Saturday, December 4, 2010

Pura-pura? Jujur?

Aku baru menyadari kalau yang namanya menyembunyikan perasaan itu
adalah hal yang benar-benar sangat susah. Bagaimana tidak, kau harus
bertahan dengan sebuah senyum palsu di wajahmu ketika kau ingin
menangis, atau kau harus terpaksa berkata tidak apa2 meskipun kau tau
bahwa hatimu tidak begitu.


Sakit sekali.


Kita membuat sebuah kebohongan ketika berpura-pura.
Kita membohongi orang lain dengan mencoba memberitahu kondisi kita-yang sebenarnya
tidak seperti apa yang mereka lihat-. Kita menipu diri kita sendiri
dengan meyakinkan bahwa kita masih kuat, kita bisa, padahal
kenyataannya tidak!




Hari ini aku melihat seseorang. Aku menangkap seraut wajah yang tidak
bahagia sama sekali. Ada guratan penyesalan, kesedihan, dan rasa
bersalah yang teramat sangat di wajah itu. Tapi dia tidak mengganti
kesedihannya itu dengan topeng senyuman atau tawa. Dia tetap memakai
wajahnya yang seharusnya itu dan tidak berniat mengganti wajah itu
dengan wajahnya yang lain.


Kenapa dia tidak tersenyum saja biar orang lain tidak terganggu?!
Begitulah yang kupikirkan saat itu juga bersamaan dengan perasaanku
yang seolah merasakan kepedihan yang dia rasakan.


Akan tetapi, ada sisi lain dari diriku yang mencoba menyadarkanku akan
sebuah kejujuran kecil yang dia lakukan. Ada bagian dari diriku yang
mencoba mengatakan bahwa apa yang dia lakukan itu benar.


Akhirnya aku tersadar. Raut kesedihan itu bukanlah sebuah hal salah
apabila dia tunjukkan. Dia sedang mencoba menguras rasa sakitnya itu
keluar melalui ekspresi wajahnya.


Melalui ekspresinya, aku dapat merasakan sebuah rasa sakit yang
seharusnya tidak perlu kurasakan. Tapi disaat bersamaan, ekspresinya
juga menyadarkanku tentang arti dari kejujuran, meskipun sangat kecil
dan mungkin terkesan mengganggu. Aku mempelajari sebuah kejujuran
kecil yang dibuatnya. Memang hanya kejujuran kecil, kejujuran yang
begitu kecil namun berhasil mengalahkan si Pura-pura raksasa itu.




-written note by Erika Feronica, Public Relation 2009-

Friday, December 3, 2010

Punya Masalah Apa Kamu Dengan “Kami”?

Kamu merasa “kami” mempersulit?
Kamu merasa “kami” sudah memotong kekritisanmu?
Kamu merasa “kami” membuat risih dengan norma yang “kami buat”?
Kamu tidak senang?
Kamu tidak setuju?
Kamu marah?

Maaf dengan berat hati “kami” tidak bisa menerima itu
“kami” baru, belum terbiasa!


Efraim Tirto Widyanto
Jurnalistik 2008

Dia.. Dalam hatiku


Tiga tahun lalu kami duduk berdampingan di sebuah sudut sekolah.
Berbicara. Belajar. Mengerjakan tugas. Bercanda. Bercerita tentang diri masing-masing.
Aku tahu masa lalunya cukup kelam. Namun aku bertahan demi satu tujuan.
Mendapatkan cintanya.
 Sekaligus memberinya kebahagiaan yang tak pernah ia kecap sebelumnya.
Dan ketika aku berhasil mendapatkannya ke dalam pelukanku, aku bersumpah, aku tidak akan menyakiti hatinya. Karena aku tidak ingin melihat butir-butir air matanya bergulir jatuh membentuk aliran sungai kecil dari sudut matanya menuju pipinya.
Aku bersumpah aku tidak akan mengecewakannya. Karena aku menyayanginya seperti menyayangi diriku sendiri.

Dia….
Seorang perempuan berparas cantik dengan rambut sepanjang pinggang berwarna hitam legam.
Seorang perempuan dengan tawa manis yang selalu memancing kedua lesung pipitnya untuk terlihat.
Seorang perempuan yang selalu berpura-pura kuat agar tidak mengundang rasa iba yang menyelinap pada hati setiap orang.
Seorang perempuan yang menjadi pelabuhan hati pertamaku.

Selama beberapa saat kami terbuai dalam cinta kami. Menikmati anugerah terbesar yang mampu diberikan oleh seorang manusia, yakni mencintai dan dicintai.
Namun semuanya tak berlangsung lama karena sebuah badai besar meluluhlantakkan perahu kami.
Dia bermain cinta di belakangku. Bahkan dengan kesadarannya, meskipun ia tahu betapa besar rasa cintaku untuknya.
Tak ayal lagi, kami berpisah.
Aku sadar dia hanyalah seorang perempuan yang haus akan belaian cinta dan kasih sayang, tanpa mempunyai cinta dalam hatinya.
Ia menerima, namun tidak bisa memberi.
Karena ia menganggap semua lelaki hanyalah sebuah mainan yang bisa ia beli bila ia ingin, dan ia buang ketika ia sudah merasa bosan.
Karena ia menganggap cinta adalah sebuah permainan belaka.

Aku tahu hidupku akan terus berjalan. Begitu juga hidupnya.
Namun tidak untuk hatiku. Karena hatiku telah terikat erat dengannya. Karena hatiku telah ditawan dengan seorang penakhluk yang salah. Karena hatiku tidak pernah lepas dari cengkramannya.

Aku menjauh. Mengubur diri agar tidak melihatnya. Tapi setiap kali aku berjalan di pusat kota, tak urung aku mendapati bahwa aku selalu mencari-cari bayangannya dan selalu terpana ketika melihat seorang perempuan berparas mirip dengannya kemudian terhenyak ketika menyadari bahwa itu buakn dia, dia yang kucari-cari.

Tiga tahun telah berlalu. Sedikit demi sedikit hatiku mulai bergerak menjauhi pemiliknya yang lama. Hatiku meronta-ronta dengan liar untuk keluar dari jeruji besi yang sebetulnya aku buat sendiri. Aku merindukannya namun tidak semenggigit dahulu. Seperti pepatah, waktu memang menyembuhkan segalanya.

Semuanya berjalan dengan cepat. Semuanya berubah. Namun ada satu yang tidak akan pernah berubah.

Tak peduli seberapa jauh kita berada sekarang, di belahan bumi mana kita berpisah, seberapa berubahnya kita, tapi ada satu hal yang akan selalu sama. Hari ulang tahun kita akan selalu berada dalam minggu yang sama.


Didedikasikan untuk seluruh kaum laki-laki yang pernah dikhianati oleh perempuan yang teramat sangat dicintainya.



Oleh: Cynthia Panda Kwesnady
         Fakultas Imu Komunikasi 2010
        

HMJ dan Suprastruktur Kampus

by : Fakhriy Dinansyah
(Public Relation 2008)

         Mungkin kita kesal dengan pemerintahan di negara kita saat ini. Atau bahkan mungkin juga kita sudah tidak ingin lagi menjadi bagian dari negara ini karena pemerintahnya yang bobrok. Tetapi, mungkinkah sebuah negara berdiri tanpa adanya pemerintah?
 

        Jawabannya adalah "tidak mungkin", karena Pemerintah sebagai badan Eksekutif adalah sebuah 'suprastruktur' negara yang merupakan syarat mutlak terbentuknya sebuah negara. Yah, seburuk apapun itu.
Berangkat dari analogi diatas, UMN sebagai Universitas yang masih belajar untuk menemukan jati dirinya memerlukan badan eksekutif di setiap jurusan yang menjadi bagian dari struktur universitas.

       Badan eksekutif yang menjadi suprastuktur sebuah jurusan tersebut adalah Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ). Di UMN, khususnya Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) di dua jurusan (Public Relations dan Jurnalistik), HMJ tersebut bernama "I'M KOM" (Ikatan Mahasiswa Komunikasi).

        Dengan adanya I'M KOM sebagai sebuah suprastruktur kampus sekaligus badan eksekutif jurusan, diharapkan HMJ bisa menjadi wadah yang kompeten bagi civitas academica FIKOM UMN.
Tidak seperti pemerintah negara kita, I'M KOM 'pasti' akan melaksanakan tugas sebaik-baiknya sebagai frontliner mahasiswa dalam setiap aktifitasnya demi kemaslahatan mahasiswa juga.

      Sebaik apa I'M KOM akan menciptakan citra dan reputasi yang baik bagi stakeholder internal dan eksternalnya?? Let we see how I'M KOM will treat 'us' :)!!
I'M KOM, Cor Unum...

Thursday, December 2, 2010

Kamu

                                                                    Bene Krisna
                                                                  Jurnalistik 2009

Kamu...
Ingin kudengar kamu mengucapkan itu padaku
Saat aku baru terjaga di pagi yang masih ranum
Saat sinar matahari masih centil menggoda hangat dari sekelibat di balik tirai kamarku

Ingin juga kudengar, saat nyeri dingin kesepian ini mulai dengan pelan-pelan menggerogoti sendi-sendi pertahanan hatiku

Ingin juga kuucap, saat aku merindukanmu. Saat aku menggigil, meracau, menyebut namamu sesukaku, dalam lelapku ataupun sadarku

Kamu...
adalah episentrum euforia-ku

Ya...
Hanya kamulah yang mampu membuat seluruh alam semestaku diliputi kebahagiaan

Tapi...
Siapakah kamu? Dimanakah Kamu?
Aku sih inginnya kamu yang menjadi Kamu
Bisakah kamu?

Ad Maiorem Dei Gloriam

Sepotong yang Tak Bertulang

Sebidak tanah, kau tebar benih jingga
Haus akan darah, meluap dalam sungai nanak benak

Lucu benar aku ini!
Mengaum pada tembok kekosongan
Merayu pistol yang melepas maut ke arahku
Mencincang buih oleh pisau hati
dan upacara pengantar yang menginjak-injak kepalaku!

Dekat... Dekat benar aku dalam darahku..
Meladeni setiap suruhan sampah mereka
Lalu tanpa kutahu, linggis kepatuhan membelah nadiku
Berlalu-lalang diri dalam pelantaran mereka yang sesat

Tuanku, diri ini mengaku
Dengan lutut penuh derita
dan mulut sebagai peminta

Larutkanlah aku dalam kolam kebijakkan
Biar dapat kugerakkan tongkat kepastian
Bilamana dapat kuteguk airmata Tuan...



Oleh
Lupita (Jurnalistik 2009)
30 April 2010
Tangerang

Di Balik Kesempurnaan Orang No.1 Indonesia


Review Buku Pak Beye dan Istananya
oleh
Silvanus Alvin (Jurnalistik 2009)


Judul Buku      : Pak Beye dan Istananya
Penulis             : Wisnu Nugroho
Penerbit           : Kompas
Harga             : Rp 40.800
Tebal               : 256 halaman

Tak ada manusia yang sempurna. Presiden pun manusia juga, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Wisnu Nugroho, penulis berbakat yang aktif menulis di kompasiana ini menceritakan kejadian-kejadian yang remeh-temeh dan di luar dari mainstream media yang ada. Pak Beye adalah sapaan yang dibuat oleh penulis agar kita memiliki kedekatan dengannya. Keseharian Pak Beye melakukan aktifitasnya di istana negara yang sering muncul di televisi, koran, atau majalah merupakan berita serius. Berita serius ini penting untuk disebarluaskan kepada publik. Namun, tidak hanya berita serius saja yang diliput oleh Wisnu tapi kejadian yang tidak menarik mata juga diliputnya dan di beri bumbu foto-foto yang memberi rasa agar menarik.
Dari tulisannya, hal ini membuktikan bahwa wartawan kadang-kadang bisa iseng juga. Dari masalah sepatu yang dipakai para petinggi negeri kita sampai mobil yang diperbolehkan masuk ke istana negara.
Cesare Paciotti, merupakan salah satu dari judul tulisan Wisnu yang sangat remeh-temeh dan kritis untuk dicermati. Judulnya diambil dari salah satu merek alas kaki yang terkenal, mahal dan pastinya bukan produk dalam negeri. Bermula dari acara buka puasa bersama para petinggi negara kita. Mereka membungkus alas kaki mereka dan menomorinya agar tidak tertukar. Hal ini guna menutupi merek alas kaki mereka yang ajaib. Seperti yang para masyarakat ketahui, para petinggi negara kita selalu meneriaki slogan “Cintailah Produk Dalam Negeri”. Pada kenyataannya, yang memberitahu pun tidak menjalankannya.
Tulisan lainnya, menceritakan mobil apa saja yang boleh masuk ke istana. Pernah mobil Kijang Inova yang dipakai oleh ketua KPK (saat itu) Taufiequrracman Ruki, kerap dicegat petugas Paspampres dan diperiksa cukup lama di pintu gerbang istana.. Selektif. Itulah kata yang tepat untuk menunjukan mobil apa yang diperbolehkan masuk ke istana negara. Karena parkiran istana negara sudah tidak ada beda dengan showroom-showroom mobil.
Suasana saat Pak Beye dan keluarga pindahan dari Istana Merdeka ke Istana Negara juga diceritakan dengan unik oleh penulis. Meski dua istana itu hanya berjarak sekitar seratus meter, tetap saja heboh. Sebagai gambaran, kasur Pak Beye yang superjumbo sampai harus digotong beramai-ramai.
Buku ini sangat menarik untuk dibaca. Cocok untuk kalangan mahasiswa. Bahasa yang digunakannya pun gampang untuk dimengerti. Hingga saat ini, hasil ratusan catatan ringan Wisnu di Kompasiana sudah dibaca  oleh sekitar 750.000 pengguna internet. Maka dari itu, tidak mengherankan bila bukunya pun diminati oleh banyak orang.