity; it cultivates confusion; it poses as information and knowledge; it generates belief systems and tenacious convictions; it prefers credibility and belief states to knowledge; it supplies false assurances and certainties; it skews perceptions; it systematically disregards superior epistemic values such as truth, understanding and knowledge; it discourages reasoning and a healthy respect for rigor, evidence and procedural safeguards; it promotes the easy acceptance of unexamined belief and supine ignorance”
 – a Canadian scholar Stanley Cunningham

               Kutipan di atas sekadar merupakan gambaran yang saya rasa tepat untuk mendistribusikan peranan serta pengaruh propaganda media dewasa ini. Teori propaganda yang muncul di Amerika Serikat disebabkan adanya kepentingan dari sejumlah pihak dalam bidang politik. Tepatnya, propaganda digunakan sebagai alat untuk mengomunikasikan pesan pada khalayak: untuk didengar, untuk menciptakan citra, untuk menangguk simpati, dan sebagainya.
            Propaganda modern pertama kali berpenetrasi masuk ke Amerika Serikat pada masa Perang Dunia I. Perang menerapkan teknik propaganda untuk menghimpun sejumlah besar tentara Angkatan Darat serta menjaga keyakinan para warga sipil selama tahun-tahun sulit itu. Tak pernah sebelumnya sedemikian banyak orang dapat dimobilisasi untuk pergi berperang, terlebih dalam suatu periode panjang.
            Setelah Perang Dunia I berkahir, peperangan di dunia propaganda berlanjut. Bahkan propaganda ini mulai menjalar ke Eropa, menjadi sarana bagi new political movements untuk menyebarkan dan melebarkan pengaruhnya.
            Pada mulanya beberapa ahli bersikap sangat optimis masyarakat Amerika dapat bertahan dari tekanan propaganda macam apa pun tetapi propaganda justru memperkosa seluruh bagian sistem politik demokratisasi sampai yang terdasar. Propaganda dengan babas melaju; membohongi dan mengelabui demi mempersuasi masyarakat demi mencapai tujuannya.
            Pakar politik Harold Lasswell berteori kekuatan propaganda berhulu pada kerentanan kondisi pemikiran orang pada umumnya.
Menurut Lasswell, depresi ekonomi dan perslah-perslah politik telah menjadi faktor yang memungkinkan seseorang kehilangan nalar kritisnya sehingga dengan mudah menerima segala bentuk propaganda, bahkan yang paling banal. Konfrontasi sehari-hari dalam kehidupan personal mereka rupanya cukup memukul, juga melelahkan; membuat orang cenderung melihat propaganda sebagai hal yang menenangkan dan dapat mengatasi tantangan perikehidupan mereka. Kenyataan miris ini dapat dikatakan fenomena yang terlihat sekali di negeri kita.
Sementara Walter Lippmann, seorang kolumnis bagi surat kabar New York Times,  mengemukakan teori bertajuk ‘Public Opinion Formation’. Di sini Lippmann mempertanyakan kelangsungan hidup demokrasi. Demokrasi akan membawa perubahan besar pada peranan media terhadap arus informasi. Lippmann meragukan kesanggupan masyarakat untuk melek media (media literacy); artinya mampu memilah, tidak menelan mentah apa yang disodorkan oleh media.
Bahkan apabila seorang jurnalis telah melaksanakan tanggung jawab dengan sungguh sekalipun, masih ada resiko orang tidak mampu menangkap apa yang disampaikan, karena rata-rata orang lebih mendahulukan subjektivitasnya saat melihat, mendengar, atau membaca suatu persoalan. Mengenai hal ini, Lippmann setuju dengan Lasswell. Diutarakan Lippmann bahwa setiap individu memiliki bayangan, asumsi dalam benak masing-masing –yang berbeda dengan kenyataan di dunia luar—tetapi terkadang mereka sulit melepaskan bayangan itu. Orang akan terpola mengikuti ekspektasi mereka, ketimbang menerima realitas.
Pada era freedom of press sekarang ini perlu adanya semacam aparat perantara untuk memberi publik proteksi dari propaganda serta kontrol media.
Namun tidak dengan memberlakukan sensor media. Solusi terbaik ialah menempatkan pengawasan pengumpulan dan penyebaran informasi di tangan teknokrasi yang terpercaya, misalnya kalangan ahli/akademisi. Dengan demikian para ahli tersebut dapat mengurutkan fakta dan membuat keputusan dengan analisis metode ilmiah yang sesuai.
Dalam pandangan filsuf John Dewey, otoritas menyelesaikan masalah propanda tidak terletak pada lembaga / teknokrasi maupun metode-metode ilmiah basis. Sebaliknya, lembaga semacam itu tidak diperlukan karena masyarakat dapat belajar mempertahankan dirinya sendiri.
Sepanjang hayatnya, Dewey memang tak kunjung letih menyatakan sikap dan argumennya, yang beranggapan bahwa edukasi masyarakat adalah cara terefektif dalam upaya menentang totalitarianisme yang diam-diam mulai menyelusup di dalam demokrasi.
Dalam teori propaganda kontemporer, yang pokok persoalan adalah, wacana publik telah dibentuk, dibangun, dikembangkan, dibatasi oleh para pemegang kekuasaan; dalam hal ini bisa berarti pemerintah, pemegang modal, atau elit penguasa yang lain. Semata-mata untuk memenuhi kepentingan pribadi. Kita tidak dapat terkecoh dengan nihilnya kontrol aversif.
Sebab tidak berarti informasi yang disalurkan terbebas dari fungsi kontrol. Secara ringkas, media dikatakan hanya sebagai sebuah ‘corong’ dari pemegang kewenangan tertentu, dan kehilangan identitasnya, independensinya.
Kian hari, komunikasi nampaknya tidak sekadar menghadirkan kenyataan tetapi justru menentukan kenyataan, memperlihatkan kekuatan dan daya mempengaruhi yang dimilikinya. Sudah menjadi nyata, misalkan, bahwa dalam situasi-situasi tertentu media tidak dipakai untuk maksud-maksud yang tepat untuk menyebarkan informasi, tetapi justru untuk ’menciptakan’ peristiwa.