Thursday, December 2, 2010

Media Massa Modern dan Propaganda

oleh : Gloria Samantha (Jurnalistik 2008)

“It plays upon perplexity; it cultivates confusion; it poses as information and knowledge; it generates belief systems and tenacious convictions; it prefers credibility and belief states to knowledge; it supplies false assurances and certainties; it skews perceptions; it systematically disregards superior epistemic values such as truth, understanding and knowledge; it discourages reasoning and a healthy respect for rigor, evidence and procedural safeguards; it promotes the easy acceptance of unexamined belief and supine ignorance”
 – a Canadian scholar Stanley Cunningham

               Kutipan di atas sekadar merupakan gambaran yang saya rasa tepat untuk mendistribusikan peranan serta pengaruh propaganda media dewasa ini. Teori propaganda yang muncul di Amerika Serikat disebabkan adanya kepentingan dari sejumlah pihak dalam bidang politik. Tepatnya, propaganda digunakan sebagai alat untuk mengomunikasikan pesan pada khalayak: untuk didengar, untuk menciptakan citra, untuk menangguk simpati, dan sebagainya.
            Propaganda modern pertama kali berpenetrasi masuk ke Amerika Serikat pada masa Perang Dunia I. Perang menerapkan teknik propaganda untuk menghimpun sejumlah besar tentara Angkatan Darat serta menjaga keyakinan para warga sipil selama tahun-tahun sulit itu. Tak pernah sebelumnya sedemikian banyak orang dapat dimobilisasi untuk pergi berperang, terlebih dalam suatu periode panjang.
            Setelah Perang Dunia I berkahir, peperangan di dunia propaganda berlanjut. Bahkan propaganda ini mulai menjalar ke Eropa, menjadi sarana bagi new political movements untuk menyebarkan dan melebarkan pengaruhnya.
            Pada mulanya beberapa ahli bersikap sangat optimis masyarakat Amerika dapat bertahan dari tekanan propaganda macam apa pun tetapi propaganda justru memperkosa seluruh bagian sistem politik demokratisasi sampai yang terdasar. Propaganda dengan babas melaju; membohongi dan mengelabui demi mempersuasi masyarakat demi mencapai tujuannya.
            Pakar politik Harold Lasswell berteori kekuatan propaganda berhulu pada kerentanan kondisi pemikiran orang pada umumnya.
Menurut Lasswell, depresi ekonomi dan perslah-perslah politik telah menjadi faktor yang memungkinkan seseorang kehilangan nalar kritisnya sehingga dengan mudah menerima segala bentuk propaganda, bahkan yang paling banal. Konfrontasi sehari-hari dalam kehidupan personal mereka rupanya cukup memukul, juga melelahkan; membuat orang cenderung melihat propaganda sebagai hal yang menenangkan dan dapat mengatasi tantangan perikehidupan mereka. Kenyataan miris ini dapat dikatakan fenomena yang terlihat sekali di negeri kita.
Sementara Walter Lippmann, seorang kolumnis bagi surat kabar New York Times,  mengemukakan teori bertajuk ‘Public Opinion Formation’. Di sini Lippmann mempertanyakan kelangsungan hidup demokrasi. Demokrasi akan membawa perubahan besar pada peranan media terhadap arus informasi. Lippmann meragukan kesanggupan masyarakat untuk melek media (media literacy); artinya mampu memilah, tidak menelan mentah apa yang disodorkan oleh media.
Bahkan apabila seorang jurnalis telah melaksanakan tanggung jawab dengan sungguh sekalipun, masih ada resiko orang tidak mampu menangkap apa yang disampaikan, karena rata-rata orang lebih mendahulukan subjektivitasnya saat melihat, mendengar, atau membaca suatu persoalan. Mengenai hal ini, Lippmann setuju dengan Lasswell. Diutarakan Lippmann bahwa setiap individu memiliki bayangan, asumsi dalam benak masing-masing –yang berbeda dengan kenyataan di dunia luar—tetapi terkadang mereka sulit melepaskan bayangan itu. Orang akan terpola mengikuti ekspektasi mereka, ketimbang menerima realitas.
Pada era freedom of press sekarang ini perlu adanya semacam aparat perantara untuk memberi publik proteksi dari propaganda serta kontrol media.
Namun tidak dengan memberlakukan sensor media. Solusi terbaik ialah menempatkan pengawasan pengumpulan dan penyebaran informasi di tangan teknokrasi yang terpercaya, misalnya kalangan ahli/akademisi. Dengan demikian para ahli tersebut dapat mengurutkan fakta dan membuat keputusan dengan analisis metode ilmiah yang sesuai.
Dalam pandangan filsuf John Dewey, otoritas menyelesaikan masalah propanda tidak terletak pada lembaga / teknokrasi maupun metode-metode ilmiah basis. Sebaliknya, lembaga semacam itu tidak diperlukan karena masyarakat dapat belajar mempertahankan dirinya sendiri.
Sepanjang hayatnya, Dewey memang tak kunjung letih menyatakan sikap dan argumennya, yang beranggapan bahwa edukasi masyarakat adalah cara terefektif dalam upaya menentang totalitarianisme yang diam-diam mulai menyelusup di dalam demokrasi.
Dalam teori propaganda kontemporer, yang pokok persoalan adalah, wacana publik telah dibentuk, dibangun, dikembangkan, dibatasi oleh para pemegang kekuasaan; dalam hal ini bisa berarti pemerintah, pemegang modal, atau elit penguasa yang lain. Semata-mata untuk memenuhi kepentingan pribadi. Kita tidak dapat terkecoh dengan nihilnya kontrol aversif.
Sebab tidak berarti informasi yang disalurkan terbebas dari fungsi kontrol. Secara ringkas, media dikatakan hanya sebagai sebuah ‘corong’ dari pemegang kewenangan tertentu, dan kehilangan identitasnya, independensinya.
Kian hari, komunikasi nampaknya tidak sekadar menghadirkan kenyataan tetapi justru menentukan kenyataan, memperlihatkan kekuatan dan daya mempengaruhi yang dimilikinya. Sudah menjadi nyata, misalkan, bahwa dalam situasi-situasi tertentu media tidak dipakai untuk maksud-maksud yang tepat untuk menyebarkan informasi, tetapi justru untuk ’menciptakan’ peristiwa.

Wednesday, December 1, 2010

Indonesia Negeri Luntur

Luntur Agama
Luntur Budaya
Luntur Otak
Luntur Hati
Luntur Toleransi

Itulah Indonesia Negeri Seribu Pulau,
Negeri  agraris dengan hasil alam melimpah,
Negeri beragam suku bangsa dan budaya,
Negeri yang katanya sangat menjunjung tinggi Bhinekka Tunggal Ika.
Semuanya hancur seketika oleh yang katanya mirip “manusia” .


Efraim Tirto Widyanto
(Jurnalistik 2008)

Seminar “Android Technology”

Sebanyak 150 mahasiswa yang tersebar dari berbagai fakultas mengikuti seminar yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Multimedia Nusantara (UMN) bertajuk "Android Technology" pada Rabu (1/12) pukul 13.30 sampai 17.00 di Student Lounge UMN.
Pembukaaan berupa sambutan dilakukan oleh Januar Wahjudi, Kaprodi Fakultas Teknik Informasi. Seminar ini terdiri dari dua sesi. Sesi pertama dibawakan oleh Wibowo Kosasih dari IASA yang membahas mengenai Android and Mobile Technology. Dalam sesi ini, Wibowo memberikan informasi mengenai apa itu Android, sejarah, faktor-faktor perkembangan, dan persaingan apa yang akan dihadapi oleh operating system ini.
Sesi kedua dibawakan oleh Terry dari TELTICS Mobile Media. Terry mendemokan aplikasi Android yang telah dibuatnya, yaitu Telkomsel Lacak. Aplikasi ini menampilkan point of interest  yang berada di lingkungan sekitar pemakai aplikasi ini misalnya, pom bensin, restoran, sekolah, dan ATM.
Android merupakan salah satu dari banyak operating system yang digunakan dalam handset mobile. Memang, perkembangan Android sangat signifikan dalam beberapa tahun ini dan pangsa pasarnya pun mendunia.

Cheryl Pricilla Bensa
(Jurnalistik 2009)

Tak Berbalas

 senyawa dingin di malam merah tenggelam laksana langit tercerai
terduduk bisu aku, tatap cakrawala hitam nan pekat

tersadar oh tersadar…
yang termanis curi dari sepi malam terdingin
tatkala  menoleh, tersirat sebuah nama… hilang
sedari termenung…
jiwa hijau nan lugu lenyap sudah, waktu terlewat

akankah terlihat?
bagai gula dikerubung semut
habis hilang, tersisa kosong


Randy Hernando
mahasiswa semester 3 jurusan ilmu komunikasi jurnalistik 2009

Terima Kasih

(sebuah cerpen singkat dari Pandji Putranda, Jurnalistik 2009)


Orang – orang berdatangan ke rumahku. Kebanyakan kukenal. Tapi banyak juga yang tidak. Mereka berpakaian hitam. Mungkin mereka pikir hitam adalah warna yang mencerminkan duka.

Satu per satu dari mereka masuk. Menyalami ibu yang sudah tidak mampu lagi menangis. Air mata ibu sudah kering sejak kepergian kakakku setahun yang lalu. Dan sejak saat itu, hanya ada tatapan kosong yang membingkai mata ibu.

Satu per satu dari mereka menghampiri peti jenazah. Tubuh itu telah membiru karena kematian yang penuh derita. Satu per satu dari mereka menangis. Beberapa diantaranya sesenggukan. Aku maklum. Kematiannya memang mengenaskan. Gagal ginjal.

Sudah sekitar seratus orang yang datang. Ibuku akhirnya berdiri untuk mengucapkan kata sambutan. Dilanjutkan dengan ajakan doa bersama.

“Terima kasih sudah datang. Andre adalah anak saya yang kedua, yang bungsu. Menyusul kepergian kakaknya yang tahun lalu mengidap penyakit serupa. Terima kasih banyak. Andre pasti tenang di alam sana.”

Aku tidak tahan melihat tangis ibuku semakin menjadi – jadi seperti itu. Aku menghantarnya ke belakang, mencoba menenangkannya dengan memeluknya.

Ibu benar. Aku memang sudah tenang. Kemudian aku pamit sebentar kepada ibu. Aku juga ingin berterima kasih kepada teman – teman yang sudah datang menengok jenazahku.

.p

Menuju Kampus Demokratis, Masihkah Utopis?

Bagi mahasiswa pada umumnya, kampus merupakan rumah kedua.
Sebagian untuk alasan-alasan idealis. Bahwa kampus menjadi tempat bersarang dan teman-teman menjadi keluarga. Sebagian lagi sekadar alasan praktis, yakni bahwa kampuslah yang menyita waktu dalam porsi terbesar di setiap harinya.
Kehidupan kampus memang berdenyut secara dinamis. Mudah menemukan berbagai hal di dalamnya. Yang perlu disadari ialah, sebagaimana suatu grafika kehidupan, kampus kaya akan permasalahan pula.
Kembali memakai analogi, sebuah universitas ibarat sebagai sebuah negara. Pihak rektorat (rektor, dekan, dan para staf) serta birokrat (staf administrasi dan operasional) sebagai pemerintahnya. Mahasiswa ialah rakyat. Artinya; mayoritas yang diregulasi oleh penguasa melalui seperangkat sistem. 
Maka agar ‘rakyat’ itu tidak jadi masyarakat yang terinjak oleh intimidasi otoritas, perlu adanya sebentuk badan perlindungan. Fungsinya menyalurkan kepentingan-kepentingan mahasiswa kepada pihak universitas.
Sebab pola itu—di mana kekuasaan terbiasa mencengkeram—bukan rekayasa artifisial, tetapi memang terjadi. Rakyat sebagai pihak paling bawah selalu dikorbankan.
Mari bicara mengenai kasus konkret. Seorang mahasiswa mengalami kekeliruan dalam proses penghitungan presentasi absen yang berakibat fatal. Nilai ujian tidak kunjung didapatnya. Melapor ke pihak universitas berwenang, ia melalui proses alot yang bisa dikatakan tidak bermakna. Toh pada akhirnya, ia tetap harus mengulang mata kuliah tersebut.
Mahasiswa lain, menghadapi situasi sulit ketika ia didakwa mengganti buku perpustakaan, yang tidak dipinjamnya. Siapa menjamin ketidakadilan semacam ini takkan berlanjut dan menimpa Anda suatu hari nanti?
Dalam dua contoh di atas, terbaca sekali betapa lemah posisi mahasiswa di hadapan institusi. Kehadiran badan perlindungan yang mampu mengakomodasi, memediasi niscaya amat membantu. Memberikan mahasiswa sebuih harapan bagi perjuangan haknya.
Jika mungkin ada kecemasan badan semacam ini memiliki kecenderungan menyalahi batas aturan, masih dapat disiasati dengan meminta bimbingan saran dari pihak ketiga. Seorang dosen, misalnya. Namun tentu yang dimaksud di sini ialah dosen di luar pihak rektorat. Dosen tanpa afiliasi ke salah satu pihak sehingga objektivitas dan independensinya pun terjaga.
Badan Proteksi Mahasiswa—izinkan saya menyebutnya demikian—merupakan instrumen untuk mengupayakan negara itu (baca: kampus) menjadi negara demokratis. Membela kepentingan mahasiswa sebagai rakyatnya.
Dan sisi lain yang tidak boleh diabaikan ialah, BPM harus bersifat representatif menyeluruh. Bukan segelintir kalangan saja, melainkan dapat mewakili seluruh mahasiswa, program studi apapun, angkatan manapun.
Sebab nampaknya opinion leader belum menyentuh sekujur permukaan entitas kemahasiswaan. Hanya monopoli kaum-kaum mahasiswa tertentu. Lantas, di mana letak
distingsinya dengan hegemoni kekuasaan yang hendak dikritisi?
Jangan sampai misi awal untuk memproteksi dan membela kepentingan mahasiswa yang terkesampingkan jatuh tergelincir karena badan (yang seharusnya melakukan) proteksi malah ditunggangi beberapa orang.
Bukankah ironi ketika mahasiswa yang sudah berada di tepi justru tersepak—bukan tersokong—oleh rekannya sendiri? Ingat, ini sama sekali bukan badan eksklusif. 

Gloria Samantha
(Jurnalistik 2008)

Kata Cinta

Keheninganmu berbalut dengan kegelisahanku
Tak pantas bila kubertanya
Hanya diam tanpa kepastian
Desah angin yang satukan nafas kita      

Rajut kembali hari demi hari
Makin bimbang tanpa kepastian      
Bisik surgawi harus satukan kita
Gejolak neraka yang akan pisahkan kita

Bila cinta harus berkata
Hanya dirimu yang aku punya
Tak pantas kumenampis
Hanya dirimu yang pahamiku


#bukan pengalaman pribadi, hanya mengikuti kata hati untuk galau di malam hari!
 


Gabrella Sabrina
(Jurnalistik 2009)