Thursday, February 17, 2011

SABAR

Kamu masih betah? 

Baiklah.

Selamat berdiam dalam kalbuku, wahai sabar

Jika aku ditakdirkan untuk bersanding denganmu, sabar

Kita mungkin menjadi pasangan paling bahagia dan menderita sedunia

Seketika kita berbincang dalam ruangan intim hatiku

Kamu berkata akan setia menemaniku

Meskipun kamu akan minggat sesaat kala seseorang mendesakmu

Aku mendengar kamu mengetuk perlahan

Kakiku melangkah hendak membuka pintu-pintu kecil

Mempersilahkan kamu masuk kembali seusai kegelisahan ini menimbunku

Ternyata kamu sangat mencintaiku, kamu datang lagi, lagi, dan lagi

Akibatnya pengusik itu datang lagi, lagi, dan lagi

Sabar sayang, kan kumandangkan terima kasih

Kita melakukan rutinitas yang menjadi anugerah, 

yakni bersabar.


Semoga kesetianmu menggantung di langit-langit jiwaku.



Gloria Fransisca Katharina
Ilmu Komunikasi 2010

Wednesday, February 16, 2011

Malam Tanpa Bintang

Cynthia Panda Kwesnady
(Fakultas Ilmu Komunikasi 2010)


Aku memandang lautan langit nun jauh di atas kepalaku
Merasakan betapa kecilnya aku dibandingkan dengan alam semesta
Malam ini..  malam panjang yang penuh dengan kesendirian
Tanpa sadar lamunan membawaku jauh ke awang-awang
Anganku terbang makin jauh makin tinggi terbawa oleh semilir angin
Merasakan betapa besarnya Sang Pencipta
Merasakan betapa dalam kasih-Nya bagi hidup semua anak-Nya
Mengakui keagungan-Nya
Meresapi kebaikan-Nya
Dalam suatu malam tak berbintang


Sewaktu Galau

Janganlah pernah berfikir kalau kau sendirian
Sebab Tuhan itu nyata adanya untuk menemanimu
Ketika kau merasa hampa
Ingatlah kalau setiap saat selalu terselip kesenangan untuk mengisi kekosongan
Saat kesedihan merajai hatimu
Percayalah bahwa kebahagiaan sedang menantimu
Waktu kau merasa hidup sudah tiada artinya
Kembalilah mengucap syukur karena hidup itu anugerah
Pada intinya, yakinkanlah hatimu kalau kau akan dan terus bahagia
Tersenyumlah karena itu akan menjadi tameng melawan segalanya





Jeffry Oktavianus
Ilmu Komunikasi 2010

Your Path, Your Destiny

 Oleh : Cynthia Panda Kwesnady
(Fakultas Ilmu Komunikasi 2010)


         Ini kisah tentang dua insan manusia berlainan jenis kelamin dengan segudang perkataan yang tak mampu mereka utarakan hingga akhirnya mereka dipertemukan oleh takdir.

Pria
Kamu terlalu beku untuk menyadari bahwa banyak orang lain di sekitar kamu yang perduli dengan kamu.
Kamu terlalu dingin untuk mengakui bahwa kamu membutuhkan orang lain
Kamu terlalu sombong untuk meminta bantuan dan pertolongan orang di sekitarmu
Kamu (hanya) terlalu tinggi untuk kuraih
Kalau kamu tidak menurunkan sedikit “hargamu”, aku tidak akan pernah bisa menggapaimu

Wanita
Kamu terlalu keras untuk bisa kutahklukkan
Kamu terlalu padat dikelilingi olah orang banyak untuk menyadari kehadiranku
Kamu terlalu berbeda dengan duniaku yang sempit dan sepi ini
Kamu (hanya) terlalu jauh untuk bisa kujangkau
Kalau kamu tidak mengejar dan menahanku sekarang, aku akan berbalik dan berlalu pergi

Pria
Aku seperti kura-kura
Tampak kuat dengan cangkangnya yang keras
Namun ketika musuh datang
Aku hanya bisa menyembunyikan kepalaku di balik cangkang
Aku tidak sekuat itu
Aku menyadari keberadaanmu
Seperti seorang pemburu buah yang belum masak
Menunggu seperti orang bodoh
Untuk bisa memetikmu
Duniaku kuisi hanya untuk memandangimu
Menunggumu dengan setia
Duniamu.. adalah duniaku
Tak ada jarak selebar sedalam setinggi yang kau pikirkan
Aku disini. Menahanmu. Memintamu. Mengiba padamu. Jangan pergi.

Wanita
Aku layaknya setangkai mawar di tengah bebungaan lain
Tampak terlalu asyik dengan duniaku sendiri
Namun aku bersandiwara!
Karena aku tak mempunyai cukup keberanian
Karena aku tak mau mengantungkan hidupku dengan bantuan pohon besar yang berdiri di belakangku
Karena aku selalu mencoba untuk tegar
Dan mencoba menghadapi semuanya sendirian
Sampai aku melihatmu. Mengamatimu. Mengenalmu.
Jangan memandangku ke atas
Karena aku ada di bawah
Tepat di hadapanmu

Pria
Jangan berpaling lagi
Dadaku dipenuhi kesesakan yang teramat sangat setiap melihatmu mencoba menahan air mata yang telah menggantung di pelupuk matamu
Biarkan aku memelukmu
Menghapus air matamu
Meminjamkan bahuku
Mengelus rambutmu dengan lembut
Dan membisikkan kata-kata yang sedari dulu selalu urung kuucapkan
Kata-kata yang mungkin terdengar murahan dan sering diucapkan
Namun kau harus tahu, kata-kata ini sangat bermakna di hati
“Aku disini untukmu. Menantimu. Berpalinglah. ”
Biar kita hadapi semua perkara bersama-sama
Karena telah banyak waktu kita terbuang percuma

Wanita
Kau disini
Mengajakku pergi dari zona nyamanku
Sesuatu yang sedari dulu aku impikan
Denganmu, segalanya terasa menenangkan
Seakan tak ada hambatan besar yang mampu menghadang kita di luar sana
Kuraih genggaman tanganmu
Dan kusambut sinar cerah mentari yang baru saja merekah
Kutunjukkan senyum terbaikku pada dunia
Karena sekarang pangeran berkuda putihku telah datang menjemputku
Dan aku percaya segalanya akan kami lewati bersama


Malam Tanpa Bintang

Oleh : Cynthia Panda Kwesnady
(Fakultas Ilmu Komunikasi 2010)


Aku memandang lautan langit nun jauh di atas kepalaku
Merasakan betapa kecilnya aku dibandingkan dengan alam semesta
Malam ini..  malam panjang yang penuh dengan kesendirian
Tanpa sadar lamunan membawaku jauh ke awang-awang
Anganku terbang makin jauh makin tinggi terbawa oleh semilir angin
Merasakan betapa besarnya Sang Pencipta
Merasakan betapa dalam kasih-Nya bagi hidup semua anak-Nya
Mengakui keagungan-Nya
Meresapi kebaikan-Nya
Dalam suatu malam tak berbintang

Karya Fotografi Trias Prayogi

Aku Binatang atau Setan?



                                                    Lemon dan Kembarannya




                                                    Sudut Rumah Tua



Karya-karya Trias (Jurnalistik 2009) yang lain dapat dilihat di http://www.flickr.com/yogi2506

Aku Setan atau Binatang?

Dia tersenyum pada saya dan memperkenalkan dirinya. Ia mulai membisikkan namanya, namun saya tidak cukup bisa mendengarnya. Saya abaikan hal itu sebab mungkin sebentar lagi kita tidak akrab.

Lalu ia bisa membuat saya senang dan sangat senang setiap harinya. Kami selalu menghabiskan hari bersama, hanya berdua. Hingga suatu hari saya merasa jengkel selalu diikuti olehnya. Ketika saya mulai memberontak, ia malah memarahi saya dan mulai mengendalikan saya hingga tidak terkontrol. Sampai tiba-tiba ia mati bersama diri saya yang mati dan mengajak saya bermain di Neraka.

Ia adalah setan di dalam diri saya.

Setan yang mengendalikan saya, yang suka mengajak saya bersenang-senang dengan duniawi dan melupakan hubungan vertikal saya. Ia melakukannya dengan sangat hebat, penyamarannya pun sempurna. Saya bingung harus menyalahkan siapa.

Jika diperkenankan reinkarnasi, saya berharap bisa menjadi seseorang yang dapat membunuh teman saya tadi atau menjadi seekor binatang. Sebab, hampir sama dengan yang sebelumnya bahwa saya memiliki tubuh manusia, namun jiwa saya adalah binatang liar. Yang membedakan adalah binatang tidak pernah memikirkan urusan duniawi.

Trias Prayogi
Jurnalistik 2009