Tuesday, February 22, 2011

Cerita Dari Langit


                Ini adalah sebuah kisah dari langit dimana 4 sekawan bernama hujan, awan, petir, dan angin yang jarang sekali akur dan bersatu.
"Hei awan, sudah donk jangan terus-terusan!" Kata hujan pada awan agar awan berhenti memberikan dirinya agar hujan yang turun tidak terlalu lebat di bumi sana.

"Memang kenapa?Ga masalah donk." Kata Awan.

"Jangan, kasian makhluk hidup di sana, banyak banjir dimana-mana dan banyak makhluk hidup yang mati gara-gara aku." Kata hujan sambil memohon-mohon.

"Lho, kalo kita ga bersatu seperti ini nanti yang dibawah sana bisa kekeringan lho, kamu mau makhluk hidup di bawah sana mati kekeringan?" Tanya awan untuk membela dirinya.

"Iya sih, tapi sudah jangan terlalu banyak nanti mereka bisa mati karena banjir" Balas si hujan.

Memang sulit menjadi awan, kalau tidak diberikan awan maka tidak akan turun hujan dan makhluk hidup di bumi bisa mati kekeringan tetapi kalau diberikan terlalu banyak nanti makhluk hidup mati karena kebanjiran.

"Woi awan dan hujan, kenapa kalian bertengkar terus sih dari tadi?" Tanya si angin yang tiba-tiba muncul.

"Ini si hujan tidak mau kalau aku kasi diriku terus, katanya nanti yang dibawah akan mati kebanjiran" Jawab si awan

"Ouwh, kamu tu gimana sih hujan? Di bawah sana tu juga ada yang memohon-mohon agar turun hujan tapi kenapa malah kamu ga mau kasi dirimu?" Tanya si angin yang ingin membela awan.

"Iya, tapi kalau terlalu banyak nanti mereka bisa mati karena banjir."Jawab si hujan.

"Kamu kenapa kesini angin?"Tanya awan pada angin.

"Aku mau memberi diriku juga kebawah."Jawab si angin.

"Aduh, jangan angin nanti dibawah sana bisa terjadi badai dan itu bisa membuat makhluk hidup di bawah mati." kata si awan yang tidak ingin terjadi badai di bawah sana.

"Sudah tidak apa-apa angin, kasi aja dirimu ke bawah sana, itu lebih baik dari pada banjir." Tiba-tiba si hujan menyelan pembicaraan mereka.

"Jangan angin, eh hujan kamu jangan ikut-ikut donk, kamu dikasi awan ga mau tapi sekarang malah menyuruh angin agar terjadi badai, gimana sih kamu?" Kata si awan yang mulai marah.

Mereka bertiga pun akhirnya bertengkar terus menerus, di satu sisi si hujan tidak ingin awan memberikan awannya pada hujan agar tidak terjadi hujan sangat lebat tetapi si awan tidak ingin angin ikut-ikut yang anntinya bisa menyebabkan badai.

Tiba-tiba datang si petir, "Hei kalian semua, bertengkar terus saja dari tadi!" Kata si petir pada mereka bertiga.

"Sudah tidak usah bertengkar, gimana kalau kita bersatu saja biar makhluk hidup yang dibawah sana merasakan kehebatan kita yang berasal dari langit." Kata petir lagi yang berniat untuk menjadikan cuaca di bawah sana menjadi sangat ekstrim.

Jika mereka berempat bersatu maka hujan lebat tidak akan ada habisnya yang disertai dengan badai dan petir yang bisa menghancurkan kehidupan di bawah sana.

"Kamu lagi petir malah ingin yang di bawah sana menjadi hancur" Marah si hujan pada petir.

Kali ini si hujan tidak setuju dan awan lah yang setuju untuk melakukan itu. Mereka terus saja bertengkar dan tidak pernah akur dan bersatu. Tetapi itu justru hal yang baik karena itu tidak akan menimbulkan bencana yang besar.

Tiba-tiba datang sang matahari, "Hei kalian semua, tidak usah bertengkar terus, aku akan memberi kalian nasehat" Sang matahari muncul untuk memberi nasehat kepada mereka berempat.

"Tidak perlu kalian selalu bertengkar, coba lah untuk memberikan apa yang kalian miliki tidak berlebihan, berikan secukupnya saja." Kata sang Matahari.

"Maksudnya?' tanya si awan pada sang matahari.

"Maksudnya misalnya saja kamu awan berikanlah dirimu secukupnya saja agar hujan yang turun tidak terlalu lebat dan juga jangan tidak memberikan sama sekali karena itu akan menyebabkan kekeringan. Lalu kamu angin berikan dirimu sedikit saja agar tidak terjadi angin kencang yang bisa menghancurkan bumi dan juga jangan tidak memberikan sama sekali karena itu akan menyebabkan cuaca yang panas. Lalu kamu petir jangan terlalu banyak memberikan karena itu akan bisa menyebabkan banyak yang mati karena sambaranmu." Kata sang matahari.

"Jika makhluk hidup di bawah sana baik pada kita maka kalian berikan saja secukupnya diri kalian  aku akan memberikan sinarku agar tercipta pelangi yang begitu indah sebagai hadiah pada mereka."

"Tetapi jika makhluk hidup di bawah sana tidak menghormati kita yang di langit silahkan saja kalian berikan balasan agar mereka bisa belajar dari langit" Kata sang matahari lagi.

"Kalian bisa bersatu menciptakan badai yang besar dengan angin yang kencang, petir yang menyambar terus menerus dan dengan hujan yang sangat lebat." Kata sang matahari.

"Kalian semua harus sadar bahwa tidak selamanya bersatu itu indah, ada saat-saat dimana kalian bersatu dan ada saat-saat dimana tidak diperlukan persatuan dan yang lebih penting lagi dalam memberikan sesuatu jangan terlalu berlebihan dan jangan terlalu sedikir karena itu tidak baik, berikan saja yang secukupnya" Kata sang matahari yang menyudahi memberikan nasehatnya.

Keempat sekawan pun itu hanya diam dan menerima nasehat dari sang Matahari.


oleh : Rindy Agassi

Saturday, February 19, 2011

Organisasi dan Media Kampus, Senjata Penting Demokrasi



“Penulis adalah insinyur jiwa manusia”

                Kutipan di atas saya ambil dari buku yang ditulis oleh Hong Liu tentang kehidupan Pramoedya A. Toer, dalam buku yang berjudul Pram dan Cina. Saya mencoba untuk memahami apa yang sebenarnya hendak disampaikan oleh Pram melalui kutipan sederhana itu. Melalui metafora itu, Pram hendak menyadarkan para kaum terpelajar untuk bertanggung jawab pada masyarakat dan bangsa. Lantas tanggung jawab apa yang dimaksud? Tanggung jawab yang dimaksudkan adalah bagaimana seorang yang terpelajar bersikap kritis terhadap sesuatu yang dianggapnya melenceng dari nilai moral, kebenaran serta demokrasi yang bertanggung jawab.

                Menurut Pram, penulis dan tulisannya adalah hal penting yang tidak dapat dipisahkan. Melalui buah pemikiran kritis dan dinamis yang dimiliki oleh seorang penulis maka akan menelurkan karya tulis yang menggugah, yang memiliki dasar kekuatan untuk menggerakan. Dari tulisan, jiwa manusia akan terbakar dan menyala-nyala. Dari sebuah tulisan, rasa empati dapat tumbuh. Dari sebuah tulisan, negara perlu waspada! Saat semua orang terinspirasi oleh tulisan yang lahir dari buah pemikiran yang kritis, saat itu pula jiwa kita bergolak dan tergerak. Tulisan menjadi wadah penulis untuk berekspresi, mencurahkan segala isi hati dan pikirannya.

                Tulisan sederhana ini terinspirasi oleh 140 karakter yang  ditulis oleh teman-teman mahasiswa  Universitas Multimedia Nusantara (UMN) di situs jejaring twitter. Saya membaca timeline dan mem-follow sejmulah akun yang notabene adalah wujud dari organisasi kampus. Tweet yang disampaikan dalam akun tersebut secara garis besar bertujuan untuk membuat sebuah pergerakan. Mengajak semua elemen akademisi, terutama mahasiswa, untuk menyampaikan aspirasinya. Organisasi menjadi fasilitator untuk menampung  aspirasi dan tulisan yang nantinya diteruskan pada rektorat. Menurut saya, hal seperti ini adalah keren, menarik dan perlu diapresiasi positif. Seperti pada umumnya di universitas lain, UMN akhirnya juga punya wadah sebagai corong mahasiswa, agar komunikasi antara mahasiswa dengan pihak kampus dapat terjalin secara seimbang.

                Kita semua sadar, UMN adalah universitas yang belum lama berdiri. Usianya saja kurang lebih baru empat tahun. Ibarat anak kecil atau remaja, kampus ini masih dalam tahap mencari jati diri yang utuh. Tentu masih banyak kekurangan yang perlu dibenahi. Inti permasalahannya terletak pada kurangnya transparansi dan kurang idealnya komunikasi yang terjalin antara mahasiswa dengan kampus. Tapi, semua itu bukan halangan. Hal ini terbukti dengan adanya semangat untuk menyeimbangkan peta kekuatan antara mahasiswa dengan otoritas kampus. Kehidupan intra kampus adalah arena kebebasan mimbar akademik yang demokratis. Dimana aspirasi dan suara tidak seharusnya ditutup-tutupi. 

Berorganisasi dan berpendapat adalah wahana pembelajaran mahasiswa untuk belajar berpolitik di dalam kampus. Dengan instrumen sistem organisasi kemahasiswaan yang egaliter yang merupakan wujud dari simulasi pemerintahan kecil yang ditandai dengan adanya student government. Lengkap menyerupai kelembagaan formal seperti layaknya sistem pemerintahan negara. Mulai dari badan legislatif mahasiswa dan badan eksekutif mahasiswa baik di tingkat universitas maupun jurusan. Selain itu masih dilengkapi oleh badan-badan kegiatan otonom mahasiswa seperti pers mahasiswa yang menerbitkan koran atau majalah kampus sebagai media tulisan.  Tentunya dari organisasi-organisasi ini diharapkan akan memunculkan pemikiran-pemikiran yang berani, muktahir, kritis dan relevan dengan keadaan yang berlaku saat ini.

                Saya melihat, sudah ada jiwa dari teman-teman mahasiswa UMN yang tergerak untuk sebuah perubahan. Semua mahasiswa, semua angkatan bersinergi untuk menyumbang aspirasi untuk mewujudkan cita-cita demokrasi yang sehat. Bukan memaki tetapi berjuang untuk mencapai tujuan bersama. Berharap, semangat itu tidak luntur dan terus berkobar sampai apa yang diperjuangkan tercapai.

                Sedikit hal yang bisa saya bagi sebagai gambaran usaha perjuangan mahasiswa dalam kancah perubahan Indonesia. Sejarah pernah mencatat pada tahun 1979-1980, muncul sebuah kelompok yang dikenal dengan sebutan Petisi 50 yang menuntut kebebasan berpendapat dan berpolitik yang lebih luas pada era orde baru. Kelompok ini terdiri dari politisi, aktivis mahasiswa, akademisi dan tokoh sipil yang bergabung untuk mengkritisi pemerintahan Soeharto melalui media cetak dan selebaran yang berisi kasian politik pemerintahan orba.

                Lahirnya Petisi 50 membuat Soeharto geram. Sebagai balasannya, Soeharto mencekal para penandatangan Petisi 50 yang terdiri dari 50 orang tokoh nasional termasuk mahasiswa. Tujuan dari kelompok ini adalah sebagai pressure group yang senantiasa hadir menekan pemerintah, sehingga membuat pemerintahan Soeharto sering direpotkan oleh pernyataan-pernyataannya yang tajam. 

                Pada tahun 1984, kelompok ini menuduh Soeharto telah menciptakan negara dalam satu partai. Memunculkan banyak penentang, hingga meletus peristiwa Tanjungpriok yang menewaskan sejumlah orang. Soeharto bereaksi keras, dan pencekalan pun tak terhindari. Semua anggota Petisi 50 dihilangkan hak perdatanya dan dimasukan kedalam penjara.

                Namun, apa yang sudah terjadi pada Petisi 50 tidak menyurutkan niat masyarakat terutama mahasiswa untuk membuat perubahan. Usaha terus dilakukan oleh setiap kampus melalui media kampus masing-masing. Berawal dari organisasi yang menjadi mimbar kebebasan berekspresi, menciptakan sebuah tatanan demokrasi yang didambakan, kemudian memunculkan aspirasi melalui tulisan yang tertuang di dalam media kampus. Mahasiswa menjadi pers yang tajam, mengingat media masa saat orba sangat dikekang dan dilarang untuk menyinggung pemerintah. Pers mahasiswa menjadi kendaraan untuk melemparkan suara kemerdekaan berpendapat.

                Setidaknya dapat dicatat di UGM pada tahun 1986, terdapat 47 penerbitan fakultas dan jurusan. Para penerbitan dari masing-masing fakultas itu kemudian mengadakan Seminar Pers Mahasiswa se-UGM yang sepakat untuk menerbitkan media tingkat universitas, berbentuk majalah yang berorientasi intelektualisme, bukan politik. Majalah yang terbit pertama kali Balairung, pada 8 Januari 1986. Sampai dicabut ijinnya, Juli 1990, Balairung terbit sekitar 14 kali dengan tiras sebesar 2500-5000 eksemplar.

                Dari sejarah di atas, saya ingin menggaris bawahi, bahwa organisasi kampus dan media kampus merupakan senjata terpenting untuk melahirkan demokrasi yang diidam-idamkan. Di sinilah semua aspirasi ditampung dan disiarkan. Di sinilah kebebasan berpendapat dijunjung tinggi. Dari sebuah pemikiran yang kritis, lalu kemudian dituangkan dalam tulisan maka sebuah pergerakan akan lahir.

                Mari, secara bersama-sama kita ciptakan nuansa demokrasi yang bebas, sehat dan bertanggung jawab. Belajar dari pengalaman yang sudah pernah terjadi, bahwa sebuah rezim dapat tumbang hanya karena pemikiran yang kritis dan cita-cita reformasi yang menjunjung moral serta etika. Mari kita tumbuhkan suasana demokrasi di lingkungan kampus untuk menciptakan arus komunikasi dua arah yang seimbang. Organisasi kampus dan media kampus, sekali lagi, memiliki peran penting untuk terciptanya sebuah pergerakan dan perubahan. Semoga api semangat dalam diri kita tidak pernah padam hingga perubahan yang kita cita-citakan tercapai. 





Albertus Magnus Prestianta

Mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara,
Jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik 2007


S.W.A.T dan Jurnalistik

S.W.A.T. berarti Special Weapons and Tactics. Jurnalistik, menurut Ensiklopedi Indonesia adalah bidang profesi yang mengusahakan penyajian informasi tentang kejadian dan atau kehidupan sehari-hari secara berkala, dengan menggunakan sarana-sarana penerbitan yang ada.

        Nah, mungkin pembaca bingung mengapa dua hal yang berbeda ini, saya sajikan dalam tulisan di kesempatan kali ini. Tulisan ini terinspirasi setelah saya menonton ulang film S.W.A.T. Filmnya bagus, alur cerita menarik dan banyak adegan tembak-tembakkan. Namun, bukan persoalan film action-nya yang akan saya kupas. Tapi saya akan coba membuktikan betapa penting jurnalistik dalam penerapannya di kehidupan sehari-hari.

         Sebelum saya masuk ke penjabaran yang lebih dalam, film ini diawali dari aksi perampokan di bank. Anggota S.W.A.T., Brian Gamble (Jeremy Renner) terpaksa menembak sandera untuk melumpuhkan penyanderanya. Sesuai dengan aturan S.W.A.T. Gamble dianggap bersalah dan dikeluarkan dari S.W.A.T., dan kepolisian LA. Sementara partnernya, Jim Street (Colin Farrell) hanya dipindahkan ke bagian gudang. 
        
         Konflik antarpartner menjadi salah satu yang ditawarkan S.W.A.T. Wajar kalau penonton bisa menebak kehadiran kembali Gamble untuk balas dendam. Selanjutnya, muncul "Hondo" Harrelson (Samuel L. Jackson), anggota SWAT senior yang ditugasi membentuk tim baru. Ada Jim Street yang pernah di-blacklist. Lalu Chris Sanchez (Michelle Rodriguez), polisi wanita yang sudah tiga kali ditolak masuk S.W.A.T. Pilihan anggota wanita ini memang agak mengada-ada. Sebab, di sepanjang sejarahnya S.W.A.T. tak pernah mencatat satu pun anggota perempuan. Selanjutnya, ada Deacon "Deke" Kay (rapper LL Cool J), polisi hitam yang lebih sering membuat kekacauan. Hanya TJ McCabe (Josh Charles) dan Michael Boxer (Brian van Holt) yang berkenan di hati Fuller.

           Pembuat film berusaha menaikkan tempo ketegangan. Tim S.W.A.T. Hondo ditugasi mengawal Alex Montel (Oliver Martinez). Si penjahat internasional ini melontarkan tawaran US$ 100 juta bagi siapa pun yang bisa membebaskannya dari kawalan S.W.A.T. Sekali lagi, bisa ditebak. Para penjahat geger karena tergiur. Tim S.W.A.T. kelimpungan menghadapi berbagai upaya membebaskan Montel.”

        Bagian yang saya beri warna merah, merupakan kunci untuk menghubungkan S.W.A.T dan jurnalistik. Jika para pembaca pernah menonton film ini, maka selesainya si penjahat melontarkan tawaran US$ 100 juta untuk kebebasan dirinya, media massa langsung serentak memberitakan kejadian ini. Inilah poin penting yang akan saya jelaskan. Hemat saya, media massa tidak boleh menyiarkan begitu saja. Karena, seperti yang kita semua ketahui, penciptaan opini publik didukung oleh salah satu faktor, yaitu pemberitaan oleh jurnalis / media massa. 

          Akibatnya, fatal. Tidak hanya memberi informasi bahwa si penjahat, Alex Montel, sudah tertangkap tapi juga memberi informasi bagi para penjahat lain untuk membebaskan dirinya.
Memang kejadian ini, saya ambil dari film. Tapi, kesalahan yang mirip seperti ini mungkin terjadi di dunia nyata. Menurut Bill Kovaach, Committee of Concerned Journalist, “Makin bermutu jurnalisme di dalam masyarakat, maka makin bermutu juga informasi yang didapat masyarakat bersangkutan. Terusannya, makin bermutu pula keputusan yang dibuat.”

Jadi, poin yang ingin saya sampaikan adalah bahwa media massa dalam praktik jurnalistik harus hati-hati. Apa yang disampaikkan ke masyarakat belum tentu memiliki respon serupa yang diinginkan oleh si penulis. Pada kasus di film ini, bukannya menjadi info yang berguna tapi malah memperkeruh situasi. Contoh lain, namun nyata dan yang pernah terjadi di Indonesia, mungkin saat terjadinya letusan Gunung Merapi. TvOne, sepengetahuan saya, dilarang untuk meliput karena pemberitaan ke publik sangat berlebihan. Pelarangan itu datang karena mereka dianggap menciptakan ketakutan.

Dari buku “A9ama Saya Adalah Jurnalisme”, karangan Andreas Harsono, dalam bisnis media ada sebuah segitiga yang mewakili tiga siku. Siku pertama adalah pembaca atau pendengar. Siku kedua adalah pemasang iklan. Dan, siku terakhir adalah masyarakat. Mungkin terdengar klise antara pembaca atau pendengar dengan masyarakat. Sekilas sama, tapi berbeda. Perbedaanya terletak pada kepentingan. Dalam media massa, jika lebih mengarah pada siku pertama, maka pemberitaan akan lebih pada apa yang ingin mereka dengar. Tapi dalam siku ketiga, pemberitaan akan lebih berat dalam apa yang penting bagi masyarakat.

Ingat! Salah satu dari sembilan elemen jurnalisme adalah berpihak pada masyarakat. Apabila kita kembali ke film, maka pemberitaan tertangkapnya si penjahat bukan pemihakan pada publik, melainkan pemihakkan pada pendengar atau pembaca.

Akhir kata, segala masalah yang terjadi di dunia ini merupakan masalah komunikasi dan cara menyelesaikan masalah itu juga harus melalui KOMUNIKASI.


Silvanus Alvin, Jurnalistik 2009



Daftar Pustaka:
A9ama Saya Adalah Jurnalisme. Harsono, Andrea. Kanisius. 2010

Born to Rule

Dikutip dari “ The Art of  Worldly Wisdom” 17  Februari

Lahir untuk berkuasa. Inilah rahasianya, kemampuan tinggi.

Kemampuan tinggi tidak muncul dari kelicikan, tetapi dari pembawaan yang dilahirkan untuk berkuasa. Siapapun bisa tunduk terhadap pribadi demikian tanpa tahu apa sebabnya, tanpa mengetahuinya rahasia kekuatannya dan sifat-sifat kekuatan kewibawaannya. 
Orang-orang seperti ini memiliki karakter yang agung : raja karena keagungan budinya, singa karena naluri alaminya. Mereka mendapat penghormatan , hati dan bahkan jiwa orang lain. 
Apabila ditambah  dengan bakat-bakat lain, niscaya mereka akan muncul menjadi tokoh politik yang menonjol. Mereka dapat bekerja lebih banyak dengan sikap dan gerakan isyarat daripada pidato panjang berapi-api.

Pada intinya setiap manusia dilahirkan untuk berkuasa.
 Berkuasa terhadap dirinya sendiri dan  menentukan kehendaknya, itulah hakikat manusia! 
Jika seseorang telah mampu menguasai dirinya sendiri maka dia pun dapat menarik hati orang-orang sekitarnya.



Gabrella Sabrina , Jurnalistik 2009  

Karya Fotografi

High Dead Ratio


God Creation


The World is Mine


The Path


Photo by : Silvanus Alvin, Jurnalistik 2009

Thursday, February 17, 2011

Di Saat Daku Tua: Refleksi Kita Terhadap Orangtua

oleh : Randy Hernando, Jurnalistik 2009


“Di saat daku tua, bukan lagi diriku yang dulu…”





nurinautami.multiply.com



Puisi “Disaat daku tua” adalah salah satu yang menggambarkan bagaimana seseorang baik itu perempuan ataupun laki-laki menghadapi masa tua mereka. Dengan segala keterbatasan, mereka memohon kepada yang muda untuk senantiasa memaklumi keadaan yang ada. Ini adalah sebuah puisi sarat makna dan sederhana yang seakan menyentuh sanubari siapapun yang membacanya.
Puisi ini secara tidak sengaja saya temukan di antara tumpukan buku-buku seusai kebaktian di vihara Gunasambhara, Kutabumi, Tangerang. Dalam blog nurinautami.multiply.com, disebutkan bahwa puisi ini terdapat dalam selebaran dari sepatu merk New Era. Berikut isi dari puisi tersebut


Disaat Daku Tua…
Di saat daku tua, bukan lagi diriku yang dulu.
 Maklumilah diriku, bersabarlah dalam menghadapiku.
Di saat daku menumpahkan kuah sayuran dibajuku,
Di saat daku tidak lagi mengingat cara mengikatkan tali sepatu,
Ingatlah saat-saat bagaimana daku mengajarimu, membimbingmu untuk melakukannya.
Disaat saya dengan pikunnya mengulang terus menerus ucapan yang membosankan,
Bersabarlah mendengarkanku, jangan memotong ucapanku, dimasa kecilmu, Daku harus mengulang     dan mengulang terus sebuah cerita yang telah saya ceritakan ribuan kali hingga dirimu terbuai dalam mimpi.
Disaat saya membutuhkanmu untuk memandikanku,
Janganlah menyalahkanku.
Ingatlah dimasa kecilmu, bagaimana daku dengan berbagai cara membujukmu untuk mandi?
Disaat saya kebingungan menghadapi hal-hal baru dan teknologi modern,
Janganlah menertawaiku.
Renungkanlah bagaimana daku dengan sabarnya menjawab “mengapa” yang engkau ajukan disaat itu.
Disaat kedua kakiku terlalu lemah untuk berjalan,
Ulurkanlah tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahku
Bagaikan di masa kecilmu daku menuntunmu melangkahkan kaki untuk belajar berjalan.
Disaat daku melupakan topik pembicaraan kita,
Berikanlah sedikit waktu padaku untuk mengingatnya.
Sebenarnya, topik pembicaraan bukanlah hal penting bagiku,
asalkan engkau berada di sisiku untuk mendengarkanku, daku telah bahagia.
Disaat engkau melihat diriku menua, janganlah bersedih.
Maklumilah diriku, dukunglah daku, bagaikan daku terhadapmu disaat engkau mulai belajar tentang kehidupan.
Dulu daku menuntunmu menapaki jalan kehidupan ini, kini temanilah daku hingga akhir jalan hidupku.
Berilah daku cinta kasih dan kesabaranmu, daku akan menerimanya dengan senyuman penuh syukur.
Di dalam senyumku ini, tertanam kasihku yang tak terhingga padamu.

Puisi ini mengajak semua kaum muda untuk selalu mengingat jasa-jasa orangtua yang tidak bisa terukur oleh apapun di dunia ini. Setelah membaca puisi ini, saya mulai belajar bahwa kita semua, dulu pernah membuat orangtua susah. Selalu menyalahkan, membentak, melawan, sampai menghina orangtua kita sendiri. Padahal, tanpa mereka, kita bukanlah siapa-siapa. Bahkan, bukan tidak kita tidak terlahir di dunia ini. Saya menyadari, hidup ini singkat. Segala sesuatu pasti ada awal dan akhir. Suatu saat orangtua yang kita cintai akan pergi meninggalkan dunia. Bagaimana upaya kita sebagai seorang anak?

 Pertama, yang perlu kita lakukan adalah selalu menuruti nasehat bijak orangtua. Terkadang, amanat yang mereka sampaikan terdengar kuno atau tidak penting di telinga kita. Padahal, hal tersebut dapat  menjadi sebuah bekal di kemudian hari ketika kita menghadapi kerasnya kehidupan. Kedua, selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan orangtua terhadap kita. Biasanya, banyak anak muda yang selalu meminta sesuatu dan harus segera dipenuhi. Mereka tidak peduli dengan keadaan orangtua yang siang-malam bekerja banting tulang demi menghidupi keluarga. Patutlah kita syukuri pemberian dari orangtua. Terakhir, cintailah  orangtua kita dan berikanlah yang terbaik bagi mereka. Ada banyak cara untuk mengungkapkannya. Salah satunya adalah ucapkanlah terima kasih secara tulus  atas segala yang telah mereka berikan kepada kita. Orangtua kita dengan senang hati menerima dan bersyukur.

Tulisan ini saya buat untuk menghormati jasa-jasa orangtua terutama kasih seorang ibu yang tiada taranya untuk kita.

    

Selamat Ulang Tahun, Jakarta!


Karya :Edwina Tjahja ( Ilmu Komunikasi 2010 )