Friday, December 14, 2012

Fikom Night 2012 : Its Your Broadway!



Pintu Masuk Function Hall
It's Your Broadway! Ya... itulah tema yang diusung oleh Fikom Night 2012. Acara yang berlangsung pada Kamis, 13 Desember 2012 pada pukul 5 sore ini nyatanya begitu meriah. Banyak mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi UMN yang turut meramaikan acara ini. Terbukti dengan penuhnya Function Hall dan bangku-bangku yang hampir terisi penuh.

Konsep Broadway semakin terasa ketika panggung Function Hall dikelilingi sorot cahaya lampu warna-warni yang mampu menambah suasana Broadway sesungguhnya! Dengan mengusung tema yang lain dari biasanya, Fikom Night 2012 tidak hanya menjadikan acara ini sebagai wadah untuk berkumpul, tetapi mengajak mahasiswa Fikom untuk menunjukan bakatnya di bidang musik, tari, akting, dan sebagainya. Ada tujuh finalis yang lolos audisi dan tampil malam ini, yakni E-Fresh, D'Archipelago, Finelle, Cherly Boys, Serambi Sendja, Gabby M. Runtu, Candeza. Mereka memberikan performa terbaik demi memenangkan uang tunai dengan total Rp 5.000.000.
Broadway Stage

Uniknya, para mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi dapat mendukung ketujuh finalis dengan memasukkan koin 500 ke starbox yang tersedia di bagian belakang Function Hall. Antusiasme yang luar biasa nyatanya mampu menarik banyak mahasiswa untuk berpartisipasi. Teriakan demi teriakan untuk mendukung finalis favorit masing-masing kian menggema ketika para finalis tampil di atas panggung. Semuanya begitu memikat dewan juri yang terdiri dari Riris Marpaung, Benny Jurdi, dan Iqbal Maulana.

Selain itu malam puncak Fikom Night 2012 juga dimeriahkan oleh penampilan dari NNVistic dan Sit Back. Sampai akhirnya, pengumuman pemenang pun dibacakan. Candenza berhasil meraih posisi III, E-Fresh di posisi II, dan Cheerly Boyz nyatanya mampu merebut posisi pertama! Selamat kepada Cheerly Boys yang juga menjadi juara terfavorit dari penghitungan koin terbanyak.

Seluruh finalis telah menampilkan hasil terbaik, begitu juga dengan panitia-panitia yang rela membanting tulang demi terselenggaranya acara Fikom Night 2012 ini. Semoga Fikom Night tahun depan bisa lebih berkesan dan memunculkan ide segar guna mengakrabkan para mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi UMN lebih dekat lagi. Proficiat untuk Fikom Night 2012!

Wednesday, December 12, 2012

Keterbatasan Bukan Batasan


Oleh :

V.2 Production

Putri Suryani
Christianto Rasli
Mario Mediantoro
Leonita
Dona Handayani
Indah Lestari

(Jurnalistik 2010)

Profil : Dahlan Iskan Sang Inspiratif


Dahlan Iskan
(gambar diambil dari hukum.kompasiana.com)

Dahlan begitu inspiratif karena kesederhanaannya, jiwanya yang bebas, optimis, bertanggung jawab, dan pikirannya yang luar biasa.


Dahlan Iskan, pria kelahiran Magetan, 17 Agustus 1951 dari keluarga petani. Sempat selama dua tahun ia menjadi mahasiswa di IAIN Samarinda. Namun, tak selesai karena ia mengaku telah jatuh cinta pada koran kampus. Mulailah ia menjadi wartawan lokal.

Lembaga swadaya masyarakat Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi Sosial (LP3ES) mengadakan program kerja magang di Jakarta, ia terpilih dan dapat magang di majalah Tempo. Ia berada di bawah komando Pemimpin Redaksi Bur Rasuanto. Prestasinya, laporan eksklusif terpidana mati Kusni Kasdut dari penjara Cipinang.

Setelah selesai magang, ia kembali ke Samarinda. Sesekali member kontributnya kepada Tempo. Dikala ada tragedi Tampomas II terbakar dan tenggelam, Dahlan menurunkan dua laporan utama untuk Tempo. Dua edisi berturut-turut meulis tentang peristiwa yang menewaskan lima ribu penumpang di perairan Masalembo, Laut Jawa membuatnya dipromosikan untuk menduduki kepala biro Tempo di Surabaya.

Ketika Grafiti Pers membeli koran Jawa Post (1982), Eric Samola menunjuk Dahlan mengelolanya karena ia sudah mengetahui dengan baik wilayah Surabaya. Kepala sirkulasi dipegang oleh Imam Soeroso. Orang Tempo di Jakarta menilai mereka berdua ‘nekat’ mengelola Jawa Post yang diprediksi suram.

Jawa Post yang terbit pertama kali pada 1 Juli 1949 ini dimiliki oleh penggagasnya, yakni The Cung Sen. Koran yang berhaluan liberal ini, awalnya tergolong pers Cina yang menitikberatkan beritanya pada ekonomi, terutama perdagangan. Ketika dibeli Samola, koran ini hanya sepuluh persen dari oplah Surabaya Post, wajar banyak yang pesimistis.

Samola memberi modal kerja Rp 45 juta. Dahlan menerapkan program penghematan dan hanya menggunakan Rp 30 juta sampai Jawa Pos sudah mampu mandiri. Laki-laki yang menjiwai sifat jurnalis ini membenahi penampilan koran. Gambar dan foto di halaman pertama menjadi berwarna. Jajaran redaksi diperbaharui. Wartawan dikerahkan untuk mencari berita, bukan menunggu siaran pers atau undangan jumpa pers saja. Feature dan analisis berita diterapkan. Redaksi wajib siap siaga sampai pukul dua pagi. Jajaran tata letak harus bekerja keras kerja sambil berdiri sepanjang hari. Dahlan membuka jaringan penjualan melalui keluarga dan anak-anak sekolah. Lima tahun pertama oplah Jawa Pos luar biasa meningkat.

Peningkatan luar biasa sampai tahun 1990 ini sudah berhasil membawa Jawa Pos ke dalam deretan pertama koran paling laku di Indonesia. Lima tahun kedua (1987-1992) omset Jawa Pos mencapai Rp 38,6 miliar dengan oplah berjumlah 300 ribu eksemplar per hari. Sesuai slogan kampanye, “koran nasional yang terbit dari Surabaya”, Jawa Pos merambah keluar Surabaya dengan membentuk Jawa Pos News Network (JPNN) (1987) dengan Dahlan sebagai Chief Executive Officer. JPNN adalah jaringan yang memeasok berita ke 80 media cetak yang dimilikinya. Semua saling terhubung dan dapat diakses melalui bank data JPNN.

Tahun 2000, Jawa Pos memiliki 67 koran, tabloid, dan majalah. Grup Jawa Pos memiliki 40 jaringan percetakkan. Tahun 2002, Jawa Pos melebarkan sayap ke dunia televisi lokal. Meskipun sudah berhasil, Dahlan belum juga memiliki ruang kantor di gedung perkantoran Graha Pena, tidak memiliki nomor telepon khusus juga.  Dahlan yang rutin menghubungi sekertarisnya untuk melaporkan posisinya.

Dahlan selalu tampil sederhana bebas meskipun sekarang (2011) ia sudah menduduki jabatan Menteri BUMN setelah sebelumnya ia menduduki posisi direktur utama PLN dan membawa PLN kea rah yang jauh lebih baik. Ia tetap seorang yang seperti dulu, dan selalu dihormati oleh karyawannya. Dahlan begitu inspiratif karena kesederhanaannya, jiwanya yang bebas, optimis, bertanggung jawab, dan pikirannya yang luar biasa.


Ditulis pada 9 Januari 2012
Oleh Putri Suryani (Jurnalistik 2010)

Tuesday, December 11, 2012

Divisi Jurnalistik I'MKOM Gen 3

Kepengurusan Divisi Jurnalistik I'MKOM Gen 3 (periode 2012-2013) :
- Christianto Rasli (2010)
- Rheta Dwi Lestari (2011)
- Sintia Astarina (2011)

Selain memberi informasi, blog ini juga akan menampilkan karya-karya mahasiswa jurnalistik UMN. Seperti cerpen, puisi, videografi (iklan, film pendek, dll). Tidak tertutup kemungkinan untuk teman-teman 2012, kalau kalian punya karya, bisa dikirim juga loh! Apapun bentuk karya/tugas kalian bisa dikirimkan ke email kami di persmailkom@rocketmail.com, mention @PERSMAumn, hubungi contact person diatas.

I'MKOM, together we can!

Monday, December 10, 2012

I'MKOM Gen 3 Resmi Dilantik


Pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Himpunan Mahasiswa Fakultas (HMF), dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Universitas Multimedia Nusantara periode 2012-2013 resmi dilantik pagi ini (10/12) di Function Hall. Dalam kata pengantarnya, Rektor UMN, Dr.  Ninok Leksono mengatakan agar mahasiswa selama masa studinya di UMN tidak hanya menuntut ilmu saja tetapi turut aktif berorganisasi juga.

“Saya berharap, selama masa studi di UMN, mahasiswa tetap mengutamakan ilmu, tetapi kalau hanya menuntut ilmu saja akan terasa ‘kering’. Manfaatkan waktu untuk berlatih berorganisasi karena melalui organisasi  kita bisa  belajar kepemimpinan. Jangan sampai masa belajar di UMN monoton dan tidak berwarna. Pergunakan kepengurusan ini untuk memberi nilai tambah selama di UMN, agar setelah lulus nanti akan punya kenangan tersendiri yang lebih kaya dan memiliki pengalaman,” katanya.

Pelantikan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars UMN. Lalu diikuti oleh kata sambutan oleh Ketua KBM 3, Putri Suryani dan kata sambutan oleh Ketua BEM 2, Preva Dimas. Kepengurusan BEM akan dilantik oleh KBM, sedangkan kepengurusan HMF dan HMJ dilantik oleh Kaprodi masing-masing fakultas/jurusan.

Karena Ibu Bertha Sri Eko selaku Kaprodi Ilmu Komunikasi berhalangan hadir, maka I’MKOM dilantik oleh Bapak Ambang Priyonggo selaku sekretaris prodi ilmu komunikasi. Adapaun ke-18 anggota I’MKOM yang dilantik ialah :

Ketua : Ananda Wondo (PR 2010)
Wakil Ketua : Nicko Purnomo (Jurnal 2011)

Sekretaris : Katharina Moli (PR 2010) dan Cinthya Tania (PR 2011)
Bendahara : Herdi Setiawan (PR 2010) dan Dina Sagita (PR 2011)

Divisi ARD : Angela Andriani (PR 2010), Nindya Putri Erlyta (PR 2011), Nicola Malva (PR 2011)

Divisi PR : Jessica Riadi (PR 2010), Jan Kristoforus (PR 2010), Diana Febi Winata (PR 2011)

Divisi Jurnalistik : Christianto Rasli (Jurnalistik 2011), Sintia Astarina (Jurnalistik 2011), Rheta Dwi Lestari (Jurnalistik 2011)

 Divisi Kesma : Pramuda Wardani (PR 2010), David Mario Hutabarat (PR 2011), Clara Alverina (Jurnalistik 2011)

Selamat mengemban amanah untuk ke-18 pengurus I’MKOM periode 2012-2013.
 I’MKOM, Together We Can!

Friday, November 16, 2012

Torres Ingin ke Spanyol, Hamman Malah Berharap El Nino


Fernando Torres mengalami penurunan performa semenjak masuk Chelsea pada bulan Januari 2011. Seperti dilansir nesn.com, pemain yang mencetak 81 gol untuk Liverpool tersebut ingin kembali ke Spanyol.
Sejak kepindahannya di Chelsea, Torres merasa kesal karena lebih banyak duduk di bangku cadangan dan hanya bermain pada saat-saat terakhir. Di tahun pertamanya tidak banyak gol yang ia cetak seperti waktu di Liverpool. Hanya tercatat 11 gol saat ia bermain pada 57 laga berseragam London Biru.
Tak heran, pemain kelahiran 20 Maret 1984 ini berencana untuk keluar dari The Blues di akhir musim 2011-2012. Namun, manager Chelsea, Roberto di Matteo meyakinkan dia akan mendapatkan peran besar di pertandingan-pertandingan selanjutnya.
Pemilik klub Chelsea, Roman Abromovich juga mempersiapkan diri untuk mengeluarkan pemain yang sering dijuluki El Nino tersebut. Namun sebelumnya, mantan pelatih The Blues, Rafa Benitez pernah menyatakan adanya harapan terhadap Fernando Torres.
“Saya yakin Fernando bisa lebih baik tetapi tim sendiri juga harus membantunya. Kita harus memberikan kesempatan dan kepercayaan”, ujarnya seperti dikutip the sun.co.uk.

Sementara itu, sebelumnya,  seperti dilansir harianolahraga.com, mantan punggawa Liverpool, Dietmar Hamann berharap mantan klubnya itu bisa membawa pulang Torres, jika ingin kembali berjaya.
“Saya akan membawa Torres pulang besok,” ujar Hamann jika dia berandai menjadi pelatih The Reds saat ini.
“Alasan lain, dia bakal kembali ke bentuk permainan terbaiknya, jika dia berseragam The Reds,” sambung Hamann, seperti dikutip Goal, Kamis (15/11/2012).




Oleh Zerica Estefania Surya - Jurnalistik 2011
   Tugas Penulisan Berita Media Cetak            

Friday, September 21, 2012

Cerpen

MUSUHKU, CINTAKU

 oleh Angela Limawan

Tidak setiap orang sama walaupun dia tinggal di negara yang sama. Memiliki budaya, bahasa, kehidupan yang sama. Tapi pribadi seseorang tidak akan sama. Itulah satu hal yang sangat penting baru aku pelajari. Walaupun aku membeci negara itu, tapi aku akan salah jika aku membenci semua orang dari negara itu. Bukan negaranya yang jelek dan menyebalkan tapi sebagian orang di dalamnya yang membuat negara itu terlihat buruk di mata orang lain. Bahkan ternyata dengan beberapa orang yang suka membuat ulah dengan negara lain, bisa menjadikan sebagian warganya juga ikut membenci negaranya sendiri. Tentu saja karena negaranya terus menerus membuat konflik dengan negara lain. Ini benar – benar pengalaman yang luar biasa dalam hidupku, karena Tuhan benar – benar membuka mataku agar aku sadar bahwa selama ini aku telah salah menilai orang. Dan aku lebih menyesal lagi saat sadar bahwa orang yang aku benci adalah orang yang kelak bisa membuatku jatuh cinta padanya.
            “ Gung, u ambil jurusan ap?”                                                
            “ Gw ambil komunikasi. U?”
            “ Gw bisnis. Wah, beruntung banget u. Tadi gw liat cewek cantik banget lagi nyari kelas. Dia komunikasi juga. Eh, kalo u uda kenal dia, kenalin gw y!”
            “ Dasar u! Uda sana masuk, gw juga mo masuk. Ntar ketemu di kantin y.”
            Di dalam kelas, tiba – tiba mataku tertuju pada seorang gadis cantik dengan rambut lurus, putih, lembut. Dan dalam hatiku berkata,” Siapa dia? Apa aku jatuh cinta pada pandangan pertama? Dia benar – benar tipe cewekku.” Aku langsung berkenalan dengannya.
            “ Halo, nama w Agung Pranata. Nama u?”
            “ W Tifanny Khrisma. Salam kenal.”
            Dalam hatiku berkata lagi,” Wah, ni cewek ga canggung kenalan ama orang baru. Ga neko – neko kaya cewek laen y.”
            “ Hai Agung sayang, ko kamu ninggalin aku sih! Kita duduk bareng y.” Langsung duduk di sampan Agung sambil memeluknya.
            “ Eh, Cas apa – apaan sih u.  Ga sopan banget!”
            “ Sori sayang. Eh, siapa nih?”
            “ Kenalin dia temen baru w namanya Tifanny. Fan, kenalin nih Casey Clow.”
            “ Well, sebenernya w bukan temen biasa buat Agung. Salam kenal y. Btw u tinggal di mana y?”
            “ Apa – apaan sih u! Dan kenapa u nanya dia tinggal di mana? Emang kalo dia tinggal di rumah yang jelek u bakal ngebully dia? Awas y u!”
            “ Ih, ko kamu ngomongnya gitu sih ama aku, Bab. Nggak ko, aku kan cuma nanya, gak apa – apa kan Fan?”
            “ Gak apa ko, w tinggal di asrama pasturan St. Angela karena w dari luar negri. W dari …..”
            “ Slamat pagi anak – anak. Hari ini kita belum akan memulai pelajaran. Kita hanya akan perkenlan satu sama lain. Baik, ibu akan mulai memperkenalkan diri. Nama ibu, Veronika. Ibu dosen komunikasi di Universitas Garuda ini. Ibu sudah 3 tahun mengajar di sini. Jadi ibu sangat berharap pada kalian semua untuk bisa seperti kakak kelas kalian yang sudah lulus dengan baik. Dan universitas ini bukan universitas yang bisa memberikan toleransi pada apapun. Jadi jika tidak bisa mengikuti peraturan yang ada di sini, silahkan keluar. Karena ibu menilai kalian bukan hanya dari pengetahuan, tugas, atau ulangan saja tapi juga sikap. Mengerti! Sekarang, ibu akan absent satu per satu dan ceritakan tentang diri kalian. Kalian masuk ke fakultas komunikasi harus bisa belajar berkomunikasi yang baik dan benar lebih dari anak – anak fakultas lain. Baik, ibu mulai dari Agung Pranata. Silahkan!”
            “ Saya Agung Pranata. Saya dari SMA Kanisius Jakarta. Hobi saya adalah bermain futsal. Trima kasih.”
            “ Berikutnya Casey Clow.”
            “ Saya Casey, saya dari SMA Theresia Jakarta. Hobi saya belanja dan nonton bioskop.”
            “ Hah, ya ampun. Baik, berikutnya Tifanny Khrisma.”
            “ Nama saya Tifanny Khrisma. Saya dari SMA Harapan Mulia Malaysia.”
            “ Wah, jauh sekali kamu kuliah di sini. Bisa beritahu kami kenapa kamu pindah ke Indonesia?”
            “ Apa? Dia dari Malaysia? Negara yang aku benci yang selalu membuat konflik dengan Indonesia? Hah, dasar! Seharusnya dari awal aku tidak boleh tertarik dengannya. Dia musuhku, dan aku harus mengalahkannya!” Agung menggerutu dalam hati.
            “ Ayah saya pindah bekerja di perusahaan di Indonesia untuk waktu yang cukup lama. Jadi keluarga kami memutuskan untuk tinggal dan menetap di sini.”
            “ Dengar anak – anak, bukan berarti Negara kita yang selalu berkonflik dengan Malaysia membuat kalian membenci Tifanny. Anggap dia sebagai teman kalian juga, bukan musuh. Ibu tidak mau ada permusuhan di sini. Mengerti!”
            “ Sam, u tau ga masa di kelas w ada anak dari Malaysia!”
            “ Ha? Serius u? Yuk kita buli!”
            “ He! Jangan ntar w yang kena marah ma Bu Sinta. U mau baru masuk uda dapet SP. Sumpah w benci banget kalo tau begini ma dia.”
            “ Emang tadinya u suka ama dia? Hahahaha…..”
            “ Iya. Ooops!” Langsung menutup mulut.
            “ Ha? U jatuh cinta pada pandangan pertama? Hahahhaah…Agung, Agung. Emang dia secantik apa sih ampe bisa naklukin pangeran kaya u.”
            “ Tuh orangnya.” Menunjuk kea rah Tifanny.
            Tanpa bisa berkata – kata dan hanya melihat dengan tatapan penuh rasa kagum.
            “ Woi! Kenapa, u suka juga? Emang dia perfect tapi kita harus inget dia dari mana. Setuju!”
            “ Setuju!”
            Hari demi hari aku lewati di kelas yang sama dengannya. Ternyata dia anak yang pandai dan rajin. Dia juga tidak seperti orang di negaranya yang aku benci. Dia baik dengan semua orang, dia juga mencintai hal – hal yang ada di Indonesia. Dan yang membuatku kaget, ternyata dia membenci pemerintahan di negaranya. Katanya, pemerintahan di negaranya selalu membuat konflik dengan Indonesia. Ini membuatnya cukup takut tinggal dan bergaul di Indonesia. Dia juga membuktikan bahwa semua hal yang diclaim oleh negaranya adalah asli milik Indonesia. Sering dia merasa sedih dan tidak enak hati dengan orang Indonesia yang tidak bisa berbuat banyak saat negaranya mengambil sedikit demi sedikit dari Indonesia. Rasanya ia ingin menentang apa yang dilakukan negaranya. Tapi dia tidak bisa, itu Negara tempat dia dilahirkan dan dibesarkan selama 17 tahun. Karena sudah tahu hal ini, maka aku mulai mau membuka diriku untuk ngobrol dengannya. Tapi aku tetap akan berusaha menutup hatiku untuknya. Karena walau bagaimana pun dia tetap musuhku.
            “ Fan, gimana tugas Bu Sinta, u uda selesai?”
            “ Lumayan, w tinggal ngirim email ke dia. Oh iya, Gung w mo ngomong serius ke u boleh?”
            “ Ha? Serius? Aaaaa…apa? Boleh ko, boleh hehehee…”
            “ W mo minta maaf, w tau u kesel banget ma negara w dan w takut u jadi ga nyama di kelas karna ada w. W ga mau nilai u kurang baik karna kehadiran w di kelas yang bikin u kesel tia hari dan u jadi ga konsen ama pelajaran.”
            “ Gak apa – apa ko. W jadi yang harusnya minta maaf ke u kalo u uda jadi susah begini gara – gara sikap kekanak – kanakan w selama ini.”
Mendengar perkataan perkataannya kemarin, hatiku semakin luluh dan semakin tidak terkendali. Seolah perasaan suka yang aku kandangin di hatiku berontak dan ingin keluar karena perasaan itu sepertinya telah tumbuh besar dari hari ke hari. Ya Tuhan bagaimana ini? Kenapa ini terjadi? Aku harus bagaimana? Setiap hari aku merenung, memikirkan, sambil terus menjalani hari – hari dengannya. Yang membuatku semakin akrab dengannya, sampai akhirnya kami tahu keluarga dan kehidupan pribadi kami masing – masing. Dan akhirnya aku sadar bahwa aku benar – benar mencintainya.
            Setelah 6 bulan berkenalan akhirnya aku memutuskan untuk mengakui perasaanku padanya. Aku sadar bahwa aku salah sudah membencinya. Aku harap dia mau memaafkanku dan menerima cintaku.
            “ Hai, Fan w mo ngomong penting ama u boleh?”
            “ Boleh mo ngomong apa?”
            “ U dengerin w dulu ampe selesai tanpa komentar y, nanti w pasti kasih kesempatan u bicara. Sebenernya dari awal w ketemu ama u, w udah suka ama u. U satu – satunya cewek yang gak agresif pas ketemu w. W ngerti mungkin u belum tau siapa w. Tapi setelah kita berteman sekian lama dan u uda tau siapa w, u tetap santun. U gak pernah mandang orang dari luar. U bener – bener beda ama orang – orang di negara u. Dan w minta maaf kalo w uda benci banget ma negara u. W sadar ga semua orang jelek di negara u. Dan w janji w akan buang jauh – jauh perasaan itu. Sekarang w mo tanya ke u, u mau ga jadi pacar w?”
            “ Gak apa ko, w sadar mungkin beberapa orang di negara w emang buat warga negara u kesal dan w memaklumi itu karna itu sudah sepantasnya u miliki. Kalo w jadi u, w juga pasti kesel. Kalo soal itu, w harus izin ke orang tua w dulu. Mereka harus tau siap yang jadi pacar w. W harap u mau ketemu mereka dulu. Kalo mereka setuju, ehm…w mau ko jadi pacar u.”
            Dengan rasa senang aku ikut ke rumah Tifanny untuk makan malam dan berkenalan. Kami berbincang – bincang dengan nyaman tanpa adanya rasa canggung perbedaan kewarganegaraan. Mereka tidak pernah mempermasalahkan konflik antarnegara kami. Malah mereka yang merasa tidak enak karena ulah warga negaranya. Sungguh aku menyesal memiliki perasaan seperti itu dulu. Ternyata Tuhan benar – benar menunjukan bahwa aku salah besar menilai orang, dan aku harus menebusnya.
Setelah izin dari orang tua Tifanny aku dapatkan kita pun memulai hubungan kami sebagai sepasang kekasih. Sekarang giliran orang tuaku. Tapi, ayahku tidak seperti mereka. Ayahku sepertiku dulu yang menganggap orang dari Negara tetangga itu musuh yang menyebalkan. Tapi aku tetap optimis, aku bisa merubah karakterku dengan usaha sendiri, aku pasti bisa mengubah pemikiran ayahku yang lebih dewasa.
“ Ma, Pa besok aku mau bawa Tifanny ke sini buat makan malam y.”
            “ Silahkan papa tidak melarang. Ternyata kamu sudah dewasa y hahahaha…”
            “ Tapi Pa, Ma aku mau kasih tau ke kalian kalo Tifanny itu asli orang Malaysia. Dia pindah dan menetap di sini karna …….”
“ Apa? Tidak papa tidak setuju kamu bergaul dengan dia. Kamu tidak ingat apa yang mereka perbuat pada kita! Pokoknya papa tidak suka dengan dia!” Langsung meninggalkan ruang makan.
“ Pa, tunggu….! Ma, mama bisa kan bantu aku? Mama setuju kan ama pilihanku selama itu baik buat aku?”
“ Sayang, mama tidak seperti ayah kamu. Kamu tenang aja. Besok tetap bawa dia untuk makan malam di sini. Mama akan masak yang special buat gadis kamu.”
“ Tapi papa?”
“ Kamu tenang aja, jika sikap papa kamu buruk, mama yang akan kendalikan dan mama yang akan jelaskan ke Fanny jika kamu gak bisa.”
            “ Makasih banyak y ma.”
Di kampus sebelum mengundangnya makan malam di rumahku, aku menjelaskan keadaan papaku ke Fanny. Ternyata memang dia adalah oang baik dan aku tidak salah memilihnya, dia mengerti dan tetap mau makan malam di rumahku. Aku hanya bisa berharap dia bisa meluluhkan hati papaku.
“ Slamat datang silahkan masuk. Saya ibunya Agung.”
“ Saya Tifanny, senang berkenalan tante.”
“ Pa, kenalin ini Tifanny pacarnya Agung. Silahkan duduk, Fan!”
“ Apa kabr om? Makasih tante.”
“ Agung papa mo jelasin sama kamu. Sebenarnya papa dan mama sudah menjodohkan kamu dengan Casey. Dia anak teman baik papa. Katanya dia satu kampus dengan kamu. Apa itu benar?”
“ Apa? Papa apa – apaan sih main jodoh – jodohin aku. Aku kenal siapa Casey dan aku ga akan pernah mau sama dia. Maaf pa kalo aku lancing.”
            “ Jangan kurang ajar kamu! Asal kamu tau, papa juga tidak akan setuju kamu sama dia, NGERTI!”
Di kampus aku berusaha menjelaskan kejadian semalam agar Fanny tidak marah padaku. “ Fan, soal yang semalem….”
“ Denger Gung, aku sama sekali ga marah ama kamu dan orang tuamu. Tapi aku ga mau hubungan kamu dan ayah kamu rusak kaya gini gara – gara aku. Aku ga mau jadi penyebab hancurnya kluarga kamu. Sebenarnya aku berat buat ngomong ini tapi ini lebih baik buat hubungan kita ke depan. Kita putus aja y?”
“ Apa? Jangan, aku ga mo. Denger, aku bisa atasin masalah ini. Kamu ga usah ikut campur dulu. Aku akan beresin dan buat papaku nerima kamu. Pokoknya aku ga mau kita putus! Please jangan putusin aku. Kasih aku waktu buat selesain masalah ini. Kamu mau kan?”
“ Tapi……”
“ Please Fan, aku ga mau putus!”
“ Tapi kalo ga bisa, aku cuma ga mo hubungan kamu dan papa kamu tegang terus kaya gini. Dan satu – satunya cara kita harus putus y.”
“ Aku pasti bisa.”
Sambil meninggalkan Agung, aku kembali ke kelas dengan menahan tangis. Tapi di toilet aku tidak bisa membendung tangisku. Aku menangis tanpa suara. Mungkin ini tangisanku yang paling sedih selama hidupku. Rasanya benar – benar sakit mengatakan itu semua. Ya Tuhan, dia pacar pertamaku. Cowok pertama yang begitu berarti untukku. Kenapa jika dia bukan milikku tapi Kau berikan dia padaku?
Selama berhari – hari hubungan kami masih dikatakan backstreet sejak kejadian malam itu. Setiap hari aku berfikir cara untuk mengatakan semua ini pada papaku. Tapi aku malah mendapat kabar buruk. Bahwa di hari ulang tahunku, papaku dan orang tua Casey memutuskan untuk menjodohkan aku di depan para undangan. Aku tidak bisa menyembunyikan ini dari Fanny, walupun aku tahu dia pasti akan sakit hati. Tapi dia tahu bahwa aku hanya mencintai dia.
Di hari ulang tahunku, aku terpaksa tidak mengundang Fanny. Ternnyata benar, ayahku menjodohkan aku malam itu dan kami pun bertunangan. Dengan sedih aku menuruti semua perkataan ayahku. Karena di satu sisi aku tidak mau membuat orang tuaku malu dengan para undangan yang hadir. Para undangan bukan orang biasa, tapi para orang terhormat dari perusahaan ayahku. Lalu akhirnya aku memberanikan diri bicara.
“ Slamat malam para undangan sekalian mohon perhatiannya sebentar. Saya mau bertanya apakah ada dari kalian yang membenci warga Malaysia?”
Ternyata Tuhan membantuku malam itu. Banyak para undangan menjawabku.
“ Tidak. Walaupun sebagian dari mereka sering berbuat konflik dengan kita.”
“ Tidak. Karena tidak semua orang Malaysia itu buruk.”
            “ Tidak. Karena mereka tetap menerima kita dengan baik saat kita ke sana.”
            “ Tidak. Karena mereka menerima anak saya dan berteman dengan baik tanpa ada masalah kewarganegaraan.”
“ Trima kasih banyak atas jawabannya. Saya akan bertanya sekali lagi. Apakah pantas jika kita membenci orang Malaysia yang tinggal di sini karena kesalahan yang bukan dia perbuat?”
“ Sama sekali tidak! Siapa orangnya?”
            “ Apa hak orang itu?”
            “ Dia sungguh membuat warga Indonesia malu dengan perbuatannya.” Para undangan menggerutu dan membuat gaduh dengan teriakan – teriakan.”
“ Baik. Cukup. Terima kasih. Maaf jika saya membuat papa malu malam ini. Tapi saya benar – benar sudah tidak tahan dengan sikap papa. Kalau papa hanya melarang saya berteman dengan Fanny, saya terima. Tapi kalau papa sudah mengambil hak saya untuk memilih yang terbaik untuk saya dengan perjodohan seperti ini, saya tidak bisa terima. Saya juga minta maaf kepada Tuan dan Nyonya Clow, kalau saya tidak bisa bertunangan dengan Casey. Karena saya mencintai wanita lain.”
Di luar dugaanku, para undangan seolah mendukungku dengan menggerutu menyinggung papa. Mereka sepertinya juga tidak suka dengan perbuatan papaku. Dan mamaku juga setuju denganku, dengan tersenyum bahagia. Yang membuat aku semakin bahagia lagi, ternyata walaupun Casey marah dengan perbuatanku, tapi kedua orang tuanya mengerti maksudku.
“ Agung, om dan tante benar – benar minta maaf. Kalau kami tahu ini memaksakan kamu, kami pasti akan menolaknya dari awal. Kami memang sangat ingin kamu menjadi pendamping Casey, tapi jika tanpa cinta kami juga tidak bisa memberikan Casey. Kami hanya berharap ada orang yang benar – benar tulus mencintai Casey. Dan untuk Pak Pranata, kami harap bapak sadar apa yang telah bapak perbuat. Kami pemisi.”
“ Terima kasih banyak atas pengertian kalian semua, saya benar – benar minta maaf atas ketidaknyamanan ini.”
“ Iya, kami juga berharap tidak ada orang tua seperti Pak Pranata.”
Para undangan pulang dengan kesal atas perilaku papa. Tapi itu yang pantas dia dapatkan. Dan untukku, semoga besok lebih baik dari mala mini. Aku benar – benar bersyukur Tuhan membantuku.
Besoknya di kampus aku memberitahu semua yang terjadi kemarin malam kepada Tifanny. Dia benar – benar cewek terbaik yang pernah aku temui. Dia malah merasa tidak enak pada papaku yang malu di depan semua rekan bisnisnya. Tiba – tiba aku mendapat telepon dari ibuku. Dia mengatakan bahwa ibu mengundang Fanny makan siang. Karena ayah mau bicara dengannya. Di satu sisi aku penasaran, apa papa masih akan membenci Fanny atau lebih parah karena kemarin dia sudah malu. Di sisi lain aku berfikir apa papa sudah sadar bahwa dia melakukan kesalahan?
Saat makan siang, aku sungguh tegang. Aku takut Fanny sedih lagi mendengar kemarahan papa.
“ Fanny, om mau minta maaf. Om sadar kalo om sudah melakukan kesalahan besar. Om hanya mengikuti kemauan hati om tanpa memikirkan orang lain termasuk anak om sendiri. Om harap kamu mau memaafkan om.”
“ Iya om tentu. Trima kasih om dan tante sudah menerima saya dengan baik.”
“ Kalau begitu bagaimana jika nanti malam kita makan malam bersama di restoran dengan orang tuamu. Karena saat pesta ulang tahun Agung kemarin kalian tidak om undang.”
            “ Trima kasih om atas undangannya. Orang tua saya pasti sangat senang.”
Sejak makan malam itu,hubungan kami pun berjalan baik. Setelah lulus kuliah, kami pun memutuskan bertunangan dan pergi ke Malaysia untuk bekerja. Kami tidak mempermasalahkan perbedaan warga negara kami dalam hubungan kami kelak. Sehingga kami bisa hidup bahagia selamanya.